6 - Lucia Geffroy

6 2 0
                                        

Monster. Itulah hal pertama yang terlintas dalam benak Oliver saat menyaksikan para penduduk asli bermata merah itu menyerang pasangan dansa mereka masing-masing. Jika seandainya Oliver tahu dari awal bahwa penduduk asli seberbahaya ini, dia takkan membiarkan Violetta pergi ke tempat seperti neraka itu.

Si perempuan bermata merah masih menahannya. Oliver tidak menduga seorang perempuan sepertinya sangat kuat untuk menahannya. Mendadak, Oliver berhenti memberontak dan mematung di tempat. Dadanya terasa panas dipenuhi oleh amarah. Dia menyaksikan hal yang paling tidak ingin dilihatnya. Violetta digigit oleh pasangan dansanya tanpa bisa menyelamatkan diri. Violetta tampak semakin tidak berdaya dan wajahnya memucat. Oliver ingin sekali membunuh partner dansa Violetta di tempat, tetapi dia tahu diri karena tidak punya kutukan. Pada saat itu juga, Oliver membenci dirinya yang sama sekali tidak punya kutukan untuk menyelamatkan orang yang disukainya.

Si perempuan bermata merah itu tidak lagi menahan Oliver, ia langsung menyeret Oliver ke luar ruang dansa itu tanpa aba-aba. Pintu yang awalnya terkunci sudah terbuka dan kini dipenuhi lautan manusia yang berusaha menyelamatkan diri dari para monster bermata merah. Kekacauan pada saat itu membuat Oliver teringat saat dirinya sendirian menyelamatkan diri tanpa tahu arah saat perang berlangsung. Oliver baru tersadar saat mereka sudah berhenti melangkah.

Oliver mengedarkan pandangan, hanya ada dirinya dan si perempuan bermata merah. Tempat mereka berdiri sekarang benar-benar sepi seolah tidak ada kehidupan sejak awal di sana. Dalam hati Oliver bertanya-tanya, ke mana si perempuan bermata merah itu membawanya?

Saat Oliver hendak berbicara, si perempuan bermata merah mengangkat tangan. “Biarkan aku yang berbicara dulu.”

Oliver mengernyitkan alis, masih tidak paham dengan sosok di depannya. Apakah dia musuh atau bukan?

Si perempuan bermata merah itu melepas topengnya, memperlihatkan mata merahnya lebih jelas. “Izinkan aku perkenalkan diri lebih dulu. Namaku Lucia Geffroy. Aku tahu kau pasti punya banyak pertanyaan untukku. Silakan tanya, aku akan menjawabnya dengan jujur, asalkan aku memang tahu jawabannya.” Lucia masih terlihat tenang di situasi yang kacau ini.

Pertanyan pertama yang dilontarkan Oliver adalah, “Kenapa kau berusaha menghentikan aku menyelamatkan Violetta? Jika kau membantuku sekarang, berarti kau bisa membantunya juga, kan? Tergantung jawabanmu yang ini, aku akan memercayaimu.” Oliver memang bisa semudah itu mengucapkan ‘memercayaimu’ karena hanya itu satu-satunya jalan untuk mendapatkan monster bermata merah berpihak padanya.

Namun, Lucia menggeleng. “Aku berusaha menyelamatkanmu, tahu. Aku sangat mengenali partner dansa Violetta atau lebih tepatnya dia yang memiliki pengaruh besar di sini. Aku sendiri tidak berani melawannya.”

“Apa maksudmu?” tanya Oliver tidak paham.

“Monster yang kau anggap itu adalah vampir. Kami adalah vampir. Dan partner dansa Violetta adalah Pangeran Vampir, Vicente Alderas. Kalau saja tadi aku tidak menghentikanmu, kau akan mati terbunuh olehnya. Tenang saja, Vicente tidak akan membunuh Violetta.”

“Bagaimana kau bisa yakin?” Oliver menyipitkan mata. Namun, untuk satu pertanyaan itu hanya bisa dijawab keheningan. Lalu, Oliver mengganti pertanyaannya. “Lupakan itu. Pertanyaan selanjutnya, kau bilang akan melindungiku, kan, kalau aku mengikutimu? Apa itu berarti bayaran yang sepadan dengan melindungiku?”

Lucia menyeringai sambil menyentuh bibir. “Kau cukup peka, ya. Hanya sekali saja, kok. Nanti aku tidak hanya melindungimu, aku juga akan membantumu dengan cara apa pun. Apa kau ingin kabur dari pulau ini? Atau menyelamatkan Violetta?” Lucia sedikit mencondongkan tubuh, jari-jarinya menelusuri dari dada Oliver hingga tengkuk lehernya. Gigi taringnya diperlihatkan terang-terangan.

Bloody BanquetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang