# Kiara 'Uly Az-Zahra
Baru selesai dari tugas menjaga rumah Umi Fatimah, aku sudah mendapat panggilan lagi."Ara..... Ara..... kemari nak". Panggil Umi Fatimah.
"Iya, Umi dalem, kata dalem sama dengan kata iya, namun kata dalem lebih sopan". Aku bergegas merapikan baju yang kukenakan.
Baru sampai dipintu belakang rumah Umi Fatimah aku dikejutkan dengan Hanna yang tiba-tiba muncul dari dalam." Mba Ara... nih ganti bajunya". Ucap Hanna tiba-tiba.
"Hah?!.. maksudnya?!". Tanyaku bingung ketika Hanna memberikan sebuah gamis berwarna putih dengan motif bunga dengan pasmina yang senada warnanya.
"Udah... cepet sana ganti kalo perlu mandi lagi gih". Jawab Hanna seraya mendorongmu menuju kamar.
Akupun segera masuk dan mengganti pakaianku. 10 menit berlalu aku siap dengan pakaian yang tadi diberikan Hanna kepadaku.
Panggilan ke-2 dari Umi Fatimah datang." Ara.... Ara..".
"Enggeh sekedap Umi, enggeh sekedap artinya iya sebentar berasal dari bahasa Kromo atau yang biasa kita kenal dengan Bebasan". Ucapku seraya mengambil tas selempangku, seakan tau jikalau Umi Fatimah ingin mengajakku pergi.
Aku diajak Umi Fatimah untuk mengantar Hafidzh ke bandara, awalnya aku menolak tapi Umi mengharuskan aku untuk ikut dengannya. Akhirnya aku pun luluh dengan perintah umi, kini aku dan umi menunggu Hafidzh keluar dari kamarnya . Baru 5 menit menunggu, orang yang sedari tadi kita tunggu akhirnya datang.
"Karena Hafidzh sudah datang, sekarang kita langsung berangkat saja, karena sebentar lagi pesawat akan berangkat". Ucap Buya.
Dimobil aku duduk diantara Umi dan Hanna, sedangkan Aldiva duduk dibelakang sendirian. Awalnya aku dan Hanna yang akan duduk di belakang tetapi Umi Fatimah menyuruhku untuk duduk di sebelahnya, kukira Hanna akan tetap dibelakang, tetapi Hanna malah ikut duduk disebelahku. Aldiva yang baru ingin masuk bingung karena tidak ada jalan untuknya duduk.
Melihat wajahnya yang kebingungan akupun berisiatif untuk mengalah, aku turun dan menyuruh Hanna untuk bergeser sebentar agar aku bisa menurunkan jok yang tadi Hanna duduki. Dengan ramah aku mempersilahkan Diva untuk lewat dan duduk ditempatnya.
"Huh nyebelin banget sih jadi orang". Begitulah kira-kira ekspresi Difa kepada Hanna setelah duduk.
Diperjalanan aku merasa diperhatikan oleh seseorang yang duduk disebelah Buya Zakariya. Tak ingin memperdulikan orang tersebut akupun memalingkan wajahku menghadap Hanna yang sudah terlelap sejak 5 menit yang lalu.
Tak seperti yang kupikirkan bahwa perjalanan yang akan kita tempuh ini akan memakan waktu yang cukup lama, ternyata semua dugaanku salah baru saja aku ingin menyusul Hanna menuju alam mimpi, mobil yang dikendarai Buya Zakariya berhenti.
"Ayo... semua pada bangun sudah sampai". Begitulah yang dikatakan Buya setelah keluar dari mibilnya.
Akupun segera membangunkan Hanna yang masih setia dengan tidurnya. "Han.. Han.. bangun dah nyampe nih". Ucapku sambil Mengguncang-guncangkan lengan Hanna pelan.
"Eehg.. emang udah sampe ya?! Perasaan baru sebentardeh Hanna tidur". Ucapnya dengan mata yang masih setia tertutup.
"Hanna cepat nak bangun sudah sampai". Sekarang berganti Umi Fatimah yang membangunkan Hanna.
"Iya Mi Hanna udah bangun kok". Ucapnya sambil menguap.
"Heh... ditutup dong klo mau nguap". Ucapku sesambil menaruh tanganku kemulutnya.
"Ara... Umi sama yang lain duluan kedalam nanti kalau mau masuk bangunkan saja Hanna". Ucap Umi terburu-buru.
" Enggih Umi". Jawabku sopan.
Setelah Umi pergi aku memutuskan untuk tidak mesuk kedalam, tetapi setelah difikir-fikir sepertinya akan membosankan jika harus menunggu lama dimobil. Akhirnya dengan susah patah aku membangunkan Hanna yang masih tertidur.
"Hanna ayoo dong bangun, nanti Umi sama yang lain keburu jauh". Ucapku frustasi melihan -Hanna yang tidak kunjung bangun dari tidurnya itu.
"Ihh.. Hanna cepet bangun". Ucapku lagi sesambil mengguncang lengannya cukup kuat.
" Hmmh apaan sih mba Ara berisik tau. Hanna tuh masih ngantuk lagian masih jauh ini". Jawabnya tetap dengan mata yang masih tertutup.
"Masih jauh apanya orang udah nyampe dari tadi". Jawabku jengah.
" Hah... apa udah nyampe, kenapa mba Ara gak bangunin Hanna dari tadi sih". Ucapnya sesambil mengusap-usap wajahnya.
"Mba Ara dah bangunin kamu dari tadi kali, kamunya aja yang gak mau bangun". Ucapku lagi.
Hannapun segera turun dan berlari masuk kedalam."Han.. tungguin mba dong jangan lari-lari". Ucapku terkejut dengan Hanna yang tiba-tiba keluar dari mobil.
Alhasil karena aku tidak sanggup mengejar Hanna yang larinya sudah seperti pelari internasional itu akupun kehilangan jejak gadis itu.
" Huh.. huh... capek juga ngejar-ngrjar Hanna, larinya cepet banget". Ucapku tidak sadar kalau Hanna sudah tidak ada dihadapanku lagi.
Saat aku menengadahkan wajahku dan seseorang yang sedari tadi aku kejar menghilang."Loh Hanna kemana, huh akutuh gimanasih udah tau Hanna lari nya cepet pake berhenti segala kansekarang jadinya ilang orangnya".
Aku mencoba mencari Hanna namun tetap saja tidak ketemu."Ya Allah, apa jangan-jangan aku nyasar gimana nih udah gitu aku gak tau jalan pulang kemobil". Ucapku dalam hati.
Lelah, itu yang sekarang aku rasakan."Kakiku pegel banget nih, kepalaku juga pusing apa gara-gara aku belum sarapan ya?". Tanyaku pada diriku sendiri.
Baru beberapa langkah aku berjalan, pandanganku kabur, samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku, dan bertepatan dengan itu kepalaku semakin menjadi-jadi dan...
Bruuk..
❤❇❤❇❤
Assalamu'alaikum
Hai guys maaf ya akhir-akhir ini jarang upload soalnya pondok udah mulai aktif jadi nanti aku usahain up 1 minggu sekali dan semoga aja aku bisa up 2 bab sekaligus ya
Jangan lupa
Vote + Komen
🌹
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawal Dari Kagum
De TodoTOKOH : - Kiara 'Ulya Az-Zahra {Ara} Tokoh utama - Muhammad Hafidzh Saputra {Hafidzh} - Hanna Muthia Saputri {Hanna} Adik Hafidzh - Adinda Nur Aldiva {Aldiva} Sahabat Ara + Sepupu Hafidzh - Buya Zakaria Saputra {Buya Hafidzh} - Umi Fatimah Abdullah...
