Orang yang punya ilmu itu gak akan melakukan sesuatu tampa memikirkan akibatnya, aku rasa kau bukan bagian dari orang berilmu itu deh.
~Didiv
"Kok suasana pondok gini banget sih Ra, canggung gitu.. kamu beneran gak papa". Kesan pertama Didiv saat memasuki pondok.
"Gak papa kok, emang suasananya kenapa Div, biasa aja tuh mungkin ini jam-jam santri pada istirahat makannya kerasa sepi gitu". Balas Ara karna memang seperti ini biasanya.
"Masa sih Ra enggak ah, rasanya tuh beda bukan sepi, tapi gimana yaa.. gitu deh". Sepertinya Didiv merasakan apa yang sebelumnya terjadi disini.
"Perasaan kamu doing itu Div, udah deh yuk katanya mau mampir kekamarku.. ayo". Seru Ara mengalihkan pembicaraan.
"Ning Diva kok mau sih temenan sama si Ara!". Seru seseorang dari salah satu kamar yang satu komplek dengan kamar pengurus pusat.
Dan betapa terkejutnya dengan tanpa rasa malu orang yang berbicara barusan keluar dan menunjukkan wujudnya, dia.. Wyna santriwati yang kemarin mendapat hukuman akibat perbuatannya sendiri dan tak lupa kelaluannya yang mempermalukan dirinya sendiri saat musyawarah penentuan taziran.
"Kok begitu mba bicaranya?!". Didiv yang mendengar komentar tadi langsung tersulut emosi.
"Hati-hari Ning, nanti kakaknya dijadiin salah satu targetnya loh Ning.. dia itu tukang ngincer anak kyai/nyai buat dijadiin bahan ketenaran dia". Ucap Wyna dengan pedenya.
"Apa ini Ara? Pantes kamu kalo balik kepondok pas waktu-waktu tertentu aja, ternyata ada sesuatu toh.. maksud mba nya apa ya? Tiba-tiba dateng langsung ngomong begitu punya masalah apa sih?". Didiv yang sudah emosi dengan beraninya langsung mengegas.
"Aku sih gak punya masalah, yang ada masalah itu si Ara noh.. kayanya ada masalah kejiwaan dia, gak tau diri banget kayanya anak kyai/nyai dijadiin alat supaya dia terkenal, wah keren banget". Ucapan Wyna barusan benar-benar membuat Didiv meledak.
"Mba nya kali yang punya gangguan jiwa, seenak jidat ngomongin orang tanpa tau asal usulnya.. kalo emang iri bilang mba gak usah membalikkan fakta kaya gitu, atau mba nya malu ya sama kelakuan mba sendiri makannya ngelakuin hal ini". Didiv yang kini emosi tak memikirkan volume suaranya yang kini sudah menggelegar keseluruh penjuru komplek yang otomatis membuat semua orang keluar dari kamarnya menuju kesumber suara.
"Ada apa nih kok rebut-ribut"
"Wah Ning Diva kok bisa ribut gitu sama mba Wyna"
"Si Wyna gak tau malu banget ya.. bisa-bisanya dia bikin keributan sama ning pondok sendiri".
Wah ramai sudah tempat mereka beradu mekanik ini, Ara yang ada dibelakan Didiv hanya bisa mengurut pangkal hidungnya, "Tadi-tadi tak usah ajak Didiv naik lagi kalo tau ini bakal kejadian, Didiv.. Didiv kamu bikin aku tambah pusing sama ini masalah, padahal niatnya aku dah gak pengen inget-inget ini lagi". Didiv yang ribut Ara yang pusing, karena kalo urusannya sudah dengan Didiv ya sudah jangan harap masalah ini akan selesai, sebelum orang yang mendahului diam tak bisa membalas, Itulah sosok Aldiva yang sebenarnya.
"Aku gak gila ya, aku masih waras.. justru aku itu lebih tau Ning.. begini yaa aku kasih tau-
Setelahnya Wyna menceritakan semua yang dia tau didepan semua samtri dan didepan Didiv yang jelas-jelas dia yang ada ditempat yang diceritakan.
Dia gila kan, dan tanpa rasa malunya dia bangga sudah disentuh oleh Gus Hafidzh". Wah hebat sekali kau Wyna bisa-bisanya berbicara seperti itu didepan sepupunya langsung, sungguh nyalinya besar.
"Dengar ya mba Wyna yang terhormat, tanpa kau beritaupun aku ini sudah faham mba.. jelas sekali pagi itu A Hafidzh berangkat menggunakan mobil diantar Buya Zakaria sebagai supir, A Hafidzh disebelahnya, Hanna duduk dikursi penumpang tengah sebelah kiri dekat kaca, begitu pula dengan Umi Fatimah yang duduk disebelah kanannya, lalu Ara duduk diantara Umi Fatimah dan Hanna dan aku duduk dikursi penumpang bagian belakang sendirian, jadi otomatis aku ikut mengantar Aa waktu itu dan aku tau semua yang terjadi disana dan itu jauh berbeda dengan apa yang baru saja mba Wyna yang terhormat ini ceritakan, sampai disini apa Mbanya paham". Semuanya seketika menunduk tapi tidak dengan Wyna yang memasang wajah sinisnya itu tanpa rasa malu.
"Tetap saja itu suatu perbuatan yang gila". Ucapnya dengan penekanan diakhir kalimat.
"Wah.. sepertinya mbanya memang perlu iberi pelajaran agar mempunyai ilmu, agar paham dengan apa yang kau lakukan ini tidak lah baik karena orang yang punya ilmu itu gak akan melakukan sesuatu tampa memikirkan akibatnya, aku rasa kau bukan bagian dari orang berilmu itu deh". Ucap Didiv dengan nada dinginnya.
SELESAI!!! Maaf ya guys kemarin aku gak Up kemarin
Authornya kecapean jadi sekarang aja ya up nyaa..
Selamat membacaa.. semoga suka yaaa
Jangan lupa tinggalkan jejak
Terima Kasih..
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawal Dari Kagum
RandomTOKOH : - Kiara 'Ulya Az-Zahra {Ara} Tokoh utama - Muhammad Hafidzh Saputra {Hafidzh} - Hanna Muthia Saputri {Hanna} Adik Hafidzh - Adinda Nur Aldiva {Aldiva} Sahabat Ara + Sepupu Hafidzh - Buya Zakaria Saputra {Buya Hafidzh} - Umi Fatimah Abdullah...
