Serigala Asing

729 64 0
                                        

Kerumunan siswa yang tadinya riuh rendah di lorong depan kelas 12, penuh dengan canda tawa dan obrolan khas remaja, mendadak terbelah. Keheningan tiba-tiba merayap, pekat dan mencekam, seolah sebuah kekuatan tak kasat mata telah menarik mereka ke samping, menciptakan jalan setapak di tengah lautan manusia. Mata demi mata, dari Beta yang ingin tahu hingga Omega yang penasaran, semua terpaku pada sesosok Alpha asing yang muncul dari ujung koridor. Ini adalah kali pertama mereka melihatnya.

Dia nampak gagah, tubuhnya tegap menjulang di atas rata-rata siswa lain. Bahunya lebar, menunjukkan kekuatan yang tersimpan di balik seragam sekolahnya. Rambut hitam legamnya kontras tajam dengan warna kulit putih pucatnya, memberinya kesan misterius nan menawan. Tatapannya tajam setajam elang, sorot mata itu sendiri seolah sudah cukup untuk menunjukkan betapa mutlak dominan dirinya. Feromon Alpha yang samar, namun begitu kuat, menguar darinya, membuat sebagian Beta merinding kagum dan beberapa Omega tanpa sadar merendahkan pandangan, merasakan otoritas alaminya.

Bisikan-bisikan mulai berhamburan, nyaris tak terdengar, namun dipenuhi rasa takjub dan syok. "Alpha Superior..." desis seseorang. "Satu-satunya di angkatan ini kan?" timpal yang lain. Selama dua minggu pertama sekolah dibuka, mereka tak pernah melihat Alpha Superior baru di antara para siswa angkatan baru. Kehadiran Dean adalah kejutan, dan juga anomali yang mengguncang asumsi mereka.

Si Alpha yang menjadi pusat perhatian, Dean Kalani Lych, sebenarnya risih setengah mati. Sumpah serapah ia lontarkan dalam hati, menyalahkan teman berkulit tannya—si Brian yang sialan itu—yang mendadak lenyap ke toilet di tengah perjalanan menuju kantin. Meninggalkannya sendirian di tengah kerumunan yang memandangnya seperti makhluk aneh adalah sebuah siksaan pribadi bagi Dean yang tak suka menjadi pusat perhatian.

Dean sendiri tak terlalu paham denah sekolah baru ini. Jadi dia hanya mengandalkan insting dan firasat yang nyaris tak pernah meleset, seperti kompas internal yang selalu menunjuk ke arah yang benar. Benar saja, tak lama kemudian, ia sudah tiba di kantin sekolah tanpa kesulitan berarti, bahkan tanpa perlu bertanya pada siapa pun.

Begitu masuk, hiruk pikuk kantin menyambutnya. Aroma mi ayam, bakso, dan nasi goreng berbaur jadi satu, menciptakan simfoni bau yang menggugah selera. Dean langsung saja menuju konter, mengambil sebotol susu pisang dingin dan sandwich isi tuna kesukaannya. Pikirannya hanya tertuju pada bagaimana mengisi perut kosongnya sesegera mungkin.

Sayangnya, meja-meja kantin hampir penuh sesak oleh siswa yang kelaparan. Tersisa sekitar tiga meja kosong yang tersembunyi di sela-sela keramaian. Dua di antaranya terasa cukup jauh dari posisinya sekarang. Jadi, pilihan terbaik adalah duduk di meja yang paling dekat, sebuah meja di pojok yang agak tersembunyi dari pandangan langsung.

Kantin yang tadinya bising dan gaduh, penuh gelak tawa dan obrolan, seketika hening tanpa suara begitu Dean menyamankan duduknya. Suara denting sendok beradu piring menghilang, digantikan oleh keheningan total yang terasa aneh dan mencekam. Semua mata, tanpa terkecuali, kini terarah padanya. Kali ini, tatapan itu berkali-kali lipat lebih banyak dan intens daripada tatapan siswa yang ia lewati di lorong tadi.

Dean, dengan tak acuh, hanya mengangkat alisnya sedikit. Ia sama sekali tak terpengaruh oleh perhatian yang menguar di sekitarnya, seolah-olah seluruh kantin adalah cangkang kosong yang tak berpenghuni. Merasa tak ada yang salah dengan dirinya, ia kembali fokus pada sandwich dan susu pisangnya, melahapnya dengan tenang hingga tak bersisa.

"Woi!"

Tiba-tiba, sebuah tekanan keras mendarat di pundaknya. Dean tidak tersentak, hanya sedikit bergeser. Ia mendapati ada sekelompok siswa laki-laki yang berdiri mengelilingi mejanya. Di antara mereka, ada Vincenzio Liandouw, atau yang biasa dipanggil Zio, seorang Alpha dengan sorot mata penuh tantangan dan aura yang arogan.

"Pindah gak lu!" ucap Zio, suaranya tak terlalu keras, namun sarat akan ancaman yang jelas. Nada bicaranya cukup mengintimidasi, memberitahu bahwa jika perintahnya tidak dituruti, masalah besar akan datang menghampiri.

Dean hanya melirik sekilas, tatapannya datar dan tanpa ekspresi, lalu kembali asyik mengunyah sepotong pocky yang entah dari mana sudah ada di tangannya. "Males," balasnya singkat, disusul suara renyah pocky rasa strawberry yang ia kunyah. Nada suaranya datar, tanpa emosi, seolah apa yang Zio katakan hanyalah angin lalu yang tak patut digubris.

Entah karena masa bodoh atau memang malas menanggapi, sikap Dean yang tenang dan tak acuh itu berhasil memancing emosi Zio hingga ke ubun-ubun. Rahang Zio mengeras, matanya menyorotkan kemarahan yang membara. Bahkan beberapa siswa terdekat segera pindah dari meja mereka, menghindari pusaran konflik yang mereka tahu akan segera meledak. Mereka sudah hafal betul tabiat Zio dan antek-anteknya.

"Wah cari masalah—" Zio baru saja akan melayangkan tangannya, siap untuk memberi pelajaran pada Alpha asing yang berani-beraninya mengabaikannya, ketika sebuah interupsi datang secara tak terduga.

"Sorry Bang Zio, ini temen gua emang rada-rada. Maap ye bang, kita pergi dulu soalnya mau garap tugas. Misi......" potong Brian, sang Alpha berkulit tan (baca : eksotis) itu, muncul entah dari mana. Dengan sigap, Brian menarik lengan Dean, menyeretnya menjauh dari meja itu, bahkan sebelum Dean sempat bereaksi.

Mau tak mau, Dean hanya pasrah diseret paksa oleh sahabatnya itu. Ia tak melawan, toh makannya sudah habis, minumannya juga sudah tandas. Perhatian Dean kini lebih terfokus pada rasa stroberi dari pocky yang masih ia kunyah. Ia tak peduli dengan Zio yang ditinggalkan sendirian.

Di sisi lain, Zio dan teman-temannya yang ditinggalkan tampak tak percaya dengan perlakuan dua siswa yang kabur begitu saja dari hadapan mereka. Rasa dipermalukan dan marah membara di dada Zio. Ia lantas memandang sang ketua kelompok, seorang Alpha Superior dengan aura tenang namun berbahaya, yang baru saja duduk di bangku bekas si Alpha pucat.

"Sean, lu liat barusan kan? Wah ada yang berani ama kita dah," gerutu Zio, emosinya masih memuncak, mencari dukungan dari sang pemimpin.

Sean Anderson, Alpha Superior dari klan Diamond King, hanya menyesap kopinya perlahan. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah pintu kantin, seolah pikirannya melayang jauh. "Kalo lu mau, lu boleh kasih 'pelajaran'. Tapi inget ama batesannya," balas Sean dengan tenang, suaranya rendah dan terkontrol, nyaris tanpa emosi. Ada peringatan tersirat di balik kalimatnya yang datar itu.

Zio yang sudah diberi lampu hijau untuk melakukan kesenangannya pun nampak bersmirk. Sebuah seringai kejam terukir di wajahnya. Sedangkan teman-temannya hanya melihat dan tak berkomentar. Hal ini bukan sebuah hal baru bagi mereka. Mereka tahu, saat Sean memberi izin, itu berarti Zio bebas bergerak, selama tidak melewati batas yang telah ditetapkan.

'Awas aja lu bocah tengik,' pikir Zio dalam hati, matanya menyala penuh ancaman. Dia sudah tak sabar menunggu kesempatan untuk memberi pelajaran pada Alpha asing yang berani-beraninya mengabaikannya. Ini adalah awal dari sebuah pertarungan, entah itu duel fisik, atau hanya perang dingin yang akan menguji siapa yang lebih dominan. Kantin yang bising itu kembali ramai, namun bagi Dean dan Sean, sebuah benang takdir sudah mulai terurai, siap menjerat mereka dalam konflik yang lebih dalam.

SOMETHING (UN)NORMALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang