Chapter 8 - Done

320 57 10
                                    










__


SEMAKIN lengket saja hubungan Jilly dengan Vale. Tapi, tidak mengubah segalanya tentang hubungan Jilly dan Joshua. Bagi Jilly, dirinya memang kepalang bodoh karena membiarkan penderitaan hidup di dalam dirinya. Padahal ia sudah sepenuhnya sadar kalau hubungan asmaranya bak duri beracun.

Baik bagi dirinya, maupun Joshua.

Sejak dulu Jilly adalah tipikal kekasih yang cukup manja, bahkan di saat Joshua sedang rapat organisasi pun, dirinya bisa saja menunggu di dalam ruang sekret sampai rapat BEM selesai. Lalu, perlahan semua berubah, tepat di saat kehadiran Vale dalam hidup Jilly.

Joshua pernah marah besar di hadapan tongkrongannya. Berkata dengan raut wajah kelelahan dan sakit, bahwa Jilly sangat membebani hidupnya. Ketika pertengkaran hebat itu terjadi, di sana pula teman dekat Jilly berperan sebagai penonton layar lebar, salah satunya adalah Flo.

Di dalam dekapan Vale, Jilly memejamkan kedua matanya mencari ketenangan yang telah ia dapatkan bersama Valerio. Lelaki berpenampilan culun, namun mampu menjadi tempat Jilly mengisi daya energi pada hidupnya.

"Vale, bosan ya dengerin ceritaku?" Tanya Jilly. Terhitung sudah 2 Minggu semenjak Jilly melakukan hal tak terduga pada Vale, keduanya sudah tak pernah melakukannya lagi, hanya berciuman. "Soalnya sama aja."

Berciuman bagi mereka adalah menyalurkan emosi, bukan hanya nafsu. Jilly merasakan perbedaan antara Joshua dan Valerio. Dua jantan yang sangat amat berbeda.

Vale mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, kedua tangannya menangkup wajah Jilly dengan perlahan, memerhatikan setiap pahatan indah pada rupanya. Bikin debaran tak karuan seperti biasanya hadir.

Sial. Vale ingin sekali melindungi si mungil sebagai kewajiban penuh dari hidupnya.

"Kata siapa aku bosan? Justru, aku lega kalau kamu cerita, tandanya nggak ada sesuatu yang dipendam. Hal yang dipendam itu nggak baik, Ji." Kata demi kata yang keluar dari bibirnya selalu membuat hati kecil Jilly mencelos.

"Ji, dengan atau tanpa adanya seseorang yang memahami kita, tetap diri kita yang tau apa yang terbaik." Ucap Vale dengan sedikit penekanan pada kata yang perlu ditegaskan, membuat Jilly terhenyak dalam diam.

Vale hidup dengan didikan terbaik versi orang tuanya, terutama sang ibu yang sangat berhasil menciptakan karakter Valerio hingga saat ini. Lelaki ini memang bukan pribadi yang gampang berbaur, tidak terlalu pintar, dan hanya mahasiswa yang jalan hidupnya lurus-lurus saja. Sampai ia bertemu dengan Jilly, ia seperti punya tujuan lebih untuk membuat Jilly terlepas dari hal-hal negatif yang akan menghancurkannya.

"Kemarin aku lihat.."

Jilly menghentikan ucapan Vale dengan menjauh dari posisinya yang semua dekat dengan Vale. "Stop Val, aku lagi nggak mau bahas Joshua."

Raut kebingungan Vale semakin bertambah, melihat Jilly yang kini bersiap-siap mengenakan kembali sweaternya dengan benar. "Bukannya kamu selalu mau tau?"

Jilly mengenakan sweater putih disusul celana jeans, "Setelah aku pikir lagi, menggali informasi tentang Joshua secara diam-diam, itu jahat, Val."

Vale pun berdiri, mendekati Jilly. Mereka sepakat akan menggali informasi dengan bantuan Rangga agar Jilly punya beribu alasan untuknya segera putus dari Joshua. "Oke, kalo mau kamu kayak gitu. Pesanku cuma satu Ji, you deserve better."

"Terima kasih, Vale."

Jilly tersenyum memandang Vale dengan raut yang penuh kelucuan, dan faktanya semenjak mengenal Vale lebih jauh, Jilly selalu merasa seperti orang yang sangat berharga.


Feign • vsookookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang