Bab 6, Sindir Menyindir

13 2 0
                                        

     Jika kalian masih belum bisa menjaga perasaan orang lain, setidaknya kalian dapat menjaga kata-kata yang keluar dari mulut kalian agar tak ada orang yang tersakiti.

~Ara

#Kiara 'Ulya Az-Zahra

    ini malam jum'at, yang artinya akan diadakan kegiatan mingguan yakni marhabanan bersama dilanjut dengan pengumuman yang akan dilaksanakan dimusholah pondok oleh seluruh santriwati.

     sekarang seluruh santriwati sudah berkumpul dimusholah tanpa terkecuali, suasana menegangkan kini menyeruak diseluruh penjuru ruangan, marhabanan baru saja selesai beberapa manit yang lalu, kini suara mic berpindah tangan terdengar diseluruh ruangan.

     "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh saya disini selaku perwakilan pengurus pusat akan menyampaikan beberapa hal yang sebagian adalah printah langsung dari Umi Fatimah, baik langsung saja, yang pertama tak pernah bosan saya mengingatkan mengenai kebersihan, dalam seminggu ini saya perhatikan kebersihan disetiap komplek sudah lebih baik dari sebelumnya saya acungi jempol bagi kalian". ucap Aghni selaku keamanan pondok, dan disambut tepuk tangan seluruh santriwati.

      Etss jangan bahagia dulu, suatu hal yang semua santri sudah tau, seorang Aghni tidak akan mengumumkan hal yang menegangkan diawal, semua itu akan dibuka diakhir dan akan membuat suasanya berubah menjadi panas.

     "pengumunan kedua akan disampaikan oleh pendidikan, untuk Mba Ara dipersilahkan". jangan heran jika semua santriwati disini saling memanggil Mba satu sama lain, selain memang untuk menghormati orang yang lebih tua, biasanya juga digunakan untuk saling menghormati satu sama lainnya, tanpa memandang umur pastinya.

     Aku yang mendengar namaku disebut secara sepontan menatap orang yang menyebut namaku itu, apa ini Aghni?, kan tadi sudah dibicarakan. ucapku tanpa suara.

     "Biar kamu bisa berani menyampaikannya sendiri Ra.. biar kamu terlihat mempunyai wibawa seorang pengurus, biar santri-santri gak selalu menyepelekan kamu". balas Aghni berbisik.

     Ya selama masa kepengurusan jujur saja ini kali pertama aku akan menyampaikan pengumuman didepan seluruh santriwati, bukan karna apa-apa ini pengalaman pertamaku menjabat kepengurusan, pusat pula tidak mudah untuk beradaptasi.

     Diiringi dengan tarikan nafas yang cukup panjang dan dalam akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara. "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, baik saya disini akan membawakan beberapa point, point pertama soal sholat jama'ah masih ada saja beberapa santri yang tak mengikuti jama'ah dimusholah mengenai soal itu Umi sendiri yang menyarankan agar santri tersebut mendapatkan taziran, lanjut kepoint yang kedua masih berhubungan dengan point pertama yaitu akan diadakannya pengabsenan jama'ah lima waktu sebagai bentuk laporan tingkatan santri dalam berjama'ah dengan harapan setelah adanya absen seluruh santri dapat lebih rajin lagi dalam melaksanakan jama'ah, lanjut kepoint terakhir yakni mengenai hal yang sedikit sensitif tapi tetap harus disampaikan, beberapa santriwti pondok pesantren kita terpergok memiliki seorang kekasih..

###

     Setelah beberapa menit setelah selesainya pengumuman, disini masih ditepat yang sama. "Jujur Aghni kaget enger ada kabar kaya gitu juga karena waktu Ara kasih catetan point-point pengumuman yang tadi Aghni gak baca kan emang niat mau Aghni balikin keAranya, sekarang kalo udah kaya gini mau gimana, gak ada jalan lain Umi juga udah tau bukti-bukti juga udah kekumpul semua, kalian harus siap dengan konsekuensinya berani brbuat berani tanggung jawab juga kan?!". Oke jika sudah seperti ini pasti akan terjadi keributan yang lebih rebut dari trending yang kemarin.

     "Gak bias gini dong Ni, kita cuma manusia yang gak bisa ngendaliin perasaan kita mau jatuh kesiapa!". Dengan nada yang naik Melie salah satu santriwati yang terpergok pacaran dengan santri putra.

     Lebih dari satu, itu yang membuat seorang Aghni terkejut ketika mendengar nama-nama anak yang terpergok memiliki kekasih itu, bagaimana bisa semuanya ada lima santriwati dan dua diantaranya termasuk jajaran kepengurusan meski bukan pengurus pusat tapi hukumanya akan berbeda, apalagi Umi sudah tau.

     "Gabisa gimana?, bisa dong kan kalian yang ngelakuin hal itu, yang jelas-jelas aturan pesantren melarang keras harusnya kalian faham dengan apa yang kalian lakuakan terutama untuk para pengurus komplek yang ternyata tak ada bedanya dengan yang lain, mana tanggung jawab kalian sebagai pengurus jika keakuan kalian tak ada bedanya dengan santri yang lain". Jika sudah bengini tak ada yang bisa melerai, Aghni yang sudah mulai panas hanya karena sebuah penolakan dari Melie.

     "Kalian harus menerima taziran besok tepet jam 11.30, didepan gedung secretariat putra". Telak selesai sudah riwayat mereka semua, satu keputusan sudah terucap dari mulut seorang Aghni.

     "kalo gitu Ara juga harus ikut ditazir!!". Seru Wyna salah satu kepengurusan komplek yang terlibat.

     "Apa hubungannya dengan Ara?!". Bukan, itu bukan Ara yang menjawab tapi Fitri yang tak terima temannya ikut terbawa, sedangkan Ara yang namanya ikut tersebut sontak mendongakkan kepalanya mengarah tepat kepada orang yang baru saja menyebut namanya.

     "Tentu ada hubungannya, memang kalian tidak dengar cerita kemarin bukannya tak ada bedanya Ara dengan kita bahkan jika dilihat lagi justru Ara lebih hina dari pada kita, tak tau malu, bisa-bisa dia bangga dengan apa yang sudah dia perbuat". Semua orang yang ada disana terkejut dengan perkataan Wyna barusan, apa maksudnya jika ini berhubungan dengan kejadian kemarin tentu ini tak ada sambung menyambung dengan yang sedang mereka bahas sekarang, hal kemarin itu bukan keinginan Ara.

     "Kenapa kalian diam, tak bisa menyangkal bahwa pendidikan pusat pondok kita ternyata terlibat hubungan lebih dengan anak nyai kita sendiri, wah hebat sekali kalian bahkan kalian menyembunykan hal ini sekian lama, hingga salah satu dari kalian sendiri yang membongkarnya, lihat bagaimana wajah sah penghianat itu sekarang". Yak! Apa lagi ini, Wyna berbicara dengan pedenya sambil menunjukkan jarinya tepat didepan muka Fitri.

     Fitri yang ditunjuk mulai bergetar, bukan karena takut tapi karena amarahnya sydah sampai ubun-ubun.

     "Cukup!!, Jika kalian masih belum bisa menjaga perasaan orang lain, setidaknya kalian dapat menjaga kata-kata yang keluar dari mulut kalian agar tak ada orang yang tersakiti.". Semua orang sekarang kembali terdiam, semua orang yang terlibat dalam perseteruan tadi menundukkan kepalanya dalam, takpernah melihan Ara semarah itu meski dengan nada yang cukup tenang namun kata-kata yang terdengar cukup membuat suasana lebih mencekam.




UP lagi nih guys,

Semoga kalian suka ya.. sama bab kali ini,

Yuk busa yuk, mampir.. jangan lupa tinggalin jejak yaaa

Sampai ketemu di Bab selanjutnya...  

Berawal Dari KagumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang