[ 6 ]

148 9 8
                                        

Happy Sunday with the reality exposed

Semalam demamku tinggi, setelah minum paracetamol aku bisa tidur nyenyak dan sekarang bangun dengan bugar. Aku agak takjub dengan recovery secepat ini. Astina tadi malam menelpon ku menanyakan keadaan ku, dan sekarang dia akan ke rumah bersama Lionel. Sebelum mereka datang aku sudah memberitahukan Bunda untuk menyiapkan beberapa cemilan.

"Tina sama siapa yang datang, kok kamu repot banget nyiapin cemilan." Kak Sandy nimbruk di meja makan.

Bunda memberikan bawang merah ke Kak Sandy yang artinya menyuruh mengupas, lalu Bunda melanjutkan menggoreng pisang coklat.

"Temenku yang tadi malem nganterin pulang." jawabku dengan wajah biasa agar kak Sandy tak bertanya aneh-aneh. "catet! temen Astina juga."

Kak Sandy mengangguk paham, "Oh gitu."

"Iya."

Bunda memberikan ku sekotak cabe untuk dipisahkan tangkainya. "Dia anak baik kan, Sena?" Bunda tanya ketika melanjutkan menggoreng.

"Ya baik pastinya, aku ditraktir makan tadi malam. Oh iya, dia ternyata pemilik Cafe Flores." ucapku dengan gelengan heran, "Bahkan tiga rumah disamping dan depan Cafe Flores itu rumah keluarga temanku ini."

"Wow orkay." Kak Sandy berdecak heran juga, "The power of kaya tuju turunan."

"Mirip old money."

"Old money dapet uangnya dari mana ya?"

Aku dan Kak Sandy sama-sama bertanya. Orang-orang bisa kaya tujuh turunan itu darimana uangnya? mau ngepet pun tak akan bisa sekaya itu. Mungkin warisan dari nenek moyang? seperti dapat tanah ribuan hektar atau bisa saja hasil ngambil paksa tanah rakyat kecil.

"Ada teman mu, Sena!" Ayah berteriak dari depan rumah.

Lalu Astina dan Lionel muncul dengan wajah cerah, seperti biasanya. Bunda menyilakan mereka bersantai di ruang tamu. Bunda juga menyiapkan camilan dan juga minuman dingin. Kulihat Lionel kagum dengan tindakan Bunda, terutama ketika Bunda menuangkan minuman, Lionel memuji gelas dan teko Bunda yang cantik.

"Jadi gimana ceritanya tadi malem Sena bisa epilepsi?" Astina memulai pembicaraan setelah menyomot pisang goreng coklat.

"Ngawur kamu, mana ada aku epilepsi." kutabok Astina. "Cuma masuk angin kok."

"Poinnya udah keceritain tadi ke Tina." Lionel menikmati sirup buatan Bunda. "Enak ya ini kayak ada kasih sayang Ibunya."

Aku dan Astina menahan tawa.

"Halah Lio, nanti kamu kalo ku kasi permen rasanya bakalan ada kasih sayang Tinanya." ujar Astina agak mengejek.

"Aku bosen di rumah. Kalo kalian ga kesini mungkin aku bakalan diajakin mancing ke empang." celetukku.

"Empang?" Lionel berhenti mengunyah, "Keluarga mu punya empang?"

Aku mengangguk, "Isinya lele."

"Wow, keren." Lionel terlihat kagum,"Kita bisa bikin warung pecel lele. Lumayan omsetnya gede."

Emang otak pebisnis banget ya Lionel.

"Skip saya undur diri, lagi sibuk bisnis sendiri. Makin pusing kalo mau nambah lagi." Kata Astina dengan dramatis.

Ya, betul. Urus Sho's Studio dengan benar, jangan lupa dua cabang yang lain diperhatikan biar tidak rugi.

"Bosen banget." ucapku sembari bersandar di sofa, "Main apa ya kita biar ga bosen."

"Main rumah-rumahan, nanti Sena sama Lio jadi suami istri dan aku jdi anaknya." ujar Astina tanpa pikir panjang.

Lionel hampir tersedak mendengar itu, seperti salah tingkah dia mengarahkan muka ke samping.

TONIGHT DREAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang