Mark tidak membawa Haechan kembali ke dorm, ia membawa Haechan ke apartemen miliknya. Ia memiliki apartemen mewah di Seoul yang tanpa diketahui oleh siapapun, ia membeli apartemen itu untuk tempat singgah jika ia sedang ingin sendiri atau melakukan aktivitas penunjang karir seperti menulis lagu, menciptakan instrumen, dll. Meskipun kegiatan tersebut dapat dilakukan di dorm atau di perusahaan, tapi sebagai musisi ia pasti butuh tempat tenang, dimana hanya ada dirinya dan pikirannya sendiri.
"Hyung, ini apartemen siapa?", tanya Haechan.
"Milikku", sahut Mark singkat sambil memasukkan password. Mark memasuki apartemennya diikuti oleh Haechan yang menganga dan terkagum-kagum karena kemewahan apartemen Mark.
"Wooahh, aku baru tau kau punya apartemen disini", ujar Haechan sambil melihat sekeliling.
"Hanya kau yang tau sekarang", sahut Mark.
Haechan menyerngitkan dahinya.
"Aku malas kembali ke dorm, kita akan tidur disini", ujar Mark singkat yang kemudian meninggalkan Haechan di ruang tamu.
Haechan menatap Mark dengan pandangan bingung. Ia menghela nafas, dan mulai berkeliling di apartemen Mark. Ia masih terkagum-kagum dengan isi apartemen Mark. Haechan melangkahkan kakinya ke arah balkon. Terdapat meja kecil, gitar, dan beberapa kertas yang berserakan disana. Dengan penasaran, ia memungut kertas-kertas itu yang mana berisi coretan lirik-lirik lagu yang dibuat oleh Mark. Ia membaca lirik-lirik lagu itu dengan mengyengrit.
Lirik-lirik ini, kenapa mesum semua, batinnya. Wajah Haechan memerah tanpa ia sadari karena membaca lirik-lirik itu. Ia jadi ingat perlakuan Mark beberapa bulan lalu di kamarnya. Haechan meneguk ludahnya kasar, harusnya ia tidak mengikuti Mark ke sini.
"Haechan..", panggil Mark yang sudah berdiri di belakangnya.
Haechan berjengkit kaget dan segera menaruh kembali kertas-kertas itu dengan muka merahnya, ia tersenyum canggung dan menghindari kontak mata dengan Mark.
"A-ah, ya Hyung?", jawab Haechan.
Mark mendekati Haechan dan menangkup wajah Haechan, ia khawatir dengan wajah Haechan yang memerah.
"Kau sakit?", tanya Mark khawatir.
Haechan menggeleng dan melepaskan tangan Mark pada kedua wajahnya.
"A-aku hanya... dingin. iya dingin", ujar Haechan.
"Hyung, bukankah sebaiknya kita kembali ke dorm?", tanya Haechan.
"Kenapa? Kau tidak suka disini bersamaku?", tanya Mark kembali.
Haechan menggeleng panik, "T-tidak. Bukan begitu".
Mark menarik Haechan untuk duduk di pangkuannya dan memeluk tubuh Haechan. Haechan menegang, ia meneguk ludahnya kasar. Dadanya berdebar dengan cepat, wajahnya mulai memerah kembali.
"Haechan, aku menyukaimu", ujar Mark tiba-tiba. Haechan melotot mendengar pernyataan Mark yang tiba-tiba itu.
Mark membalik tubuh Haechan menjadi menghadapnya. Ia melihat mata Haechan yang bergerak gelisah. Ia menangkup wajah Haechan, "Rasanya aku mulai gila Haechan. Aku rasa ada yang salah pada diriku saat aku melihatmu. Jantungku berdetak terlalu keras, pikiran-pikiran kotor tentangmu selalu menghantuiku, perhatianmu padaku membuatku merasa nyaman. Aku berusaha menampik bahwa aku menyukaimu, aku menolak semua perhatianmu, menghindari skinshipmu. Kau tahu seberapa tersiksanya aku, hm?", ujar Mark.
Haechan masih terdiam dengan keterkejutannya.
"Aku tak tahan dengan rasa ini. Jadi aku akan menunjukkan secara jelas padamu, pada siapapun. Aku tak akan menahannya. Dan kau, aku akan pastikan kau menjadi milikku Haechan", ujar Mark penuh penekanan.
YOU ARE READING
OBSESSION
FanfictionKetika semua member terobsesi pada sosok Haechan. Melakukan cara apapun untuk mendapatkan atensi bahkan sosok Haechan itu sendiri. Membatasi segala hal luar yang berhubungan dengan Haechan. No babe, sit down! - Seo Johny Lepas hyung, aku hanya ke t...
