4. Bertemu

182 10 1
                                        

Ting!

Pintu linft terbuka menampilkan sosok gadis yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.

Wajahnya yang cantik kini terlihat pucat, rona merah yang menghiasi pipinya kini terlihat pada bagian hiduang. Matanya hanya menatap kosong, terlihat sayu, menandakan s empu yang tak ada semangat sama sekali.

Dia membuang napasnya untuk yang kesekian kali.

"Berapa jam gue tidur?" Tangannya mengusap rambutnya asal. Seolah berfikir apa yang kemarin ia lakukan hingga Geby baru terbangun pagi ini.

Terakhir yang Geby ingat dia mengamuk tak jelas setelahnya Geby tak ingat apapun lagi. Tepat pada pukul 06.00 seorang pelayan mengetuk pintunya menyuruh Geby untuk bersiap.

Memasuki ruang makan bisa di lihatnya kedua saudaranya sudah duduk di sana.

Geo dengan tab juga kopi panasnya terduduk di kursi sang kepala keluarga.

"Duduk Geby."

Ghea yang sadar kedatangan sang adik langsung menyuruhnya duduk. Dia dengan sigap menyiapkan sepotong roti dengan selai coklat kesukaan adiknya.

"Kemarin kamu gak makan apapun, kakak panggil pun pintunya gak di buka. Marah karena bang Geo marahin kamu?"

"Atau kamu memang sengaja Geby? Ingin membuat kakak dan abang semakin marah."

Geby hanya bergeming. Matanya tak lepas dari tangan cekatan milik Gea.

Tak

Segelas susu tersaji di depannya. "Sekarang makan dan habiskan susumu. Kakak gak mau ada protesan apapun pagi ini."

"Anggap ini sebagai hukuman kamu yang sudah nakal itu."

Meski terdengar tajam Gea berbicara panjang lebar seperti itu tanpa intonasi sedikitpun. Seperti biasa kakaknya itu akan berucap dengan datar namun kata-katanya itu masih terselip kelembutan.

Jika Geo sangat protektif maka Ghea yang akan mengomelinya habis-habisan.

"Maaf. Geby minta maaf untuk kejadian kemarin."

Keduanya mendongak kala memdengar suara Geby yang nampak serak. Bisa mereka lihat kondisi Geby tidak cukup baik. Wajahnya pucat dengan hidung yang memerah. Matanya pun terlihat sedikit bengkak.

Tak sadar akan tatapan keduanya Geby nampak anteng dengan makanan miliknya. Tatapannya masih terlihat kosong. Geby masih mengingat kejadian kemarin yang membuat gejalanya kambuh kembali.

Kecemasan yang berlebihan.

Lihat saja meski s empu nampak tenang namun kedua tangannya itu terlihat bergetar. Sesekali tangannya mengerat pada sendok miliknya.

Dan mereka melihat gelagat aneh itu.

Segera Ghea mendekat. Punggung tangannya ia simpan pada kening sang adik. Itu terasa hangat.

"Kamu sakit."

Sang kakak pertamanya pun langsung sigap. Menarik kursi Geby agar mendekat ke arahnya.

"Kita ke rumah sa—"

"Geby gak papa." Tangannya menepis tangan Geo yang ada di keningnya.

Deg

Geo terpaku melihat sikap adiknya. Tatapan matanya meredup melihat tangannya yang tadi di tepis.

"Kamu sakit sayang, kita ke rumah sakit yah?" Nada suaranya melembut melihat adiknya yang sakit. Tentu Ghea khawatir. Geby adiknya jarang sekali sakit. Dia memiliki imun yang cukup bagus seperti dirinya juga Geo.

Hi, Liebling!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang