Hein terus mengitari daerah Rumah Sakit sampai di mana ia menemukan sosok istrinya sedang berbicara dengan seorang Dokter.
"Sayang akhirnya aku menemukan mu juga."ucap Hein setelah menghampiri istrinya.
"Kalau begitu mohon bantuannya ya Dokter."ucap Jisoo pada Dokter tersebut.
"Baik Nyonya , kami akan melakukan semaksimal mungkin untuk menyembuhkan anak itu. Permisi."jawab Dokter itu lalu pergi undur diri karena tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga seseorang.
"Apa maksud dari Dokter tadi sayang? Dan anak siapa yang dia maksud?"tanya Hein bingung.
Jisoo hanya membalas nya dengan senyum tipis lalu merengkuh lengan kekar suaminya untuk ia peluk.
"Ayo kita pulang sekarang nanti aku akan menjelaskan nya di perjalanan."
"Kenapa sikap mu jadi aneh seperti ini? Apa kamu sudah tidak sedih lagi tentang hasil pemeriksaan medis kita sayang?"tanya Hein membuat raut wajah Jisoo berubah masam.
"Berhenti membahas hal itu Oppa , aku tidak menyukai nya."kesal Jisoo melepaskan tangan nya dari lengan suami.
"Arra-arra maafkan aku eoh?"bujuk Hein merengkuh tubuh istrinya untuk ia peluk.
"Aku akan memaafkan mu tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"tanya Hein melepaskan pelukannya.
Jisoo kembali tersenyum lalu menjawab. "Nanti juga Oppa akan mengetahui nya."jawab Jisoo jalan lebih dulu meninggalkan sang suami.
"YAAAAK , katakan dulu apa itu sayang?"teriak Hein menyusul Jisoo yang sudah berjarak jauh dari posisinya tadi.
Jisoo hanya tersenyum menatap sebentar Hein tanpa mengatakan apapun lagi.
°°°°°°°°°°
Di lain tempat, Jennie sedang mengunjungi Chaeyoung di ruangan bayi. Ia usap-usap kaca pembatas yang menjadi jarak di antara mereka.
"Chaeyoung sayang. apa yang harus Eomma pilih nak? Eomma ingin menerima tawaran tersebut agar Chaeyoung bisa sembuh , tapi Eomma juga tidak mau menjadi wanita simpanan dari suami Nyonya itu."
"Eomma bingung nak , Eomma bingung menentukan nya."
"Jennie-ssi , bisa kita bicara sebentar?"panggil seorang Dokter yang tadi berbincang dengan Jisoo ia berdiri di ambang pintu.
"Ah iya Dokter , sebentar."jawab Jennie mengusap air matanya yang tadi sempat menetes , lalu keluar menghampiri wanita yang berprofesi sebagai Dokter kandungan itu.
"Maaf Dokter , ada yang bisa saya bantu?"tanya Jennie.
Dokter itu terlihat cemas menengok ke sana kemari sebelum akhirnya menghela nafas lega ketika di rasa tidak ada seorang pun selain mereka berdua yang ada di sini.
"Aku sudah dengar tentang tawaran yang di tawarkan oleh Nyonya Jung. Dan aku sarankan sebaiknya kamu menerima saja tawaran tersebut Jennie-ssi."
"Dari mana Dokter tau akan hal itu?"tanya Jennie dengan kerutan di dahinya.
"Ah begini Jennie-ssi. Nyonya Jung tadi sempat mengobrol dengan ku dan beliau mengatakan bahwa ia sangat ingin memiliki seorang anak tapi sayang nya beliau mandul."Jennie menutup mulutnya tak percaya mendengar kabar tersebut.
"Ja-jadi karena itu beliau menawarkan hal seperti itu Dokter?"
"Iya Jennie-ssi , aku tidak akan memaksa mu untuk menerima nya tapi kamu tau sendiri kondisi putri mu bagaimana saat ini kan? Saya hanya menyarankan agar kamu bisa mengambil keputusan yang tepat entah itu mengorbankan diri dengan membantu Nyonya Jisoo mendapatkan keturunan atau bisa jadi keputusan mu itu lah yang akan membunuh Chaeyoung di kemudian hari."
"Saya mengerti Dokter. tadi Dokter Min baru saja menyampaikan jika Chaeyoung harus segera di operasi agar pernafasan nya lancar kembali."jawab Jennie tertunduk lesu.
"Oleh karena itu lah saya berpikir akan menerima saja tawaran dari Nyonya Jisoo.."lanjut Jennie mendapat usapan lembut di bahunya.
"Keputusan yang bijak Jennie-ssi. Saya yakin bukan hanya Nyonya Jisoo yang akan senang mendengar berita ini tapi Chaeyoung juga pasti akan senang karena sebentar lagi ia akan segera sembuh."
"Begitukah?"tanya Jennie sedikit tidak percaya dengan ucapan Dokter ini.
Dokter itu mengangguk yakin dan kembali berkata. "Ya ! Saya sangat yakin bahwa keputusan ini lah yang di inginkan oleh putri mu. Sekarang kamu tidak perlu mencemaskan keadaan Chaeyoung lagi karena sebentar lagi putri mu itu akan segera sembuh Jennie-ssi."
Jennie mengangguk mengerti lalu menatap Chaeyoung yang masih terkurung di inkubator dengan berbagai macam jenis alat medis.
"Dokter benar , sebentar lagi Chaeyoung akan segera sembuh."
Bersambung

KAMU SEDANG MEMBACA
Kasih Ibu [ REVISI ]
Fanfiction"apa kau mau mengandung anak dari suami ku?" "A-apa?" hargai usaha author yang sudah buat cerita ini dengan meninggalkan vote dan juga komentar