44

6 2 0
                                        

Lampu-lampu utama menyala penuh, memantulkan kilau lembut di lantai marmer gedung apartemen itu. Suasana resmi benar-benar luruh. Jas dilonggarkan, senyum tak lagi ditahan, dan percakapan mulai bercabang ke arah yang lebih personal. Di sisi kanan ruangan, deretan hidangan utama tersaji hangat; di sisi kiri, makanan ringan dan minuman tertata rapi, siap disentuh tangan-tangan yang sejak tadi sibuk bertepuk tangan formal.

Vincent masih duduk di meja bundar bersama Damar dan Adisty. Nada bicara mereka pelan, nyaris seperti obrolan sore, bukan diskusi para pebisnis papan atas.

“Acara kamu berjalan lancar, Vincent,” ujar Damar akhirnya, menyesap minumannya. “udah kepikiran rencana baik ke depannya?”

"Ke depannya, mungkin saya pengen fokus ke pengembangan properti ramah lingkungan,” ujar Vincent santai. “Bukan untuk jual nama, tapi untuk sesuatu yang bisa terpakai jangka panjang.”

Damar mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja sekali dua kali. “Langkah yang aman. Tapi cukup mahal.”

Vincent terkekeh. “Sesuai. Nyatanya ada harga ada kualitas.”

Adisty tersenyum tipis, menimpali dengan nada tenang, “Tapi hasilnya akan sepadan. Dan Vincent tipe yang keras kepala kalau udah buat keputusan.”

“Bukan keras kepala,” Vincent pura-pura tersinggung. “Itu namanya konsisten.”

Damar terkekeh kecil. “Kalau konsistennya seperti grafik bisnis kamu yang naik sekarang, saya rasa dunia butuh lebih banyak orang keras kepala.”

Mereka tertawa ringan. Percakapan berlanjut ke rencana jangka panjang, lokasi baru, hingga obrolan kecil tentang bagaimana menjaga keseimbangan kerja dan keluarga—topik yang membuat Damar lebih banyak diam, hanya menyimak.

Lalu—

“PAPAAA!”

Suara itu memecah ruangan seperti bel kecil yang jujur. Lantang, polos, tanpa beban.

Dari pintu utama, seorang anak lelaki kecil berlari tergesa. Seragam TK-nya sedikit kebesaran, dasi kecilnya miring, dan tas punggungnya naik turun mengikuti langkahnya yang tak beraturan. Kedua tangannya terangkat tinggi, seolah takut tidak terlihat di tengah ruangan besar itu.

Vincent refleks berdiri. Kursinya bergeser ke belakang.

“Ken,”

Anak itu semakin cepat, hampir tersandung. Seorang pria berjas hitam menyusul di belakangnya dengan wajah panik tertahan.

“Maaf, Pak Vincent,” ujarnya cepat. “Tuan Kenzo begitu turun mobil langsung lari.”

“Gak apa-apa,” Vincent mengangkat tangan singkat, lalu berjongkok tepat saat Kenzo menabraknya kecil.

Tubuh mungil itu langsung terangkat ke udara. Kenzo melingkarkan lengannya ke leher sang ayah, napasnya terengah, pipinya merah.

“Papa jahat,” keluhnya lirih tapi jelas. Bibirnya maju, matanya sedikit berkaca. “Kenzo pulang sekolah tadi Papa gak jemput.”

Nada itu bukan marah. Lebih ke kecewa yang manja.

Vincent tertawa pelan, menempelkan keningnya ke kening anaknya. “Loh, Papa kan udah bilang ada acara penting.”

“Tapi Papa udah janji,” Kenzo bersikeras. “Kenzo nungguin tau dari tadi.”

Adisty bangkit dari kursinya, merapikan tas kecil di pundak anaknya. “Kan Papa lagi ada acara, sayang. Ken kecewa, ya?"

Kenzo melirik mamanya sebentar, lalu kembali menatap Vincent. “Kerjanya kelamaan, Ken udah sakit hati.”

Vincent terkekeh. “Iya, Papa salah. Maafin Papa, ya?”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang