Pagi itu, aroma samar sisa hujan semalam masih menempel di udara, membawa sedikit kesejukan. Di dalam koridor-koridor sekolah, aktivitas kembali menggeliat, namun tidak sepadat saat jam istirahat utama. Besoknya, ketika jam pelajaran kosong, Dean dan Brian memilih untuk menghabiskan waktu di kantin. Mumpung sepi dan lengang, tak banyak siswa yang berkeliaran. Beberapa kursi kosong berjejer rapi, kontras dengan keramaian yang biasanya meledak di jam makan siang.
Akhir-akhir ini memang mereka jarang ke kantin, terutama untuk Dean. Sejak insiden di kantin yang berakhir dengan pukulan telak dan pingsannya Sean, waktu istirahat Dean lebih sering habis untuk meladeni berbagai "usilan" Sean dan gengnya. Ini berarti Dean seringkali melewatkan makan siangnya, atau hanya sempat melahap sebatang dua batang pocky sebelum harus kembali berhadapan dengan masalah. Brian, sebagai satu-satunya orang yang peduli pada kebiasaan makan Dean, sangat menyadari hal ini.
Brian memandang Dean yang sedang mengunyah sandwich dengan tatapan menyelidik. Ada kerutan samar di dahinya, ekspresinya penuh kekhawatiran yang tulus. "Anw, Dean, lu sekarang kek lebih kurusan dah," ucap Brian, nadanya terdengar jelas. Ia menatap lekat tubuh Dean, yang memang terlihat sedikit lebih ramping dari biasanya. "Apa gegara sebulan ini lu digangguin ama Bang Sean ya? Kan lu jadi ga bisa makan siang atau jajan gitu, bah. Gua perhatiin lu makin kurus aja." Brian menunjuk dengan dagunya, seolah memerintahkan Dean untuk mengobservasi dirinya sendiri.
Dean yang mendengar ucapan sahabatnya hanya mengangkat sebelah alisnya, menunjukkan ketidakpedulian yang khas. Ia kembali memakan _sandwich_nya, seolah itu adalah hal terpenting di dunia, lebih menarik dari kekhawatiran Brian. Aroma sejuknya pepohonan yang samar dari feromonnya tetap stabil, tak menunjukkan gejolak emosi apa pun.
"Tapi lu tetep makan banyak aja emang kurus sih," Brian melanjutkan. Ia tahu Dean tidak akan pernah mengakui bahwa ia terpengaruh. "Pokoknya kali ini lu kudu makan banyak. Gua kaga terima penolakan, mumpung sepi juga ini. Ini kesempatan emas buat lu ngisi perut, Dean! Nanti kalau Bang Sean ganggu lagi, lu ada tenaga buat kabur kek!"
Brian lantas saja bangkit dari tempat duduknya, menuju konter makanan untuk memesan beberapa menu berat. Walaupun petakilan dan kadang cerewet, sahabat Alpha pucat ini sangat perhatian pada Dean, lebih dari siapa pun yang pernah Dean kenal. Ia bahkan tak segan-segan mengorbankan waktu santainya untuk memastikan Dean makan. Dean hanya pasrah, menghela napas pelan. Lagipula, tak ada salahnya memperbaiki gizi. Ia berpikir dalam hati, semoga saja lambung kecilnya muat menampung semua makanan yang akan dibawa Brian, yang sepertinya akan berlebihan.
Brian kembali dengan nampan penuh, meletakkan sepiring nasi goreng porsi jumbo, semangkuk bakso, dan dua botol susu pisang di hadapan Dean. "Nih! Jangan macem-macem ya, ini semua harus abis!" Brian menunjuk makanan itu dengan sendok, matanya mengancam. Dean hanya meliriknya sebentar, lalu mulai makan dengan ritme konstan, tak terburu-buru, tak juga terlalu lambat.
Di tengah asiknya mereka makan, tawa Brian tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak sedikit, dan raut wajahnya berubah canggung. Seorang gadis Omega menghampiri meja mereka. Brian gelagapan, ia mengenalinya dengan sangat baik. Itu Inami. Wajahnya langsung memerah samar. Seingat dirinya, seniornya itu menghindari mereka setelah sahabat pucatnya menolak ajakan pacaran tempo hari. Brian bahkan sudah mengira Inami akan membenci Dean selamanya, atau setidaknya menghindar sejauh mungkin. Tapi dari raut wajahnya, gadis Omega itu seperti berseri-seri, senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah aura lembut dan aroma manis buah peach dan permen karet memikat, langsung menguar darinya, membuat suasana kantin yang tadinya sepi terasa sedikit lebih hangat dan cerah.
"Hai Dean, Brian," sapa Inami ramah, suaranya lembut dan menenangkan, seolah tak ada beban di hatinya. Ia berdiri di samping meja mereka, pandangannya beralih dari Brian ke Dean, yang tetap makan dengan tenang. "Aku boleh kan duduk bersama kalian?"
Brian tergagap, menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk kaku, berusaha mengeluarkan suara namun hanya yang keluar hanyalah deheman gugup. "E-eh, iya Kak, silakan!" Ia bahkan sedikit bergeser, memberi ruang lebih banyak, padahal bangku di sebelahnya masih kosong melompong. Ia tak menyangka Inami akan berani mendekati mereka lagi, apalagi setelah insiden penolakan yang cukup memalukan itu.
"Kak Inami tumben? Euh....." Brian mendadak grogi berbicara dengan senior cantiknya itu. Ia bahkan tidak bisa menyambung kata-katanya, otaknya mendadak blank dan error. Keringat dingin mulai membasahi dahinya lagi, meskipun bukan karena kelelahan membersihkan toilet. Tapi Inami nampaknya paham akan kegugupan Brian. Ini memang sedikit canggung, terutama bagi Brian yang terlihat jelas salah tingkah.
Inami terkekeh pelan, senyumnya semakin lebar, menambahkan pesona pada wajahnya. "Maksudmu setelah kejadian tempo hari?" tanyanya, matanya menatap Brian, lalu beralih ke Dean yang masih tenang mengunyah, tak terganggu sedikit pun. "Ya, itu memang cukup memalukan untukku." Ia menghela napas ringan, seolah melepaskan beban. "Aku sempat berpikir untuk menghindar dari kalian. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, walaupun aku ditolak," Inami menatap Dean dengan tatapan tulus, "tak apa kan jika kita tetap berteman? Lagipula," Inami melirik Dean lagi, ada sedikit kekhawatiran di matanya, "setelah aku tahu bahwa karena hal itu, Dean menjadi target sasaran Sean dan gengnya, aku jadi merasa bersalah. Ini semua bermula karena aku menyatakan perasaanku."
Wajah Inami menunjukkan penyesalan yang samar, seolah ia benar-benar bertanggung jawab atas masalah yang menimpa Dean. "Aku pikir jika aku bersama kalian, dia tak akan berani menyentuh Dean lagi, atau setidaknya akan berpikir dua kali. Sean tidak akan mungkin berani membuat keributan di depan seorang Omega, apalagi aku. Jadi, bisa kan kita berteman?" tanyanya sambil melirik Dean dan Brian bergantian, menunggu jawaban. Sebuah permohonan tulus tersirat di nada suaranya.
Brian yang mendengar itu melebarkan mata lalu sumringah. Wajahnya langsung cerah, seolah baru saja memenangkan lotre hadiah utama. Beruntung sekali dirinya diajak berteman dengan gadis Omega tercantik di sekolah ini, yang selama ini menjadi idola banyak siswa. Ini adalah sebuah kehormatan!
"Ini beneran, Kak?!" seru Brian, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, penuh kegembiraan yang meluap-luap. "Mana mungkin kita nolak buat ga temenan sama Omega cantik seperti kakak! Malah jadi kehormatan buat kita, Kak! Iya kan, Dean?!" ucap Brian lalu menyenggol bahu Dean dengan keras, memaksanya untuk ikut bicara.
Dean, yang selama ini hanya menjadi pendengar pasif, menikmati sandwichnya tanpa ekspresi, akhirnya mengangkat pandangannya dari makanannya. Ia menatap Inami sesekali, pandangannya dingin namun tidak menunjukkan penolakan. Lalu, ia kembali fokus pada makanannya. "Hmm, ya," balas Dean singkat, seolah itu adalah jawaban paling logis di dunia, tak perlu penjelasan lebih lanjut.
Inami yang mendengar jawaban kedua adik kelasnya senang. Senyumnya semakin manis, melegakan. Tak menjadi pasangan tak apa, berteman oke juga. Lagipula dirinya juga tidak tahu apakah Dean mempunyai fated mate atau tidak seperti dirinya. So, untuk saat ini berteman adalah jalan terbaik, bukan? Sebuah awal yang baru, mungkin saja persahabatan ini akan membawa perubahan yang tak terduga, atau setidaknya, memberikan perlindungan bagi Dean dari gangguan Sean. Ketiganya melanjutkan makan di tengah kantin yang lengang, sebuah ikatan baru mulai terjalin di bawah tatapan penasaran beberapa siswa yang sesekali melintas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
WerewolfKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
