Perkenalan Resmi

398 47 9
                                        

Bugh! Bugh! Bugh!

Suara pukulan beradu menggelegar di atas arena berbentuk lingkaran yang megah di Cinnamon Lake. Setiap hempasan tinju terasa seperti gemuruh guntur, menggema di antara bangku-bangku penonton yang penuh sesak. Di bawah langit yang mendung, dua Alpha Superior bertarung habis-habisan, memperebutkan kehormatan klan mereka.

Dean Kalani, si Alpha pucat, terhuyung mundur. Sudut bibir sebelah kanannya nampak tergores, mengeluarkan seuntai darah segar yang mengalir pelan. Ia mengusapnya kasar dengan punggung tangan, tak acuh pada rasa perihnya. Napasnya berhembus keras, terengah, tanda tenaga yang kian menipis. Otot-ototnya terasa pegal, dan setiap gerakannya kini membutuhkan usaha lebih.

Ini memang sudah ia perkirakan. Walau ia pernah membuat pingsan lawannya itu tempo hari, itu disebabkan kelengahan dan ketidaksiapan Sean. Kali ini, ia datang dengan kesiapan dan persiapan yang sangat matang. Alpha Superior dari Klan Diamond King itu telah berlatih keras, mempelajari setiap celah dan kelemahan Dean dari laporan-laporan yang ia kumpulkan. Tak mungkin Sean akan tumbang hanya karena satu pukulan Dean seperti tempo hari. Sean memancarkan aura dominasi yang kuat, setiap pukulannya penuh perhitungan dan kekuatan.

Sorak sorai penonton membelah udara. Mayoritas berasal dari Klan Diamond King dan Klan River Blue, yang mengisi hampir seluruh tribun.

"Wah, ternyata berita tentang Sean yang tumbang karena dipukul oleh Alpha pucat itu tidak benar!" teriak seorang oknum dari Klan Diamond King, suaranya lantang, memprovokasi. "Lihat! Begitu saja, si pucat sebentar lagi nampak tumbang! Ayo Sean, kalahkan Alpha pucat itu cepat! Sean! Sean! Sean! Sean!........."

Teriakan nama Sean menggelora, menjadi chant yang membakar semangat Alpha Diamond King. Dean meludah ke samping, darah yang keluar dari sudut bibirnya itu terasa anyir di lidahnya. Ejekan itu tak mempengaruhinya, tapi ia tahu ini bukan sekadar pertarungan fisik lagi. Ini adalah pertarungan reputasi. Ia lalu mencoba lebih fokus untuk bertarung. Matanya yang dingin kini menyala dengan tekad. Ia akan menggunakan mode penuhnya untuk membalas Sean, menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.

Dengan lincah, seperti bayangan yang sulit ditangkap, Sean menghindari serangan Dean yang bertubi-tubi. Serangan-serangan Dean yang tiba-tiba menjadi lebih cepat dan presisi. Sean sedikit gelagapan menerima serangan penuh itu secara tiba-tiba, namun insting Alpha dominannya sangat membantu, memungkinkannya bereaksi sepersekian detik lebih cepat. Ia menangkis, menghindar, dan membalas dengan akurasi yang mematikan. Namun, Sean merasakan perbedaan. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan biasa di balik setiap pukulan Dean. Aura Dean mulai berubah, menjadi lebih gelap, lebih menekan.

Pertarungan berlanjut, intensitasnya meningkat. Setiap serangan Dean adalah badai yang menguji pertahanan Sean. Setelah serangan yang kelima belas ia tangkis, sebuah flicker energi hitam samar muncul dari Dean. Tanpa disadari Sean, Dean mengeluarkan feromon miliknya secara paksa, sebuah gelombang tekanan yang begitu kuat, begitu pekat, hingga Sean yang berpengalaman pun tercekat sesaat.

Aroma pepohonan yang menyejukkan yang menjadi feromon khas Dean kini bergolak. Bukan lagi sekadar bau hutan yang terbakar seperti saat ia marah, melainkan aroma hutan purba yang dibakar api neraka, sebuah esensi yang begitu kuat hingga terasa menindas, menghantam semua indra. Feromon itu menusuk paru-paru Sean, menyebabkan ia sesak napas, seolah oksigen di sekitarnya menipis drastis. Sean mencengkeram dadanya, terhuyung mundur, matanya terbelalak karena terkejut dan kesakitan.

Bugh! Sebuah pukulan telak mendarat di perutnya, menyebabkan ia tersungkur, batuk darah. Tak hanya itu, Alpha pucat itu segera memukulnya kembali diseluruh penjuru tubuhnya membabi-buta. Pukulan-pukulan itu tepat sasaran, menghantam rahang, rusuk, dan perut Sean. Kekalahan tak dapat dihindari oleh Sean. Dengan satu tendangan terakhir yang kuat di dada, Dean berhasil menjatuhkan Sean, membuatnya terkapar tak berdaya di tengah arena, mata Sean terpejam, kesadaran direnggut paksa. Pertandingan tersebut dimenangkan telak oleh Klan River Blue.

.....

Tidak ada sorakan yang menyertai kemenangan Dean. Seluruh pasang mata terdiam, membeku di tempatnya. Atmosfer di Arena Cinnamon Lake berubah. Bukan hanya karena Sean, calon pemimpin Diamond King, telah kalah telak dalam pertarungan resmi, namun juga karena alasan lain yang jauh lebih mengejutkan.

Dean memang menang, tapi ia kurang hati-hati. Dalam rentetan serangan terakhirnya, saat ia melepaskan kekuatan penuhnya dan feromonnya meledak tak terkendali, lensa mata yang menutupi mata kirinya terlepas. Lensa kontak berwarna cokelat itu tergeletak di samping tubuh Sean yang terkapar, sebuah benda kecil yang membuka rahasia besar.

Kini, mata kuning keemasan Dean, yang selama ini tersembunyi, telah diketahui oleh semua kaum werewolf yang hadir di Arena Cinnamon Lake. Sebuah rahasia yang selama ini dijaga ketat oleh Klan River Blue, kini terkuak di depan mata seluruh klan lain. Bisikan-bisikan segera menyebar, lebih cepat dari sebelumnya. Mata emas. Mata emas.

Sambil terengah, Dean menunduk, menyembunyikan wajahnya. Bukan karena malu atas kemenangan, tapi karena ia tahu, rahasianya telah terbongkar. Aroma feromonnya yang kini kembali sedikit tenang, namun masih kuat, menyelimuti dirinya.

James Dk. Lych, sang pemimpin Klan River Blue, yang selama ini duduk di kursi kehormatan dengan wajah tenang, melihat anaknya menunduk. Ada kilatan kebanggaan, namun juga kekhawatiran di matanya. Ini adalah momen yang ia siapkan, namun juga momen yang ia takuti. Ia segera menghampiri Dean, melangkah cepat menuju tengah arena.

"Dean," panggil James, suaranya tenang, penuh wibawa. Ia meletakkan tangan di pundak Dean, merasakan getaran kekuatan yang masih menguar dari tubuh anaknya. Ia menegarkan Dean agar berdiri tegap, mengangkat wajahnya, memperlihatkan mata kuning keemasan itu kepada semua yang hadir.

James berdiri di samping Dean, menghadap kerumunan yang masih membisu. Ia mengangkat satu tangannya, meminta perhatian. Feromonnya yang kuat menyebar, menuntut keheningan mutlak.

"Para hadirin yang terhormat," suara James menggelegar di seluruh arena, suaranya dipenuhi kebanggaan yang tak terbantahkan. "Dalam kesempatan yang luar biasa ini, saya ingin memperkenalkan seseorang. Ia memang terlahir istimewa." James melirik Dean, senyum tipis terukir di bibirnya. "Menurut ramalan kuno yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam klan kami, mata kuning keemasan itu merupakan tanda bahwa ia 'yang terpilih', Alpha Superior dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya. Dia adalah harapan bagi masa depan klan kita, dan mungkin, masa depan dunia werewolf."

Suasana semakin hening, setiap orang menahan napas, menyerap setiap kata yang diucapkan pemimpin Klan River Blue itu.

"Maka dari itu," James melanjutkan, suaranya meninggi, penuh penekanan, "saya harap kalian semua menerima dan menyambutnya dengan segenap jiwa." James menarik Dean lebih dekat, merangkulnya dengan bangga. "Izinkan saya memperkenalkan kepada kalian semua, secara resmi, penerus Klan River Blue yang sesungguhnya..." Ia berhenti sejenak, membiarkan ketegangan membangun.

"Dean Kalani Lych!"

Teriakan-teriakan bersahut-sahutan seketika berlabuh dari pinggir Cinnamon Lake. Bukan lagi bisikan, melainkan sorakan antusias yang membahana. Mereka sangat gembira, terutama bagi para anggota Klan River Blue yang kini tahu bahwa pemimpin mereka telah menyembunyikan seorang Alpha Superior Terpilih yang begitu kuat. "Dean! Dean! Dean!" nama itu bergema, memenuhi arena. Calon pemimpin mereka adalah Alpha yang diberkati, sebuah anugerah dari Moon Goddess.

Di tengah sorakan yang memekakkan telinga, Sean yang masih terkapar di arena, diangkat oleh anggota gengnya. Meskipun belum sepenuhnya sadar, satu kalimat yang diucapkan James berhasil menembus kegelapan kesadarannya. Nama itu... Dean Kalani Lych. Lych. Marga pemimpin Klan River Blue. Sebuah kenyataan pahit yang kini harus Sean telan, lebih perih dari luka di rahangnya. Dia bukan hanya kalah dari Alpha Superior, tapi dari anak pemimpin klan musuh bebuyutannya. Ini adalah penghinaan yang tak termaafkan.

SOMETHING (UN)NORMALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang