─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bocah berumur 8 tahun itu terbangun dari tidurnya, matanya langsung terbuka lebar tanpa ada aba-aba sedikit pun, tubuhnya terduduk di pinggir kasur, kakinya berusaha menggapai lantai namun ia tidak bisa menyentuhnya.
Kasur itu terlalu tinggi sehingga kaki Rin seakan melayang, dengan kehati-hatian ia melompat dari kasur dibantu dengan kedua tangannya, berjalan ke arah pintu yang terbuka seraya mengucak matanya.
Pandangannya masih kabur, jadi Rin hanya menggunakan insting supaya ia tidak menabrak sesuatu saat ia sedang berjalan. Meski Rin merasa ada yang aneh dengan tempat ini, bukan ruangan yang biasa ia singgahi.
Namun Rin tetap berjalan tidak tentu arah, sampailah kakinya menginjak sesuatu yang hangat, Rin menurunkan tangannya, mengedipkan matanya berkali-kali dan tersadar ia sudah berada di dapur.
Tapi, bukan dapur di rumahnya.
"Abang?"
Ruangan itu gelap, dan mata Rin masih tidak bisa sepenuhnya berfungsi, insting anak kecilnya membuat Rin tanpa pikir panjang langsung memeluk siluet seseorang yang sedang berdiri di depan kulkas.
Otaknya tidak bisa berfikir jernih, Rin lupa kalau sang abang yang ia maksud sedang tidak berada di dekatnya.
"Eh? Rin?"
Rin yang sedang memeluk pinggang orang itu terdiam, kebingungan karena orang yang ia anggap Abang itu mempunyai suara yang tinggi dan lembut.
"Rin kok belum tidur jam segini?"
Siapa ini?
Otak Rin justru berpikir ini adalah setan yang menyamar menjadi sang Abang dan lupa mengganti suaranya, namun ia salah ketika orang itu menekan saklar yang membuat lampu menyala, menusuk langsung ke bola mata Rin.
Orang itu tersenyum manis, membalikkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Rin yang hanya bisa menundukkan kepalanya, Rin mengetahui kesalahannya karena sudah menyentuh orang sembarangan.
"Rin kangen Abang ya?" Tanya orang itu sembari menyentuh Surai hijau Rin.
Rin mengangguk, "Kakak kok tau nama Rin?"
"Kakak temennya abang kamu, kebetulan emang sering ke sini setiap malam sampai pagi buat ngecek anak-anak."
"Maafin Rin ya kak udah meluk kakak sembarangan, Rin kira tadi Abang."
Semburat kecewa bisa orang itu lihat di wajah Rin, matanya langsung mengekspresikan bahwa ia sedang depresi, tapi, tidak seperti biasanya, Rin tidak terlihat ingin menangis.
"Gapapa, Rin bakal di sini sampe Abang pulang kan? Nama kakak Anri, nanti kakak ajak Rin buat jalan-jalan kalo lagi kosong, mau?" Rin mengangguk.
"Ya udah, sekarang Rin tidur gih, udah malem, nanti diomelin Abang loh." Anri mencubit pelan hidung Rin membuat bocah itu terkikik lucu.
"Rin boleh minta gendong kak? Abang Sae biasanya gendong Rin buat masuk kamar, maaf ya Rin kayak anak kecil."
Anri memekik dalam hati, seperti anak kecil? Rin kan memang masih anak kecil. Dan untuk permintaan itu, tentu saja Anri tidak menolak, ia mengangkat tubuh kecil Rin yang lumayan ringan, membawanya ke kamar.

KAMU SEDANG MEMBACA
• 𝗛𝗲𝗺𝗹𝗼𝗰𝗸
Cerita Pendek. . . "Life is like weather. Cloudless, raining, snowing. Either can happen. What about an umbrella? I keep holding one. So let's get under it together." Character by Muneyuki Kaneshiro. Start : 31 Maret 2024 End : -