12. Tanda tanya(?)

59 3 0
                                        

Sembari menunggu Ghea di parkiran Geby duduk mengemper di tanah. Tubuhnya ia sandarkan pada ban mobil, kepalanya kini terasa berat, berdenyut sakit dan bibirnya pun perih.

Bagaimana tidak? Lukanya cukup besar, darah pun sedari tadi merembes. Belum bibirnya yang sobek.

Lumayan juga tenaga tu cewek.

Geby membuka kembali handphonenya, Ghea sudah dalam perjalanan kemari. Dia juga mendapat pesan dari Geo bahwa lelaki itu akan datang menjemputnya. Geby tentu menolaknya langsung dan bilang Ghea yang akan mengantarnya.

Di ambang kesadarannya Geby berusaha mengetik beberapa pesan pada seseorang.

Salin cctv di koridor satu pagi ini gue mau hasilnya skrg! Satu lagi buat anjlok saham Halim

Sudah di katakan bukan? Geby selama di Eropa belajar banyak, selain bela diri dia juga cukup berkecimpungan dalam dunia bisnis. Kecil memang tapi jika di banding keluarga Halim masih Geby yang lebih unggul.

Dia juga ikut dengan sang paman di dunia bawah, tanpa sepengetahuan kedua saudaranya.

Setelahnya ia mematikan handphone miliknya total.

Untuk sekarang Geby harus menghindar dari teman-temannya dulu. Belum waktunya mereka tahu siapa dirinya termasuk Heksa.

"Dek!" Ghea menghampirinya dengan panik. Wajahnya terlihat mengetat tapi berusaha ia tahan, saat ini keadaan adiknya yang lebih penting.

"Kok bisa gini sih?"

"Kak~" panggilnya lemah. Matanya berkaca saat melihat kakaknya. "Kepala adek pusing."

"Sini kakak gendong." Ghea membuka pintu samping kemudi lebih dulu lantas menggendong adiknya ala bridal style.

"Tahan bentar yahh kita ke rumah sakit sekarang."

"Adek gak tahan.. mata adek rasanya berat." Lirihnya. Wajahnya sudah pucat pasi, Geby berada di ambang kesadarannya. Rasa sakit di kepalanya tak bisa ia tahan lagi.

"Jangan tidur dek, tahan bentar yah." Ghea panik melihat adiknya terluka parah. Siapa bajingan yang berani main-main dengannya?

Gadis itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal, mengabaikan berbagai makian dari pengendara lain. Yang ia pikirkan sekarang keselamatan Geby.

"Adek gak kuat.." lirihnya. Matanya perlahan terpejam dan kesadaran Geby terenggut habis saat itu juga.

"ADEK! ADEK BANGUN SAYANG, JANGAN BUAT KAKAK PANIK." Ghea berteriak memanggilnya. Tubuh adiknya terduduk lemas tak sadarkan diri!

Tangannya mencengkram stir kemudi. "Sialan! Siapa yang berani nyakitin adek gue?" Marahnya. Mobilnya semakin kencang membelah jalanan tak perduli jika nanti dia akan menabrak pengendara lain, tujuannya sekarang rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit Victoria Ghea bisa melihat Geo di sana.

Geby langsung di tangani oleh dokter. Kepala adiknya terluka parah hingga ada 4 jahitan di dahinya. Pipinya membengkak dan bibirnya sobek.

Mereka yang mendengarnya pun sangat marah.

"Biar Ghea aja yang turun."

"Nggak! Abang gak mau tangan kamu kotor Ghea, biar abang aja yang ngurus semuanya."

"Sejak kapan tangan Ghea bersih bang?"

Geo terdiam. Selain Geo yang aktif di dunia bisnis Ghea pun yang turun menggantikan Gibran di dunia bawah. Awalnya Geo menolaknya keras tapi gadis itu lebih keras darinya.

Selain Ghea perempuan jelas Geo khawatir, semua tanggung jawab itu harusnya ada padanya bukan pada Ghea adiknya.

Tapi apalah daya Geo hanya bisa menurutinya. Kini fokusnya pada perusahaan sang papah setelah stabil seperti sekarang Geo akan kembali pada dunianya.

Hi, Liebling!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang