7. Ramalan

99 10 0
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


[ Jason Grace ]

---


Mereka berjalan beriringan kearah ruangan kepala sekolah. Kibaran jubah yang mampu membuat mata mata terpana. Dan suara ketukan beriringan itu, sangat candu di dengar. Jangan lupakan soal helaian yang beterbangan bersamaan dengan jubah itu, kau akan terpukau jika melihatnya secara langsung.

Tampaknya bukan hanya mereka yang diundang pertemuan. Ada beberapa Profesor berada di ruangan juga. Suara pintu yang tertutup mengundang perhatian semua orang, melihat dengan penuh kebingungan. Salah satu dari mereka mengeluarkan suara. "Apa yang kalian lakukan disini? Bukankah seharusnya kalian memasuki kelas?"

Dumbledore mengayunkan tangannya seakan berisyarat bahwa ini tidak bermasalah. Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Tepat sekali Hazel yang sedang berdiri di depan pintu, terjatuh oleh dorongan pria itu. Spontan Annabeth langsung membantunya untuk bangun.

Seorang pria paruh baya diikuti dengan istrinya masuk kedalam ruangan. Dia mengenakan jas biru dongker dan sebuah tongkat pendek dengan ukiran ular berwarna silver diujung tongkatnya. Rambutnya yang panjang ia gerai kebelakang. Tepat disebelah istrinya, Hermione Granger berdiri dengan jubah yang ia genggam di tangan kanannya. Jason bahkan tidak menyadari kehadirannya.

Belakang ini, teman teman se asramanya sering menceritakan tentang petualangan Hermione Granger dan teman temannya semasa perang. Mereka begitu memujanya. Dari apa yang Jason dengar, Hermione adalah seorang murid dengan IQ diatas rata rata. Bahkan dia mendapatkan julukan sebagai 'miss-know-it-all', dan berbagai macam julukan lainnya. Hermione sangat terobsesi dengan nilai, dan melihat bagaimana Percy mengurangi nilai asrama tadi pagi, Jason tidak yakin dia tidak frustasi.

"Dumbledore, Kurasa banyak yang harus kita bicarakan." Pria paruh baya itu tersenyum.

Dumbledore membuang nafasnya, dia berbalik untuk menghadap Jason. "Kalian sebaiknya tunggu disana." Dia menunjuk kearah sebuah meja dekat dengan jendela yang berada diujung ruangan. Tanpa membantah mereka mengikuti apa yang dikatakan Dumbledore.

Jason tidak dapat mendengar jelas percakapan mereka. Tapi Jason dapat mendengar sesekali teriakan dari pria tadi.

"Kurasa mereka keluarga dari Draco Malfoy."

Jason menoleh. "Apa?"

Annabeth melihat kearah mereka bergantian, dia menegakkan dirinya yang sedari tadi ia sandarkan di dinding batu dingin ruangan ini. "Di kelas pemeliharaan hewan satwa gaib pagi ini, kami diajak berkeliling ke hutan terlarang. Namun sebelum kami ingin kembali, Draco Malfoy menghilang entah kemana. Kami semua panik, tapi Hagrid berpikir positif bahwa Draco Malfoy sudah kembali duluan ke kastil, namun setelah melihat kedua orangtuanya disini. Kurasa anak itu benar benar hilang."

Annabeth melirik kearah Nico yang sedang meringkuk tepat di sebelah jendela. Jason yakin dia sedang tertidur lelap. Bisa bisanya dia tertidur di situasi seperti ini. "Nico, kau dimana tadi? Aku sama sekali tidak melihat kehadiranmu di kelas?"

Nico mengangkat kepalanya. "Entahlah, aku hanya mengikuti kalian dari belakang. Mungkin kau tidak menyadarinya." Dan dia kembali tertidur.

"Draco Malfoy? Aku seperti pernah mendengar nama itu."

"Kau lupa? Ron Weasley menceritakan dia kepada kita." Jawab Jason.

Mata Percy melebar. "Kau benar."

"Dean Thomas juga bercerita kepadaku." Saut Hazel. "Dia bilang untuk menjaga jarak dengan Draco Malfoy, tapi tidak memberi alasan untuk itu."

Percy mengangguk setuju. "Ron bilang dia itu salah satu anggota pelahap maut."

"Apa yang Ron katakan lagi kepadamu?"

Serempak mereka menoleh kearah asal suara. Hermione Granger berjalan mendekat kearah mereka. Dia melipat tangan tepat di depan dada. "Jangan terlalu percaya pada Ron, dan tentang pelahap maut. Itu hanya masa lalunya, jadi tidak usah dibahas."

Percy memandang Hermione dari atas hingga bawah. "kau ini pacarnya atau apa?"

Hermione melotot. "Aku tidak mengatakan aku pacarnya!" Marah Hermione.

Dia memandang Percy cukup lama. "Percy Jackson? Aku tidak akan lupa akan perbuatanmu tadi pagi."

Percy salah tingkah, dia menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayolah, seperti katamu, itu hanya masa lalu." Percy tersenyum.

"Tunggu, apa yang terjadi di kelas ramuan?" Tanya Annabeth di sela sela percakapan.

"Jackson menumpahkan kuali ramuan." Hermione mendecak, tiba tiba saja ekspresinya berubah menjadi bingung. Dia menyipitkan matanya. "Aku menjadi penasaran, sihir apa yang kau gunakan hingga membuat kuali itu jatuh. Kau tahu? Aku bahkan sempat melihat air di dalamnya berputar putar."

Percy lagi lagi salah tingkah. "Aku, aku, pikiranku sedang kacau tadi. Tampa ku sadari aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak ku ucapkan. Iya." Dia mengangguk berkali kali berusaha meyakinkan Hermione.

Annabeth melotot setelah mengerti apa yang telah terjadi. Yang pastinya Percy tidak sengaja menggunakan kekuatannya untuk membuat air itu teraduk. Annabeth memukul lengan Percy cukup keras. "Dasar otak ganggang!" Bisiknya. Jason tersenyum hampir tertawa mendengar ejekan itu.

Percy mengeluh kesakitan. "Mengapa kau memukulku?!"

Hermione menaruh telunjuknya di dagu, masih dengan tatapan penuh curiga kearah Percy. "Apa yang kau ucapkan memangnya?"

Sebelum menjawab, Percy sempat melihat kesembarang tempat sambil mengeluarkan suara khas saat seseorang sedang berbohong. Kalian tahu? 'Hmm...'

"Entahlah, aku tidak sadar." Hermione membuang nafasnya. Ekspresinya kembali datar.

"Kau, dasar tidak becus!" Perhatian mereka teralihkan begitu mendengar bentakan dari Mr. Malfoy.

Mr. Malfoy dengan penuh emosi menunjuk kearah Hagrid. "Bagaimana bisa orang sepertinya menjadi Profesor disini? Bukankah sudah sejak lama saya meminta anda memecatnya, Dumbledore?!"

Dumbledore membuang nafasnya. Dia mengangguk pasrah dan menepuk nepuk bahu Mr. Malfoy berharap agar dia sedikit lebih tenang. Dan sepertinya berhasil, Mr. Malfoy terduduk disamping istrinya.

Hermione berlari kecil menghampiri keduanya dengan khawatir. Jason tahu jika dia tidak ada urusannya dengan ini. Tapi melihatnya berlari begitu, jason menjadi penasaran dengan hubungan keduanya. Jason lagi lagi teringat akan perkataan Ron di aula kemarin malam, "hei Jason, kau lihat dia yang berambut pirang sama sepertimu itu? jangan dekati dia, dia itu mantan pelahap maut." Tapi sahabatnya sendiri bahkan akrab sekali dengan orang tuanya.

Tampa disadari Jason, Dumbledore menghampiri mereka berlima diujung ruangan. Semakin Dumbledore dilihat dari dekat oleh Jason, semakin jelas ia tampak kelelahan. "Kalian bisa kembali, pertemuan kita batalkan saja."

Mereka serentak mengangguk. Dumbledore menghela nafas, dan sesekali menengok kearah belakang. "Saya masih tidak tahu tujuan kalian kesini, namun jika tujuan kalian ada kaitannya dengan kehilangan Draco Malfoy. Saya memohon bantuannya." Suara sangat pelan, namun sangat jelas didengar.

Entah mengapa perkataan itu membuat Jantung Jason berdegub kencang. Ada rasa gelisah di dalam hatinya yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dan bayangan Rachel Dare yang dirasuki lalu suaranya yang menyeramkan ketika memberikan sebuah ramalan, memenuhi pikirannya.

-----

"Lima akan berangkat ke dunia tak terlihat,

ketiadaan merupakan awalan dari kebangkitan,

akan muncul sebuah Kekeliruan,

sang jenius pun tak mampu menjawab pertanyaan,

pengorbanan adalah kunci utama,

Dan cintalah yang dapat menghidupkan jiwanya."

New Things || Percy Jackson X Harry PotterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang