3. kembali sekolah

125 11 0
                                    

[ Nico di Angelo ]

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[ Nico di Angelo ]

---


Nico rasanya ingin muntah, entahlah tadi itu apa tapi rasanya dia seperti tertelan di lubang hitam yang berputar putar. Bahkan perjalanan bayang lebih baik dari pada ini. Mungkin karena dia belum terbiasa.

Peri rumah itu menghampiri sosok berambut putih panjang, awalnya Nico mengira dia perempuan namun begitu sosok itu berbalik yang di temukannya adalah seorang pria tua paruh baya. Dia tersenyum manis kepada mereka, berjalan pelan kearah mereka. "Selamat malam Demigod."

Annabeth mengangguk ragu. Dumbledore melirik kearah Percy dan Jason. "Wah terimakasih sudah menyelamatkannya, pahlawan." Entah sejak kapan dia memegang sebuah tongkat kayu pendek di balik jubah tidur panjangnya. Dia mengayun tongkat tersebut, ayunan itu menghasilkan cahaya putih disekitar kepala sang murid.

"Bawa dia kembali ke asramanya, Corny."

Peri rumah mengangguk hampir terjatuh. Dia melangkah berbalik dan memegang tangan murid sebelum akhirnya kembali menghilang. Apakah segampang itu dia menghilang dari tadi? Nico tertarik.

"Tidak segampang itu nak, diperlukan kekuatan yang besar untuk menghilang seperti itu, namun para peri rumah sudah terbiasa dengan menghilang." Mata Nico melebar, apa pria tua didepannya bisa membaca pikiran, apa dia semacam dukun atau apa? Sial.

Pria tua itu tersenyum hampir tertawa kepada Nico dan beralih lagi pada Annabeth. "Saya Dumbledore, kepala sekolah di Hogwarts. Chiron dan saya adalah teman lama, dan mendengar anak perkemahan ingin datang kesini, adalah sebuah kehormatan bagi saya." Dia sempat terhenti, "Chiron tidak mengatakan dengan jelas apa yang akan kalian lakukan, tapi melihat yang datang adalah para pahlawan terlatih, saya menjadi sedikit khawatir. Jangan kaget jika saya mengenal kalian. Walau saya penyihir, saya mengetahui apa yang terjadi dengan dunia kalian."

"Sebelum itu saya akan beri tahu dulu tentang sekolah sihir ini. Hogwarts, didirikan oleh empat penyihir hebat bernama Godric Gryffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw, dan Helga Hufflepuff. Di Hogwarts ada empat asrama yang berbeda, yang memiliki kepribadian yang sesuai dengan keempat pendiri tersebut. Gryffindor untuk sang pemberani, Hufflepuf untuk kau yang setia, Ravenclaw untuk kau yang kreatif, dan Slytherin yang paling cerdik."

Percy menggaruk garuk kepalanya. "Harus di hafal ya?"

"Tidak perlu, kalian perlu tahu saja." Dumbledore terdiam sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya.

"Penerimaan siswa di Hogwarts bersifat selektif, dalam arti bahwa hanya anak-anak yang menunjukkan kemampuan magis yang secara otomatis akan mendapatkan tempat. Namun kalian orang orang khusus, saya bisa mengaturnya nanti. Tujuan kalian sekolah disini adalah memenangkan nilai."

Percy memotong ucapan Dumbledore. "Apa kita sekolah? Ku kira kita kesini untuk bertarung." Annabeth segera menyenggol lengan Percy.

Dumbledore melebar matanya. "Maaf?"

New Things || Percy Jackson X Harry PotterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang