Pada akhirnya Jin tidak kesekolah karena sudah terlambat. Ia kembali ke rumahnya dengan wajah muram
Ting!
Jin keluar dari lift. Ia menatap sebuah pintu yang berada tepat di samping pintu apartemennya
Ting...tong...
Jin tidak bisa menahan dirinya. Tanpa berpikir panjang ia memencet tombol bel yang ada di samping pintu tersebut
"aku hanya akan mengembalikan ponselnya" - Jin
Lalu tak lama seseorang membukanya
Ckrek...
"ada apa?" kalimat pertama yang di ucapkannya dengan nada dingin. Seakan tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam
Rasanya seperti kembali ke titik awal
"kenapa nuna meninggalkan aku?" ia tidak suka basa basi, tidak juga suka kesalah pahaman. Jadi mungkin Jisoo memiliki alasan meninggalkan nya tadi pagi, Jin ingin dengar alasannya
Jisoo terdiam sejenak
"masuklah, kita bicara di dalam" ujarnya, Jin pun masuk ke apartemen Jisoo"kau sudah makan?" tanya Jisoo
"b-belum"
"duduklah, aku sedang masak, sebentar lagi selesai" ujar Jisoo lalu beralih ke mini bar di rumahnya
Jin merasa canggung. Perasaan marah yang menggebu gebu tadi lenyap seketika saat melihat wanita itu
Jin pun mendudukkan bokongnya di kursi meja makan. Diam, duduk manis, menunggu makanan yang di buat Jisoo
Lalu tak lama Jisoo kembali dengan beberapa lauk dan dua mangkuk nasil di atas meja. Makananya terlihat lezat, Jin tidak tahu jika wanita ini pandai memasak
Bukankah justru malah aneh kalau sudah hidup ratusan tahun tapi masih tidak bisa masak
"makanlah" lalu setelahnya hanya terdengar suara gesekan sumpit dan piring
Jin bingung harus mulai dari mana. Sesaat ruangan terasa begitu sunyi, perasaan bingung dan canggung menyelimuti Jin
Jisoo melirik baju yang Jin kenakan, itu baju yang ia beli tadi pagi
"bajunya cocok dengan mu" ujar Jisoo memecahkan keheningan"a-ah iya, terimakasih. Tapi, bagaimana kau bisa tahu ukuran pakaian ku?" tanya Jin
"aku bisa menebaknya hanya dengan menyentuh tubuhmu"
Ah benar juga...
Wajah Jin memerah seketika setelah mendengar nya. Jin jadi lupa tujuan awalnya ke sini
"maaf karena aku pergi lebih dulu. Ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi pagi" Jisoo menjawab pertanyaan Jin tadi
"ahh... Begitu" Jisoo memiringkan kepalanya melihat reaksi Jin. Bukan kah itu jawaban yang ingin ia dengar? Wajah nya seakan mengatakan masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan
"apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Jin tampak ragu ragu untuk mengatakannya
"apa kita sekarang berkencan?"
"apa?"
"i-iya itu... Kita kan sudah tidur bersama, apa artinya kita berkencan sekarang?" tanya Jin lagi dengan wajah malu². Pria itu melirik ke arah Jisoo untuk mrlihat reaksinya
"apa katamu?" senyuman Jin pudar seketika saat melihat Jisoo yang menatap nya dengan dingin
"n-nuna kan tahu aku menyukai nuna ja-"
"-lalu?" Jisoo memotong kalimat Jin
Deg...
Apa ini...
Bukan ini yang Jin harapkan. Padahal suasana nya tadi cukup bagus lalu kenapa jadi dingin begini
"sebenarnya apa yang kau pikirkan? Apa hanya karena kita tidur bersama itu berarti kita berkencan? Kau bercanda ya?" tatapannya berubah
Apa itu tatapan benci?
"Apa sekarang ia membenci ku?" - Jin
Jin tidak ingin di benci olehnya...
Jantungnya terus berdetak tak karuan. Seakan ada ketakutan yang besar menyelimutinya
Kenapa ia jadi begini?
Sejak kapan ia jadi bergantung pada orang asing begini?
"n-nuna ma-maksudku..." nafasnya terasa berat. Ada apa dengan tubuh ini?
"apa kau memang orang yang seperti ini? Aku yakin ini bukan yang pertama untuk mu. Apa kau mengajak kencan semua wanita yang tidur dengan mu?" tanya Jisoo lagi dengan wajah datar
Jin mengangkat wajahnya dengan cepat
"tidak! Aku tidak pernah mengatakan ini dengan wanita lain d-dan ini juga pertama kali nya aku tidur dengan wanita" Jisoo cukup terkejut mendengar nya"ini pertama kalinya kau melakukan hubungan intim?" Jin mengangguk mantap
Bagaimana bisa anak yang baru pertama kali melakukannya bisa selihai itu saat melakukannya semalam?
Apa Jisoo tidak tahu jika di dunia yang modern ini ada yang namanya internet?
"aku tahu mungkin nuna sulit percaya. Walau aku hidup bebas tapi aku tidak pernah melakukan hal semacam ini dengan wanita. A-aku selalu membuat batasan pada diriku" ujar Jin
"kalau begitu bukankan sekarang kau melewati batas?"
"itu karena nuna... Aku bisa melewati batas karena nuna..."
Jisoo menatap Jin membuat suasana hening sesaat
Anak ini dari kemarin bertingkah aneh, dia bersikap seperti seseorang yang terkena sihir. Atau mungkin manusia memang semudah ini jatuh cinta?
Saat ini masih sulit untuk Jisoo mempercayai pria ini sepenuhnya. Dia bersikap seperti anak anjing dalam waktu singkat, namun darah Winkler yang mengalir di tubuh Jin membuat Jisoo tidak bisa lengah pada pria ini
Namun jika seandainya...
Seandainya, dia benar² jatuh cinta pada Jisoo, itu akan sangat bagus untuk Jisoo
Membuat keturunan iblis Winkler menjadi anjing nya. Merangkak dan memohon padanya
Membayangkan nya saja membuat Jisoo berdebar
Haruskah ia memantau anak ini lebih lama lagi? Jisoo ingin lihat apa dia akan menjadi anjing penurut atau anjing nakal yang membuat Jisoo harus membunuhnya
Jisoo bangkit dari kursinya lalu berjalan ke kursi Jin. Pria itu di buat tersentak saat ia merasakan tangan dingin Jisoo mengelus tengkuknya
"Jin-a, aku tidak tahu jika kau sebegitu nya menyukaiku, aku senang mendengarnya" Jin kembali mengangkat kepalanya dengan mata berbinar saat Jisoo berbisik dengan lembut di telinganya
"tapi bukan kah ini terlalu cepat? Aku baru mengenal mu begitu pula dengan kau. Bagaimana jika kita mulai dari saling mengenal satu sama lain lebih dulu?" tubuh Jin menegang saat Jisoo duduk di atas pangkuannya seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Jin
"bagaimana menurutmu?" sambung Jisoo
"j-jika itu yang nuna mau, baiklah"
"anak pintar~"
Cup...
"haruskah aku mengembalikan ponselnya besok saja?" - Jin
-TBC-
Lanjut?
Vomment

KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Nightmare (Jinsoo)
FantasyBeberapa ratus tahun yang lalu portal dunia peri dan manusia terbuka karena kesalahan para penyihir. Portal itu menyenghisap ribuan peri dan membuang nya ke dunia manusia yang asing. Para peri pun bertahan hidup di sana dengan menyamar sebagai manus...