Malam ini terasa lebih santai karena tidak ada tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi. Untuk mengisi waktu luangnya setelah makan malam dan menyiapkan jadwal pelajaran, Caca memutuskan untuk merebahkan diri di atas kasur seraya berselancar di dunia maya.
"What!?"
Sebuah postingan yang baru saja diunggah membuatnya langsung bangun dari posisi terlentang. Ia mengamati foto itu lebih jelas, menggelengkan kepalanya tak percaya ketika foto antara dirinya dan Handaru saat berada di bawah panggung tadi terpampang nyata di laman Instagramnya.
Gadis itu mengacak-acak rambutnya sejenak, lalu bergegas menelepon si pemilik postingan yang langsung diangkat pada deringan pertama.
"Handaru lo apa-apaan sih!" amuk Caca bahkan sebelum cowok itu mengatakan halo.
"Gue kan lagi deketin Leo, kalau dia tahu lo posting foto berdua sama gue nanti gimana?" tanya Caca kesal.
Handaru benar-benar gegabah soal ini, padahal cowok itu yang menjadi tim suksesnya.
Atau jangan-jangan, ini strategi Handaru agar cowok itu lebih mudah untuk mendekati Leo dengan cara mengkhianati Caca?
"Beneran loh ya, awas kalau nggak lo hapus!" ancam Caca setelah mendengar suara Handaru di ujung sana. Setelah telepon ditutup, cewek itu melemparkan ponselnya asal ke atas kasur lalu berguling-guling di sana karena kesal.
***
"Caaa, gue pulang dulu!" pamit Handaru kepada Caca dari dekat pintu kelas. Cowok itu sedang melambaikan kedua tangan dengan penuh semangat ke arahnya.
Caca yang baru saja berjalan ke arah sudut belakang kelas untuk mengambil sapu ijuk jadi menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia menganggukkan kepala, lalu membalas lambaian tangan cowok itu singkat.
Terlepas dengan pertengkaran kecil yang kemarin terjadi, Handaru tetap bersikap biasa saja kepadanya. Foto itu sudah dihapus, tapi entah mengapa membuat Caca merasa bersalah karena itu sama artinya ia menghapus salah satu momen berharga milik sahabatnya sendiri.
Ia melihat punggung Handaru yang menjauh. Terkadang ia merasa kagum dengan energi cowok itu yang tidak ada habis-habisnya. Seperti saat ini, Handaru tidak langsung pulang, tapi berhenti sejenak untuk berbincang dengan Leo yang sedang mengelap kaca jendela di bagian luar.
"Leo sayangku, capek ya? Sini gue pijitin!"
Terdengar suara Handaru yang sedang berbicara dengan Leo dari luar kelas.
"Lo mau gue semprot, hah?" balas Leo sarkas sambil mengarahkan semprotan pembersih kaca ke arah Handaru. Yang ditanya langsung beringsut mundur, lalu berlari menjauh.
Percakapan dua sahabat itu membuat Caca tertawa kecil. Gadis itu kembali melanjurkan langkahnya, meraih sapu ijuk yang letaknya paling dekat, lalu mulai menyapu lantai.
"Leo! Bisa nggak pelan-pelan aja bersihin jendelanya?" protes salah satu teman kelas yang ikut membersihkan jendela.
"Nggak bisa. Gue udah ditungguin sama pacar!" jawab Leo lantang.
Caca yang mendengar itu mendadak menghentikan kegiatan menyapunya, pegangan di sapu ijuk berwarna merah itu melemah, apalagi ketika ia mendongak dan terlihat sosok Gita yang tampaknya baru saja datang dan sudah berdiri di sebelah Leo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Close
ФанфикшнKini pandangannya beralih kepada kertas putih yang terlipat rapi di tangan kiri. Sedikit ragu, gadis itu perlahan membukanya asal dan menemukan sebuah paragraf tertulis di dalamnya... . . "Beberapa hal hanya perlu dibiarkan tetap berada di sana. Men...
