Kabar tentang Dean yang mengamuk dan berhasil membuat Sean, Alpha Superior sekaligus pemimpin Klan Diamond King, pingsan dalam satu pukulan, segera saja tersebar bagai api liar. Hanya dalam beberapa menit, desas-desus itu merayap dari satu bibir ke bibir lain. Walaupun tempat mereka berkelahi ada di daerah belakang sekolah yang biasanya sepi, tak dipungkiri tetap ada beberapa siswa yang penasaran, atau mungkin hanya kebetulan lewat, yang menjadi saksi bisu insiden mengejutkan itu.
Karena itu, Brian, dengan napas terburu-buru dan wajah panik, segera menuju rooftop sekolah. Dia tahu Dean pasti akan melarikan diri ke sana, tempat paling sepi di sekolah yang menjadi "markas" pribadi mereka berdua. Insting Brian mengatakan sahabatnya butuh ditenangkan setelah pelepasan feromon yang begitu dahsyat tadi.
Benar saja, begitu sampai di rooftop, ia melihat sahabatnya itu tengah memejamkan mata, membelakangi pagar rooftop yang tinggi. Tubuhnya sedikit bergetar, dan feromon pepohonan yang terbakar masih menguar samar, meskipun sudah mereda jauh dibandingkan beberapa menit lalu. Brian yang paham betul gelagat Dean dalam kondisi emosi, langsung saja menyumpalkan sebatang pocky rasa stroberi ke dalam mulut Dean. Ia memang sengaja selalu membawa camilan favorit Dean itu untuk berjaga-jaga, sebagai "penawar" ampuh saat Dean mulai lepas kendali.
Tak lama, napas Dean yang tadinya memburu dan berat, perlahan mereda. Feromon yang tadinya menyesakkan napas mulai berganti, kembali menjadi aroma pepohonan yang menyejukkan yang khas, meskipun masih sedikit keruh. Si Alpha pucat itu juga langsung mengambil alih kotak pocky dari tangan Brian, menggenggamnya erat, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di dunia nyata. Brian menghela napas lega, pundaknya merosot lega. Ia hanya akan menemani sahabatnya itu dalam diam, tahu betul Dean butuh waktu untuk menenangkan diri. Langit mendung seolah ikut merasakan ketenangan yang perlahan kembali menyelimuti rooftop itu.
Di unit kesehatan sekolah, Alpha dari Klan Diamond King masih terbaring di atas ranjang. Sean, yang biasanya penuh vitalitas, kini masih nampak terkapar pingsan. Sebuah kompres dingin menempel di rahangnya yang memar. Nampak belum ada tanda-tanda ia akan sadar segera, yang menambah kecemasan para anggota gengnya.
Andy, Dion, dan Skylar yang menunggui terus saja bertanya kepada Jeffrey mengenai keadaan si ketua. Jeffrey yang tadinya juga panik saat Sean pingsan, kini hanya menatap datar orang yang tengah terbaring, rahangnya mengeras. Ia jadi memikirkan, sekuat apa Alpha pucat itu memukul Sean dalam sekali pukul, sampai Alpha Superior sekaliber Sean bisa terkapar tak sadarkan diri. Otaknya berputar, menganalisis kekuatan dan jenis luka yang dialami Sean.
Melihat Jeffrey yang termenung dalam keheningan, Dion merasa diabaikan. Kesabarannya menipis. Akhirnya ia menampar pelan pundak Jeffrey untuk menyadarkan temannya itu.
"Jef, lu ngelamun apa dah? Kaga kesambet kan?" Dion menggerutu, terdengar sedikit kesal. "Sean gimana nih, masa dia pingsan tapi lu malah kesurupan. Kan ga banget!" timpal Andy, juga khawatir.
"Elah, kaga napa-napa gua," balas Jeffrey, sedikit terkejut dan mengusap pundaknya. "Ngapa juga lu, Yon, geplak gua kenceng? Mayan sakit ini." Jeffrey menatap kedua temannya dengan sangsi. "Dah ga usah panik ma ribut, Sean cuma pingsan biasa itu. Ntar juga bangun ndiri. Luka-lukanya juga ga parah banget kok, cuma kaget aja kayaknya."
"Ga biasa itu, bah!" Dion langsung membantah. "Sean kan kaga pernah pingsan. Palagi gegara ditonjok pake tangan. Tumben bener dah tuh ketua kita bisa ampe tepar. Tapi tadi emang serem sih. Lu kaga liat sih, Jef, gimana si pucet itu nge-tonjoknya!"
"Berarti itu beneran cuma kena tonjok, Sean jadi pingsan?" Jeffrey mengernyit, matanya membesar tak percaya. "Mantep banget, bah! Gila!"
"Iye bener, kan, Dy?" Dion menoleh ke Andy, mencari dukungan. "Lu kan yang paling deket posisinya ama mereka berdua pas adu bogem. Gua yang posisinya sepuluh meteran ae kek sesek gegara feromon si pucet tadi. Gila, napas gua nyaris putus!"
"Wah, lu mending, Yon, lah gua sama Skylar cuma dua meteran!" Andy menggebu, matanya terbelalak. "Lu sesek lah gua apa? Bengek lah! Gila. Belom pernah gua ketemu sama yang model begituan. Gua kira cupu, lah ga taunya ternyata suhu, bro. Kek Monster!" ucap Skylar menambahkan, masih terbawa suasana ngeri.
Jeffrey tadi memang tidak ikut dalam pengeroyokan yang tidak jadi itu. Ia ditarik dan dipanggil ke ruang kepala sekolah karena ada urusan mendadak terkait persiapan perlombaan olimpiade. Ia memang dikenal sebagai Alpha yang pintar dan sering mewakili sekolah dalam berbagai ajang kompetisi. Jadi, ketika ia kembali dari ruang kepala sekolah, Sean sudah terkapar dan teman-temannya sedang diliputi kepanikan.
Tak lama setelah percakapan random dan heboh yang mereka teruskan—membuat suasana unit kesehatan yang seharusnya tenang jadi sedikit gaduh—nampak gegak-gerik Sean yang mulai sadar. Ia mengerang pelan, perlahan membuka matanya. Tangan kanannya terangkat, memegang pipi sebelah kirinya yang berdenyut hebat.
"Auuh..." ringisnya, suaranya parau. "Gua di mana dah, duh mana nyut-nyut bener rahang gua." Matanya mengerjap, berusaha fokus.
Tiga Alpha yang menunggui ketuanya saling memandang, lalu bertukar pandang penuh makna. Setelahnya, terdengar helaan napas dari Dion, yang mengambil inisiatif untuk menjelaskan.
"Itu, bah, lu lagi di UKS," jelas Dion hati-hati, suaranya sedikit canggung. "Tadi soalnya lu pingsan abis kena tonjok. So, kita bawa lu kesini sekalian manggil Jeffrey buat nanganin lu kalo ada masalah serius."
Sean yang mendengar penjelasan temannya termenung. Ada yang janggal. Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi, tapi ingatannya masih sedikit kabur. Mengerti gelagat Sean yang tengah berpikir keras dan bingung, Jeffrey mencoba meneruskan penjelasan Dion.
"Jadi, pas gua lagi di ruang kepala sekolah," mulai Jeffrey, "Kan lu pada biasa tuh 'maen' ama si pucat di belakang sekolah. Kata mereka berdua, pas lu abis ngebuang isi tas dia, si pucet tiba-tiba kalap bales nonjok lu ampe elunya pingsan, bah. Seriusan, cuma sekali tonjok."
"Sialan!" desis Sean, matanya menyala penuh amarah saat ingatan mengenai kejadian memalukannya itu kembali sepenuhnya. Ia tak percaya dirinya bisa dipukuli sampai pingsan. Harga dirinya tercabik-cabik.
"Tapi, Sean," timpal Skylar, nada suaranya penuh kebingungan yang nyata. "Gua masih kaga percaya dah lu bisa kalah ama si pucet. Secara ye kan, lu Alpha nomor satu di kalangan kita. Mana ada yang bisa nandingin lu selama ini. Lo itu Alpha Superior terkuat di sini!"
"Lah, bener, Jef, sumpah gua juga kaget ama kejadian tadi!" balas Andy yang juga dibenarkan oleh Dion, mengangguk-angguk setuju. Mereka bertiga masih terheran-heran, tak bisa mencerna bagaimana Sean bisa kalah semudah itu.
Mereka bertiga yang terlampau asyik saling menimpali dan mengungkapkan kebingungan mereka tidak terlalu menyadari perubahan atmosfer di ruangan itu. Hawa dingin mulai merayap, dan feromon amarah si ketua yang kuat, penuh dengan dominasi dan ancaman, mulai menguar. Sean yang biasanya tenang, kini memancarkan aura gelap yang mencekam. Seketika mereka terdiam, merasakan tekanan itu.
"Cari tahu semua tentang si pucet sialan yang udah bikin malu gua," ucap Sean dengan penuh penekanan, suaranya rendah dan menusuk. Matanya yang tajam memancarkan dendam. "Semuanya. Nama lengkap, klan, asal-usul, kenapa dia bisa sekuat itu! Kenapa dia tampak berkali-kali lipat lebih kuat dari pada sesama Alpha Superior seperti gue?!"
Ketiga Alpha itu langsung mengangguk patuh, merasakan urgensi dari perintah Sean. Mereka tahu, ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja atau persaingan biasa. Ini adalah urusan pribadi bagi Sean, yang egonya telah terinjak-injak di depan umum. Sebuah misi berbahaya baru saja dimulai. Dan mereka tak punya pilihan selain mematuhinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
WilkołakiKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
