Kembalinya Geby ke kelas bertepatan dengan bel masuk. Membuat Geby tak sempat mengobrol dengan Nindi. Dia terlihat gusar sekaligus takut.
Melihat kegusaran gadis itu Nindi melempar sebuah kertas ke mejanya di tengah jam pelajaran.
Geby mengambil kertas tersebut dengan bingung. Di bukanya kertas kusut itu pelan sembari mencuri-curi pandang ke arah depan. Takut sang guru memergokinya.
Gue gak marah sama lo. Enjoy aja Ge, eh gue udah boleh manggil lo Geby kan?
Saat membacanya Geby tersenyum. Syukurlah Nindi tak salah faham.
Geby hanya tak ingin gosip itu kembali naik. Di sekolahnya dulu mungkin masih panas dengan cerita itu sudah melegenda saja istilahnya. Tapi di sekolah ini, Geby ingin memulainya kembali.
Dengan Heksa yang mengambil andil.
Jika gosip itu naik bisa-bisa mereka beranggapan dirinya gila. Yang terus mengejar-ngejar Heksa hingga rela kembali ke tanah air.
Mungkin jika situasinya berubah gosip itu akan melenceng jauh. Tentang Heksa yang menyesal telah menolak Geby dulu dan membuat gadis itu pergi.
Baru satu langkah yang dirinya buat hingga gosip tentang Heksa yang mengklaimnya. Tinggal langkah-langkah berikutnya. Dari sana Geby tak masalah jika gosipnya dulu booming kembali.
Istirahat kedua, Geby juga Nindi memilih berdiam diri di kelas.
"Udah lo santai aja Ge, gue gak marah cuman agak terkejut." Jari telunjuk juga jari tengahnya ia gerakan🤏 simbol keterkejutannya sebesar itu.
"Gue bukannya gak mau jujur cuman gak mau topik itu naik lagi." Hela napasnya terdengar lemah.
"Bukannya bagus yah? Jadi gosip lo s anak miskin langsung terhempas."
"Itu sih pemikiran lo." Dengusnya. "Yang gue pengen bukan itu. Ah lo liat aja nanti deh."
Nindi mengangguk. "Setelah lo pergi 2 tahun lalu kenapa sekarang lo balik lagi ke Indo? Sorry kalau gue lancang cuman gue penasaran aja."
"Ini cuman spekulasi gue yah, lo pergi biar topiknya meredam aja sekaligus ngejauhin Heksa. Sepeti gosip yang pernah gue denger dulu."
Geby menggeleng. Bercerita pada Nindi tidak buruk juga bukan?
"Ada yang perlu gue lakuin di sini. Lagi pula gue pergi karna bokap meninggal."
"Sorry Ge gue gak maksud. Turut berdukacita yah buat bokap lo." Tangannya mengusap bahu gadis itu pelan.
"Thanks." Senyum tipis terukir di wajahnya. "Gue di kirim ke sana karena di sini gak ada siapa-siapa lagi. Kakak-kakak gue juga waktu itu masih terlalu muda buat ngurusin gue. Makanya gue balik ke Eropa."
"Setelah semuanya beres paman gue bilang, gue bisa balik lagi ke Indonesia dan kumpul sama kedua kakak gue. Ya jelas gue setuju Nin."
"Meski Eropa tempat kelahiran gue, gue lebih seneng di sini. Karena di sini gue deket sama papah."
"Intinya ini soal problem keluarga. Gak ada hubungannya sama Heksa."
"Lo— gak papa nyeritain ini ke gue?"
"Apa yang harus gue takutin? Lo sendiri manggil gue Geby, berarti kita sedeket itukan?"
Senyum Nindi merekah. "Makasih Ge, lo juga teman terbaik gue eh nggak tapi sekarang kita sahabatan." Jari kelingking nya ia sodorkan. "Ayok pinky promise."
"Pinky promise."
Tawa keduanya terdengar indah nan lepas.
Mereka berdua pada akhirnya menemukan orang yang tepat, tanpa ada sesuatu di dalamnya. Sebuah pertemanan yang murni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, Liebling!
Roman pour AdolescentsCara biar gebetan lirik balik itu gimana caranya? Geby punya 1001 cara buat narik doi ke sisinya. Di buat gila juga karena hilangnya dia di hidupnya. Resikonya? Di kejar secara ugal-ugalan. "Kali ini akan gue buat lo sendiri yang ngejar gue." _G ...
