Menghadap Pemimpin Diamond King

248 36 0
                                        

Pagi itu, meskipun cahaya matahari menembus jendela kaca, aura dingin dan mencekam justru menyelimuti sebuah mansion megah yang berdiri kokoh, berbalut arsitektur klasik yang mewah. Sean Anderson, Alpha Superior yang gagah perkasa, tiba di gerbang utama. Mobil mewahnya meluncur mulus melewati gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, diikuti oleh tatapan hormat dari para pengawal dan pelayan yang berjejer rapi.

Begitu ia melangkah keluar dari mobil, mengenakan setelan jas formal berwarna gelap yang sempurna membungkus tubuh atletisnya, para pelayan segera membungkuk serentak. Kepala pelayan, seorang pria paruh baya dengan rambut yang memutih dan ekspresi tenang, segera mendekat.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," ucap kepala pelayan dengan suara sopan, nadanya formal namun tersirat sedikit keprihatinan. "Anda sudah ditunggu di ruang kerja Tuan Besar. Mari saya antar."

Sean hanya mengangguk tipis, rahangnya sedikit mengeras. Meskipun penampilannya nampak sempurna, ada bulir-bulir keringat dingin yang samar mengalir di punggungnya, sebuah pertanda kegugupan yang langka bagi seorang Alpha Superior. Ia menelan ludah, mengingat apa yang terakhir kali terjadi ketika ia ada di mansion utama ini. Pertemuan terakhirnya dengan sang ayah selalu berakhir dengan konsekuensi berat jika ia melakukan kesalahan. Ia berharap ayahnya tidak marah besar karena dirinya telah terjerat masalah yang memalukan klan. Sebuah harapan tipis yang Sean tahu, mungkin tidak akan terpenuhi.

Langkah kaki Sean terdengar mantap di lantai marmer yang mengilap, namun di dalam dirinya, jantungnya berdegup tak karuan. Setiap langkah mendekati ruang kerja ayahnya terasa seperti langkah menuju arena hukuman.

Pintu ganda dengan ukiran kayu khas klan Diamond King yang rumit dan artistik itu perlahan dibuka oleh kepala pelayan. Aroma kayu cendana dan buku-buku tua yang khas langsung menyambut. Sean melangkah masuk. Ayahnya, Tuan Anderson, nampak duduk membelakangi pintu masuk, siluetnya terlihat kokoh di balik meja kerja yang besar. Sean bisa merasakan aura dominan ayahnya, sebuah tekanan yang bahkan membuatnya, seorang Alpha Superior, merasa kecil.

Sean berjalan pelan, langkahnya memecah keheningan ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan meja sang ayah. Seketika, pria tua itu berbalik, kursinya berputar mulus. Wajahnya yang tegas, dengan garis-garis keriput yang menandakan pengalaman dan kekuasaan, kini menatap Sean dengan tajam, menusuk. Tidak ada kehangatan, hanya kekecewaan yang membeku.

"Sean Anderson." Suara Tuan Anderson menggelegar, rendah namun penuh otoritas, seolah setiap suku kata adalah cambuk. "Kamu tahu apa yang salah?"

Sean menunduk, matanya terpaku pada sepatu mengkilapnya. Ia ragu untuk menjawab, mencari kata-kata yang tepat untuk mengurangi amarah ayahnya. Bau feromon amarah Tuan Anderson menguar tipis, membuat udara terasa lebih berat.

"Aku ulangi," suara Tuan Anderson kembali menusuk, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, mengancam. "Kamu tahu apa yang salah?!"

Sambil menelan ludah yang terasa berat, Sean berucap lirih. "Ya, Ayah."

"Bagus." Suara itu kembali datar, namun justru itu yang membuat Sean semakin tegang. "Ayah harap kamu tidak mencemari lebih banyak nama baik klan kita, Klan Diamond King. Klan kita bukan sembarang klan. Kita adalah salah satu klan terkuat, dan selama berabad-abad, kita selalu berada di puncak!" Wajah Tuan Anderson semakin mengeras. "Dan kamu, Sean. Kamu adalah penerus ayah, pemimpin Klan Diamond King masa depan. Jangan hanya karena masalah sepele kamu mencemari nama klan kita." Setiap kata adalah pukulan, menghantam ego Sean.

"Maaf, Ayah," balas Sean lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia jadi lebih was-was mengenai hukuman apa yang akan ia terima. Hukuman dari ayahnya selalu berat, kadang berupa pengasingan, kadang pembatasan, yang semuanya terasa seperti neraka bagi Sean. Jika diasingkan lagi, mana mau dirinya. Ia sudah merasakan bagaimana tertekannya hidup tanpa kekuasaan dan pengakuan.

Feromon dominan Tuan Anderson semakin kuat, menekan Sean hingga ia merasakan lututnya sedikit gemetar. Ini adalah teknik yang biasa ayahnya gunakan untuk menunjukkan kekuasaan mutlaknya. Sean tak bisa menahan diri. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk meredakan amarah ayahnya.

"A-Ayah........" Sean tergagap, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menjatuhkan diri, bersimpuh dengan satu kakinya di lantai yang dingin, sebuah gestur penghormatan dan permohonan yang putus asa. "Sean mohon jangan hukum Sean. Sean janji tak akan mengulanginya lagi. Tolong, Ayah!"

Tuan Anderson menatap putranya yang bersimpuh dengan tatapan dingin. Tidak ada tanda-tanda kelembutan. "Kamu menolak melaksanakan hukuman yang memang sepantasnya kamu terima?!" Suaranya penuh kemarahan. "Itu adalah konsekuensi atas tindakan cerobohmu yang mempermalukan klan kita. Apa kamu lupa siapa kamu, Sean? Ayah mendengar jika kamu kalah dari seorang Alpha Superior dari Klan River Blue. Kalah dari sesama Alpha Superior? Apa itu masuk akal, Sean?! Harga diri kita dipertaruhkan! Bagaimana bisa calon pemimpin Diamond King kalah di depan umum?!"

Wajah Sean memerah, bukan hanya karena amarah ayahnya, tapi juga karena rasa malu. "Ma-maaf Ayah. Itu karena aku tidak tahu dia akan memukulku. Itu tiba-tiba. Jadi aku lengah dan tanpa sadar membiarkan Alpha pucat itu mempermalukanku." Otak Sean berputar cepat, mencari alasan, mencari jalan keluar. Sebuah ide gila melintas di benaknya. "Ah, aku yakin jika aku tak akan kalah jika kami bertanding secara resmi. Iya! Bertanding secara resmi! Pasti aku akan mengalahkannya dan Ayah tidak akan malu lagi. Klan River Blue yang akan menanggung kekalahan dan hal memalukan itu!" ucap Sean, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, dipicu oleh kepanikan dan keinginan untuk menebus kesalahan.

Sean merutuki mulutnya yang mengatakan kalimat yang tak masuk akal. Bertanding? Secara resmi? Dengan seorang Alpha yang jelas-jelas mampu melumpuhkannya dalam satu pukulan? Ingin sekali dirinya membenturkan kepala bodohnya ini ke meja. Ini adalah ide terbodoh yang pernah ia lontarkan.

Namun, di luar dugaan, raut wajah Ayah Sean yang tadinya keras, sedikit melunak. Sebuah seringai tipis, penuh perhitungan, muncul di bibirnya. Ia nampak menimang usulan putranya. Pertarungan resmi... Sebuah kesempatan untuk membersihkan nama Klan Diamond King di mata klan-klan lain, sekaligus menunjukkan siapa yang sebenarnya lebih unggul. Dan tanpa Sean duga, ayahnya menyetujui hal itu.

"Baik." Suara Tuan Anderson kini kembali tegas, penuh perhitungan. "Ayah akan memberikan undangan pertarungan resmi yang kamu ucapkan itu kepada pemimpin Klan River Blue. Ayah akan memastikan pertarungan ini disaksikan oleh klan-klan lain, agar semua tahu siapa yang layak berdiri di puncak." Ia menatap Sean dengan tatapan tajam yang menusuk jiwa. "Ingat, Sean. Ayah tidak menerima kata KALAH. Jika kamu kalah lagi, konsekuensinya akan jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan."

Sean menelan ludah. Hukuman pengasingan tampak seperti surga dibandingkan dengan taruhan ini. Ia menghela napas, sebuah sigh putus asa namun juga penuh tekad. Wellcome to the hell, Sean. Ini adalah pertarungan untuk kehormatan klannya, dan juga harga dirinya sendiri. Tidak ada jalan mundur.

SOMETHING (UN)NORMALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang