3

38 13 18
                                    

Pagi mulai menyinari mataku, aku terbangun. benar-benar berantakan, aku turun dari kasurku dan menuju kamar mandi. sembari menggosok gigi, aku hanya diam. entah kenapa aku tidak ingin melakukan apapun hari ini. aku turun kebawah untuk sarapan, sudah ada ayah dan saudara lainnya.

"morning son"

"Morning lit bro!"

"Morning..."

"Morning bro!"

"Morning twins!"

Semua ucapan pagi dari keluargaku, aku membalas ucapan mereka semua. segera mencari kursi didekat Austin, aku benar-benar tidak selera. aku hanya mengaduk-aduk sarapanku, tidak ku makan sama sekali karena bosan aku memainkan tabletku. semuanya sibuk sarapan, mereka tahu ini baru hari ke-3 selama sekolah. 4 hari lagi sudah seminggu, dan akan memulai pembelajaran seperti biasa. aku tidak konsentrasi, bahkan aku malah mengambil garpu untuk memakan soup ku. aneh.

"Justin?" Tegur ayahku, tapi aku tidak menyahut. aku melamun, mungkin sudah beberapa kali.

"WOI JUSTINNNN OOOOOOAAAAHH"

"Hei?!?!"

"Ah?!"

Aku tersentak, semuanya menatapku. aku tak tahu harus apa, Austin menatapku dengan bingung. aku tahu perasaan nya, aku merasa tak nyaman.

"Justin, kamu sakit? kalau tidak enak badan lebih baik istirahat saja. nanti Austin akan mengizinkanmu, kamu akan ayah bawa ke dokter Wilette H.Onanti ini sehabis mengantar mereka kesekolah. bagaimana?"

"Tidak perlu ayah! Aku baik-baik saja...."

"Tapi wajahmu pucat" ujar Caius dan Austin, mereka sedikit cemas.

"Lebih baik ke dokter dan di check, takutnya demam atau semacamnya" balas Alex

"Itu benar, lagipula nanti bahaya kalau kamu sakit. Austin bisa cemas" kata Arthur, walaupun cuek ia juga masih peduli. Setelah di paksa, aku harus izin sekolah.

Ayahku memanggil salah satu maid untuk membantuku kekamar, padahal ini tidak parah. Sebenarnya ini sisi lain dari ayah yang kusukai, ayah itu jarang memberi kami kasih sayang. tapi Alex dan Caius tak mempedulikan hal itu, yang penting mereka masih bisa bersama ayahnya. Aku dan Austin tidak seperti itu, mungkin kami masih kecil? Jadi masih butuh kasih sayang.

"Bi"

"Kenapa tuan?"

"Wajar nggak, kalau Justin mau di perhatikan sama papa?"

"Tentu saja tuan, itu hal wajar untuk anak-anak seusia tuan"

"Tapi kenapa papa jarang memperhatikan kami?"

"Mungkin saja tuan sibuk, terlebih beliau harus mengurus beberapa cabang perusahaan lainnya. jadi tak heran beliau selalu pulang malam"

"Tapi kenapa brother Alex dan Caius tak terlalu mempedulikan papa?"

"Saya kurang tahu...."

"Cerita dong bi, waktu brother masih seusiaku! Eh iya terus kenapa yaa kok waktu aku lihat album foto nama kak Alex jadi kak Axel???

"Tapi... soal itu"

"Gapapa, nggak ada yang dengar. listen, it's a secret! please bi"

"Baiklah..."



























Flashback 10 tahun yang lalu . . . . .

Terlihat ada anak laki-laki kecil memakai kacamata hitam, rambut blonde sedikit putih dan mata bewarna biru kemerahan. anak itu bernama Alex Ansell Dion atau Axelo Diego Noah Michael Max. ia memasuki mansion itu bersama Erious.

Everything That Is Liar [disconnected]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang