⚠️ MATURE CONTENT
"Pulanglah padaku, Noona. Tidak masalah jika harus jadi yang kedua; karena sejak aku memutuskan untuk mencintaimu, itu artinya aku harus menjadikan mu milikku" Ucap pria yang memiliki usia dua tahun lebih muda itu malah membuat...
"Jika dalam zat addictive, dirimu adalah Eszopiclone. Tidak perlu mengkonsumsinya, cukup dengan kau berada didekatku; maka jam tidurku akan baik-baik saja" — Jeon Jungkook
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Desir angin malam dari atas balkon kamar membuat Taehyung sesekali menyibakkan surainya kebelakang, bibir pria itu juga sesekali menyesap tembakau yang terapit pada celah kedua jarinya. Matanya menatap lurus dengan isi pikiran penuh yang berkali-kali menghujami kepalanya. Aera baru saja pergi ke dapur untuk membuatkan dirinya makan malam, gadis itu terlihat sedikit lebih pendiam dari yang biasanya
Rasa perih masih bisa Taehyung rasakan ketika pria itu sedikit saja menggerakan area bibirnya, pukulan Jungkook siang tadi tidaklah main-main. Taehyung tersenyum gamang ketika mengingat dirinya dan Jungkook memang kerap sekali berkelahi, ini tentu bukan untuk yang pertamakalinya. Tapi untuk pukulan Jungkook yang kali ini, Taehyung bisa merasakan bahwa ia dan Jungkook sudah terlalu jauh dalam perihal memperebutkan sesuatu
Ponsel Taehyung bergetar, menampilkan nama Jung Hoseok disana. Dengan satu kali jentikan jari, Taehyung menghempaskan sebatang rokok itu ke lantai dan kemudian menginjak benda tersebut hingga bara apinya mati. Pria itu menggeser tombol hijau pada ponselnya sebelum menempelkan benda pipih itu ke telinga
"Ya, hyung? Ada apa?"
"Aera ada bersamamu 'kan? Tinggalkan rumah itu untuk sementara waktu Taehyungie . Bawa Aera kemari"
"Tunggu, ada apa hyung? Aera sedang di dapur membuatkan makanan untuk makan malam"
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan, cepat—"
'DORR'
'PRANGGG'
Jantung Taehyung seakan berhenti berdetak, suara ledakan sebanyak duakali disusul dengan suara seperti pecahan piring terdengar memekakkan telinga . Pikirannya kalut terlebih ketika ia tidak mendengar suara Aera setelah kejadian itu berlangsung, Taehyung melempar ponselnya kesembarang arah dan berlari keluar kamar untuk menuju dapur
Langkah pria itu menggema, bibirnya sambil sesekali merapalkan nama Aera karena tak kunjung menemukan presensi gadis itu dimana-mana
"Aera? Sayang?"
Taehyung menghembuskan nafas lega ketika netranya berhasil menemukan gadis itu, Aera tengah berdiri menyandarkan kedua lengan pada meja bar dengan pandangan kosong. Tangan kanannya menggenggam sebuah benda yang sebenarnya Taehyung sedikit terkejut ketika melihatnya. Itu sebuah revolver, darimana istrinya itu mendapatkannya?
"Apa yang terjadi, Aera?"
Aera terkesiap dari lamunannya, gadis itu hanya tersenyum. Taehyung lagi-lagi dibuat lega mendapati Aera baik-baik saja, pria itu segera merengkuh Aera kedalam pelukannya. Tangan Kiri Aera meremas kuat beberapa sobekan kertas yang ia sembunyikan dibelakang punggungnya