Benar saja, hari-hari setelah kejadian pernyataan cinta yang berakhir pahit itu menjadi langit yang kelabu bagi si Alpha putih pucat. Anggap saja ia telah menjadi target mainan utama Sean Anderson dan teman se-gengnya dari Klan Diamond King. Serangkaian insiden "kecil" namun menjengkelkan mulai menghantui Dean. Mulai dari bajunya yang tiba-tiba ditumpahi minuman berwarna saat ia lewat, buku tugasnya yang dicuri hingga ia harus membersihkan toilet sekolah sebagai hukuman, ban motornya yang tiba-tiba gembes di parkiran, hingga pukulan-pukulan yang diterima ketika berpapasan dengan anggota geng itu di lorong-lorong sepi.
Dean hanya menerimanya. Ia tak berniat membalas, bahkan tak ada perubahan sedikit pun di wajah datarnya. Ia merasa malas menanggapi, berpikir bahwa reaksi apa pun dari pihaknya hanya akan semakin menarik minat Sean dan teman-temannya untuk semakin mengusilinya. Dalam benaknya yang sederhana, ia berpikir jika dibiarkan, lama kelamaan mereka akan bosan dan berhenti dengan sendirinya. Seperti anak-anak kecil yang mainannya tak merespons.
Dan ya, apa yang dipikirkan Dean hampir benar. Sean sudah mulai jengah dengan tanggapan tak acuh si Alpha pucat. Rasa puas yang ia inginkan, melihat Dean tersiksa atau setidaknya menunjukkan ekspresi kesal, tak kunjung datang. Tak bisa dipungkiri, dirinya ingin melihat targetnya itu hancur, bukan hanya acuh tak acuh seperti ini. Sikap Dean yang seperti patung tanpa emosi justru melukai egonya yang besar.
Oleh karena itu, Sean, dengan rencana yang lebih matang, kembali mencoba memancing reaksi Dean dengan "usilan" yang lebih ekstrem. Kalau biasanya ia hanya memukul Dean lalu pergi, kini ia sudah menyiapkan sesuatu yang pastinya akan menyenangkan.
Siang itu, Dean sedang berjalan santai sendirian di area belakang sekolah, menuju ke parkiran. Sebuah lokasi yang biasanya ramai namun kini sepi seolah mendukung kegiatan sekumpulan Alpha Diamond King. Kali ini Sean dan tiga anggota gengnya sudah menunggunya.
"Woi, bocah! Mau ke mana lu?" teriak Sean, suaranya dipenuhi arogansi.
Dean berhenti, menatap mereka datar. Ia sudah terbiasa dengan interaksi seperti ini.
"Gua masih ga terima ya lu bikin nangis Inami," ucap Sean, melangkah mendekat. Nada suaranya rendah, penuh ancaman. "Sampe kapan pun gua ga akan puas buat ganggu lu. Sampai lu tahu rasa!"
Tanpa aba-aba, Sean melayangkan pukulan. Bugh! Sebuah tinju mendarat telak di rahang Dean, diikuti oleh Bugh! lainnya di pelipis, lalu sebuah pukulan keras ke perut. Dean hanya sedikit terhuyung, tapi tetap berdiri tegak, tak menunjukkan rasa sakit, hanya menyeka darah samar yang kembali merembes dari sudut bibirnya.
Sean tersenyum sinis, merasa puas dengan pukulan yang ia yakini menyakitkan itu. Ia lantas memberi isyarat kepada Andy. Andy segera mengambil tas punggung Dean yang tergeletak di tanah. Dibukanya ritsleting tas itu dengan kasar, lalu ia balikkan posisi tas hingga isi di dalamnya tumpah ruah ke dalam bak sampah kumuh yang ada di dekat situ. Buku, alat tulis, dan beberapa bungkus makanan ringan berhamburan.
Empat buah kotak pocky, yang selalu menjadi penyelamat Dean di kala bosan, nampak terjatuh. Namun sialnya, mereka tidak langsung masuk ke dalam bak sampah, melainkan mengenai pinggiran bak sampah hingga terlempar dan mendarat di tanah kotor di sampingnya.
Sean, dengan tawa renyah yang penuh kemenangan, tanpa babibu menginjak kotak-kotak pocky itu. Kakinya menginjaknya berulang kali, menghancurkan kemasan dan isi di dalamnya, memastikan tak ada satu pun yang tersisa. "Mampus lu! Rasain! Jangan harap lu bisa makan pocky lagi hari ini!" ucap Sean, tertawa puas.
Dean yang tadinya masih tak acuh, yang tak bergeming sedikit pun saat tubuhnya dihajar, yang tak peduli saat buku-bukunya dilemparkan, seketika matanya melebar melihat bungkus pocky miliknya diinjak oleh kakak kelasnya itu. Ada sesuatu yang pecah di dalam diri Dean. Pocky bukan hanya sekadar makanan ringan, itu adalah satu-satunya hal yang secara konsisten memberinya ketenangan, pelampasan dari dunia yang baginya 'kelabu'.
Seketika, amarahnya memuncak. Gelombang feromon Alpha Superior yang dingin namun mematikan, yang biasanya Dean segel rapat-rapat, kini menguar tanpa kendali. Feromonnya, yang seharusnya beraroma pepohonan yang menyejukkan dan menenangkan bagi kebanyakan orang, kini berubah. Karena lepas kendali dan emosi yang membara, aroma itu menjadi seperti pepohonan yang terbakar, menyesakkan dan pahit, menusuk indra penciuman setiap Alpha di sana. Aroma itu sangat pekat hingga udara terasa tipis, membuat sulit bernapas.
Sean yang masih tertawa bahagia setelah membuang barang-barang Dean dan menginjak pocky miliknya, tak menyadari apa yang akan datang.
Bugh!
Satu pukulan kuat Dean yang mendadak, secepat kilat, menghantam rahang Sean. Pukulan itu bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga energi Alpha Superior yang mengalir deras dalam dirinya, melepaskan semua kemarahan yang terpendam. Sean, dengan senyum puas yang masih terukir di wajahnya, langsung pingsan seketika, tubuhnya terkapar tak berdaya di tanah kotor.
Seluruh anggota geng dari Klan Diamond King itu terdiam kaku di tempat mereka. Mereka sesak napas, lutut mereka nyaris goyah, karena feromon si Alpha pucat menguar memenuhi seluruh lokasi belakang sekolah. Aura dominan Dean kini jauh melampaui apa yang pernah mereka rasakan dari Sean. Mereka yang sesama Alpha pun tak berani berkutik sedikit pun, terlalu terintimidasi oleh tekanan tak terlihat itu.
Dean hanya menatap dingin tubuh Sean yang terkapar, tak ada penyesalan di matanya. Ia lalu berbalik, melangkah pergi menaiki motornya dan meninggalkan area parker belakang sekolah yang kini diselimuti aura menakutkan itu.
Barulah setelah Dean benar-benar menghilang dari pandangan, feromonnya sedikit mereda. Dengan napas terengah-engah dan tubuh yang masih gemetar, mereka berani membawa sang ketua yang pingsan ke unit kesehatan sekolah.
Mereka tak menyangka dan tak pernah membayangkan bahwa Dean, Alpha yang terlihat santai dan tak acuh itu, dapat mengalahkan ketua mereka, Sean Anderson, yang merupakan Alpha Superior paling kuat, hanya dalam sekali pukulan. Para Alpha Klan Diamond King itu pun bertanya-tanya, bingung dan ketakutan. Kenapa Dean tampak berkali-kali lipat lebih kuat dari pada sesama Alpha Superior seperti Sean? Feromonnya saja bisa membuat mereka sesak napas dan nyaris lumpuh. Siapakah sebenarnya gerangan si Alpha pucat itu? Sebuah misteri baru yang jauh lebih menakutkan kini muncul di tengah mereka. Konflik ini baru saja memanas ke tingkat yang tak terbayangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
WerewolfKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
