"Hoam."
"Jorok lo. Tutup kek tu mulut." Lion menatap s empu sinis.
"Masih ngantuk gue." Tangannya menggaruk kepalanya asal.
"Mandi gak lo? Curiga gue kalau lo gak mandi."
Bagaimana tidak? Kondisi lelaki itu sungguh menjijikkan baginya. Baju seragamnya terbuka menampilkan kaos oblong putih, celana miliknya robek di bagian dengkul, dan wajahnya? Masih wajah bantal. Rambut coklatnya pun berantakan yang sedari tadi ia acak-acak.
"Sini lo cium ketek gue, wangi begini lo ngira gue gak mandi. Sialan lo Yon." Sewot Tristan.
Lion hanya menatapnya ngeri sekaligus jijik. Tristan temannya itu tak bisa yang namanya bangun pagi. S lelaki bule itu memang kebonya bukan main.
"Berisik lo pada." Heksa berdiri di tengah mereka. Keduanya memang sering kedapatan cekcok yang kadang membuat Heksa pusing sendiri. Apalagi jika di satukan dengan Galen, lengkap sudah penderitaan dirinya.
"Kita ngapain masuk pagi-pagi sih Sa? Biasa juga kita masuk siang." Keluhnya. Dia masih mengantuk setelah semalam begadang main PS bersama saudaranya.
"Gue mau mastiin sesuatu."
Kedua saling tatap tak mengerti apa yang sahabatnya katakan.
"Cabutt."
Kedatangan ketiganya menjadi pusat perhatian. Semua siswi heboh ketika melihat most wanted datang sepagi ini. Biasanya mereka baru bisa melihatnya pada jam istirahat.
"Heksa makin ganteng aja anjir."
"Haha liat deh s Tristan muka bantal banget."
"Tapi ganteng woyy!"
"Mending Lion gue sih kemana-mana. Udah ganteng, rapih, pinter pula."
"Percuma njir kalau posisinya ada di samping Heksa. Tetep aja Heksa kita yang menang."
"Yee kalau gitu mah kalah jauh namanya."
Mendengar pujian untuknya membuat Tristan berdiri tegak, dia membenarkan rambut berantakannya sembari menebar senyum lebarnya.
"Liat Yon mereka muji gue ganteng. Emang cuman mata lo doang yang bermasalah."
Lion hanya mendelik. "Selera merekanya aja yang jelek."
Tristan terjengit, dia memegang dadanya dramatis. "Anjir lo Yon sakit hati dede."
Plak
"Jijik." Suaranya terdengar renyah kala ia memukul kepala Tristan.
Lelaki itu memberenggut. Jika sudah Heksa yang bicara dia hanya bisa diam.
Dengan wajah cemberutnya Tristan berjalan di belakang Heksa. Di sampingnya Lion terkikik geli.
"Rasain lo." Ucapnya tanpa suara.
"Sialan lo Yon."
Mata keduanya saling melempar permusuhan. Bahunya saling dorong pelan sebuah aksi protes tanpa banyak bicara.
Heksa menghela napas. Keduanya tak akan pernah selesai bila sudah seperti itu.
Saat ketiga hampir tiba di dekat Lift Heksa melihat siluet seseorang yang ia kenali.
"Gue punya seseorang yang masih gue kagumi sampai saat ini."
Langkahnya melambat kala mendengar suara itu.
"Geby?" Gumamnya.
Tak salah lagi gadis di depannya adalah Geby. Lantas Heksa mempercepat langkahnya.
"Hanya kagum?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, Liebling!
Fiksi RemajaCara biar gebetan lirik balik itu gimana caranya? Geby punya 1001 cara buat narik doi ke sisinya. Di buat gila juga karena hilangnya dia di hidupnya. Resikonya? Di kejar secara ugal-ugalan. "Kali ini akan gue buat lo sendiri yang ngejar gue." _G ...
