1. Sekolah baru

272 13 0
                                        















Kring! kring! kring!

Suara lonceng sepeda itu membelah kerumunan siswa siswi SMA Angkasa.

Di tengah lautan manusia dia melewatinya dengan begitu santai. Beberapa memotretnya sembari mencibirnya.

"Lihat anak miskin dari mana tuh?"

"Wahh ada umpan baru nih."

"Cantik cuy."

"Halah kalau cantik tapi miskin mah ngapain? Palingan nanti kena bully anak-anak."

"Haha kasian deh anak itu bakalan jadi sasaran anak-anak."

Sepeda tua yang terlihat antik itu ia gayuh dengan pelan. Sesaat memarkirkannya di dekat post satpam.

"Pak. Saya titip sepeda saya yah."

Sang satpam menatapnya prihatin. Dia hanya mengangguk sebagai balasan.

"Kasian." Gumamnya.

Setelah memastikan sepedanya aman dia berjalan masuk ke pekarangan sekolah.

Kakinya melangkah dengan ringan mengabaikan pandangan semua orang padanya. Dengan santai dia memasang dasi miliknya seraya membenahkan baju seragamnya yang sedikit kusut.

Matanya memindai sekolah barunya. Sekolah ini sangat besar dan mewah? Semua fasilitas ada. Mereka memanjakan semua murid yang bersekolah di sini.

Tentu saja,  ini bukan sekolah sembarangan. Sekolah bergengsi yang cukup populer. Hanya orang-orang berduit yang mampu memasukinya. Bahkan untuk seukuran anak beasiswa mereka harus mengejar pembelajaran yang cukup sulit dengan IQ tinggi yang di milikinya.

Sekolah ini cukup ketat akan pembelajarannya terlebih penjagaan mereka.

Membolos aja pun sepertinya sulit kecuali untuk anak-anak berandalan yang terampil. Masih bisa mencuri-curi waktu untuk membolos.

Tak hanya itu. Sekolah Angkasa banyak sekali membawa penghargaan dengan siswa siswinya yang berbakat.

Bisa di bilang cukup ketat juga.

Sisi gelapnya adalah sekolah Angkasa mempunyai siswa siswi yang menjunjung tinggi keseteraan. Siapa yang paling memiliki kekuasaan tertinggi dia lah yang bisa mengatur semua siswa siswi di sini.

Derajat keluarga mereka yang paling berpengaruh.

Semakin keluarga kalian kaya semakin tinggi pula kekuasaannya.

Dan yang tak punya apapun, mereka jadi bulan-bulanan bully anak-anak orang kaya.

Maka satu yang bisa di pegang. Kalian harus kuat mental. Lahir maupun batin.

Okeh. Mungkin itu terdengar lebay.

Back to topic!

Kondisi koridor mulai sepi sebab bel 5 menit lagi akan berbunyi. Dia berhenti sejenak, melihat sekeliling yang bisa membantunya.

"Ck. Baru hari pertama tapi rasa-rasanya buruk." Decaknya.

"Ini gak ada manusia satu pun yang mau bantu gue gitu?" Jas yang sedari tadi dia pegang ia sampirkan di sebelah bahunya.

Sekilas gadis itu terlihat berandalan. Cara berdirinya tak sedikitpun terlihat anggun. Dengan sebelah tangannya yang ia masukkan ke saku rok.

Celana olah raga di rangkap dengan rok, tas di sampirkan dengan jas di atasnya, dasinya terlihat miring dengan rambut cepolnya yang acak-acakan.

Hi, Liebling!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang