"Tong, tong, tong, Allahu Akbar Allahu Akbar, Alhamdulillah". Ara yang sedari tadi terbangun mengucap syukurnya pada Sang Kuasa.
Sudah rutinitas semenjak berada dipondok pesantren, Ara akan terbangun sebelum subuh untuk melaksanakan sholat sepertiga malam, lalu akan dilanjut dengan menambah hafalannya, selalu seperti itu hingga sering beberapa temannya menjadi ikut dalam kebiasaan itu.
"Tok, tok, tok.. ayo mba subuhan... tok, tok, tok..". Dan tak lupa salah satu rutinitas subuh yang tak boleh terlewat adalah menggobreg atau bisa dikatakan membangunkan mengingingatkan kegiatan yang akan dilaksanakan waktu itu.
"Mba Ainun, Mba April, Mba Nabila, bangun yuk, kita sholat subuh jama'an". dengan telaten Ara mulai membangunkan satu persatu santriwati disalah satu kamar.
"Iya mba Ara, Ainun sudan bangun". Jawab salah satu santriwati tadi.
"Nanti kalau ada yang tidur lagi tolong bangun kan ya.. mba mau lanjut kekamar yang lain dulu, oiya kamu sekarang langsung wudhu ya.., setelah itu langsung kemusholah sunnahan dulu". Ucap Ara mengingatkan.
"Iya mba Ara siap laksanakan". tanpa menunggu lama, hanya dengan mendengar perintah Ara tersebut santriwati itu langsung beranjak dari duduknya
setelah itu bergegas Ara menju kekamar selanjutnya untuk melakukan hal yang sama, ketika semua santriwati sudah dipastikan semuanya menuju musholah barulan Ara menyusul.
selesai melakukan kegiatan sholat subuh berjama'ah, semua santriwati bergegas mengambil mushaf masing-masing dan kembali ketempat semula untuk melakukan kegiatan Asmaul Husnaan lalu dilanjut dengan deresan Yasin setelah subuh tak berhenti sampai disitu, selesai dari membaca Yasin maka dengan sendirinya semua santriwati akan membentuk sebuah barisan memanjang untuk memulai ngaji *Sorogan bersama Umi Fatimah. *Ngaji face to face, atau ngaji yang disema' satu persatu.
dengan santriwati yang hampir menyentuh angka 200 itu, tak semuanya mengaji dengan umi, metode mengajinya dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama anak baru dalam artian mereka yang masih mengaji juz 'amma akan mengaji dengan pengurus komplek, kelompok kedua anak menengan atau biasanya mereka yang baru saja menyelesaikan juz 'ammanya dalam artian mereka yang baru menginjak juz 1 sampai dengan juz 5 akan mengaji dengan pengurus pusat dan kelompok yang ketiga adalah kelompok anak akhir atau mereka yang sudah lancar membaca Al-Qur'an dan siap untuk mengkhatamkannya maka mereka akan langsung mengaji dengan Umi Fatimah.
Dengan begitu otomatis Ara kebagian tugas sebagai pengajar anak menengah. selesai menyema' beberapa santriwati karna kepengurusan pusat tidak hanya Ara itu artinya tidak semua santriwati menengan mengaji padanya, Ara pun segera melangkahkan kakinya keluar musholah, lalu bergegas menuju rooftop, disana biasanya menjadi tempat Ara menambah hafalannya selain dikamar.
Tanpa disadari matahari mulai naik, panasnya terasa menyengat kulit Ara yang masih terbalut mukenah, bergegas Ara turun menuju kamarnya, suasana pondok kini sudah sepi jam menunjukkan pukul 08.15, seluruh santriwati sudah berangkat kesekolah, jika ditanya apa Ara tidak sekolah? jawabannya iya karena Ara ingin menyelesaikan hafalannya terlebih dahulu.
Dengan segera Ara menyambar handuknya pergi menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya, selesai dari mandinya Ara pun bergegas menuju ndalem, jam-jam segini memang jadwalnya Ara menyetorkan hafalnnya kepada Umi Fatimah.
###
"Beruntung banget mba Ara sudah cantik, baik, hafidzoh pula, cocok sama gus Hafidzh".
"Iya kalo mereka beneran, aku dukung deh aku giring sampe sah".
"Mba Ara tutor dong, biar bisa deket sama sepupunya gus Hafidzh yang lain, kan Gus Hafidzhnya udah sama mba". tiba-tiba seorang santriwati datang menghampiri Ara.
Ahh, baru saja mendengar hal-hal yang sebenernya Ara sudah tau arahna menuju kemana, lah sekarang dihampiri seorang santriwati dan meminta tutor padanya?, yang benar saja, Ara sendiri bukannya mau hal itu terjadi, semua itu tidak disengaja bahkan Ara sendiripun tidak mengetahuinya.
karna sedang lelah, ya Ara baru saja menyelesaikan setoran hafalannya dan ditambah Umi yang secara tiba-tiba menanyakan perkembangan santri, semua itu membuah tenaga Ara terkuras habis, jadilah Ara hanya membalas santriwati tersebut dengan senyuman sekedarnya.
"Tuh kan cuma dibales senyum doang, fiks sih ini, pasti ada apa-apa". ujar santriwati yang meminta tutor setelah Ara melangkah menjauh darinya.
sesampai dikamar Ara langsung merebahkan badannya diatas tumpukan kasur yang tadi pagi dibereskan oleh Mba Nur, " Tuh kan apa Ara bilang, gini nih kalo udah Fitri yang denger pasti bocornya cepet banget, terserah deh mereka mau mikir apa, ahh.. bukannya gak suka sih tapi kan kalau Umi Fatimah tau bahaya". gumam Ara pada dirinya sendiri.
karna memang sudah faktor alam apapun itu jika sudah terdengan oleh Fitri ya sudah, siap-siap saja seluruh santriwati akan tau dengan sekejap, jangankan santriwati mungkin saja kabar ini sudah sampai pondok putra.
###
"Oalah, mba Ara yang cantik itu toh, pujaan hatiku, kenapa bisa kecantol kang Hafidzh". Ucap salah satu santri putra bernama Fikri.
"Jangan ngarep kamu Fik, sainganmu anak pak kyai". sahut temannya yang berambut belah dua.
Yeay!!!, UP lagi nih.. hehehe lagi mod banget buat lanjutin nih,
ayok dong ramein ceritanya,
jangan lupa tinggalkan jejak apapun ituu.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Berawal Dari Kagum
DiversosTOKOH : - Kiara 'Ulya Az-Zahra {Ara} Tokoh utama - Muhammad Hafidzh Saputra {Hafidzh} - Hanna Muthia Saputri {Hanna} Adik Hafidzh - Adinda Nur Aldiva {Aldiva} Sahabat Ara + Sepupu Hafidzh - Buya Zakaria Saputra {Buya Hafidzh} - Umi Fatimah Abdullah...
