Saat itu masih berlangsung jam pelajaran kedua. Di tengah keheningan yang mulai terasa berat karena materi pelajaran yang monoton, tiba-tiba pintu kelas diketuk. Seorang Beta perwakilan dari ruang tata usaha masuk, membawa secarik surat resmi. Pandangannya menyapu seisi kelas sebelum akhirnya berhenti pada bangku Dean.
"Dean Kalani, kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah sekarang," ucap Beta itu dengan nada formal, suaranya sedikit kaku.
Seluruh kelas sontak menoleh. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Dean Kalani? Alpha misterius yang baru masuk itu? Ada apa gerangan sampai dipanggil di tengah jam pelajaran? Dean sendiri hanya mengangkat alis, tidak menunjukkan reaksi lain. Ia menyimpan pocky-nya ke dalam saku, lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Gua ikut!" bisik Brian yang duduk di sebelahnya, matanya berbinar penasaran. Brian memang senang jika mengekori Dean, apalagi jika ada potensi untuk membolos dari pelajaran yang membosankan. Bagi Brian, setiap kesempatan kecil untuk membolos hiburan tersendiri.
Dean hanya melirik Brian sekilas, menghela napas samar tidak menolak. Mereka berdua pun segera melangkah keluar kelas, meninggalkan tatapan penuh tanda tanya dari teman-teman sekelas mereka.
Di ruang kepala sekolah, suasana terasa formal dan sedikit tegang. Kepala sekolah, seorang Beta berwibawa, duduk di belakang mejanya, sementara di sofa depannya, duduk seorang pria paruh baya yang memancarkan aura Alpha yang tenang namun penuh otoritas. Pria itu tampak familiar di mata Brian.
"Om Theo? Om ngapain kesini, Om?" tanya Brian terkejut ketika telah masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Theo Sanders, atau yang dipanggil Brian tadi dengan sebutan Om Theo, adalah pamannya yang bekerja menjadi sekretaris utama pemimpin klan mereka, Klan River Blue. Sangat jarang bisa menjumpai orang penting seperti pamannya di tempat umum, apalagi di lingkungan sekolah. Kenapa pamannya ini bisa duduk di sofa ruang kepala sekolah? Ini pasti ada sesuatu yang serius.
Kepala sekolah berdehem pelan, memecah keheningan. "Ekhm... Jadi saya memanggil kamu ke sini, Dean, adalah untuk menemui Pak Theo. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa mengikuti Pak Theo. Untuk Brian," kepala sekolah menoleh ke Brian dengan tatapan menegur, "saya tidak memanggilmu, jadi kamu harus kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasa."
Theo Sanders tersenyum mengejek tipis pada Brian. "Ayo Tuan Muda Dean," ucap Theo sopan. "Kita akan menuju mansion timur."
Mereka berdua segera meninggalkan lingkungan sekolah. Dean melangkah tenang di samping Theo, sementara Brian mengekor di belakang mereka. Mana mau dirinya mengikuti titah kepala sekolah. Dia juga terlanjur penasaran ada apa hingga pamannya itu menjemput sahabat pucatnya. Ini pasti bukan masalah sepele. Ada firasat buruk yang mulai menjalar di benaknya.
Di dalam mobil mewah yang melaju mulus membelah jalanan kota, Brian tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia duduk di kursi belakang, sementara Dean dan Theo duduk di depan.
"Om Theo?" Brian memecah keheningan. "Apa ada masalah besar hingga Om James manggil Dean ke mansion? Ini kan hari kerja."
Theo menghela napas, menatap Brian dari spion tengah. "Apakah kalian membuat masalah dengan Klan Diamond King?"
Mendengar nama itu, mata Brian membelalak. "Diamond King?! Heh?! Jadi karena ini kita sampai dipanggil ke mansion!" Brian langsung teringat kejadian di sekolah kemarin. "Sebenarnya kami pernah terjebak perkelahian bersama dengan calon penerus Klan Diamond King, si Sean dan kawan-kawannya. Tapi itu murni bukan kami yang memulai. Lagian malah kami yang banyak dirugikan, iya kan, Dean?" Brian menoleh ke Dean, mencari dukungan.
Dean hanya memandang datar ke depan, ke jalanan yang ramai, tanpa reaksi. Brian yang berusaha menjelaskan melihatnya menjadi sebal. Dean memang selalu begitu, membiarkannya bicara sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
LobisomemKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
