Sebelum acara pertunjukan sulap ditutup, Violetta sudah meninggalkan ruang makan besar duluan tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan Beryl juga. Violetta pikir Beryl tidak menyadarinya bahwa orang-orang yang dijadikan tumbal di pertunjukan sulap adalah orang-orang yang dilihatnya di sore hari.
Namun, Violetta lupa bahwa dirinya buta arah. Dia lupa ke jalan ke tangga menuju lantai dua. Entah sudah kesekian kalinya Violetta memutar jalan, dia merasa berjalan di tempat yang sama. Dia juga lupa membawa ponsel sehingga tidak tahu sekarang sudah jam berapa. Dia yakin semua orang sudah bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Dengan perasaan sedikit menyesal, Violetta istirahat sebentar dengan berjongkok dan bersandar diri ke dinding. Saat tatapannya lurus ke depan, dia mendapatkan taman bunga di balik jendela-jendela kaca yang tinggi dan berjejer. Taman bunga itu menarik perhatian Violetta karena warna dan bentuk bunganya. Bentuk yang mirip laba-laba dengan warna semerah darah. Bunga lycoris, bunga yang ditemukan saat perang besar Kekaisaran Northoriale dan Kerajaan Zashos berlangsung. Bunga yang amat langka, tetapi menakutkan juga. Violetta kembali teringat pertunjukan sulap tadi. Rasa sakit yang nyata dan darah asli mengucur tak henti.
Violetta pun mencari pintu untuk menuju ke taman bunga, ingin melihat bunga lycoris lebih dekat sekaligus mencari udara segar. Tidak seperti dibayangkannya, bunga lycoris sangat indah di malam hari. Warna merah yang menyala seolah menerangi taman yang tanpa lampu itu. Kemudian, Violetta menyusuri taman bunga lebih dalam, tetapi ia mendapatkan orang selain dirinya juga berada di taman bunga. Sosok pemuda itu adalah penduduk asli Pulau Dartden, terlihat dari warna matanya yang khas. Violetta terkesiap saat pemuda berambut perak itu berpaling padanya.
Pemuda itu menatap Violetta cukup lama tanpa bersuara. Karena tidak tahan dengan tatapan tajamnya, Violetta menundukkan kepala. “Kau suka bunga ini?” tanyanya yang tiba-tiba tersenyum.
Senyumannya terasa menakutkan sehingga Violetta membalas senyumannya. “Begitulah. Aku belum pernah melihatnya, hanya melihat dari buku sejarah. Menurut buku, bunga-bunga ini menjadi simbol berduka untuk para korban di perang.”
Pemuda itu menyeringai seolah meremehkan jawaban Violetta. “Kau yakin itu arti bunga dari ini, Violetta McArthy?”
Mata Violetta melebar saat dengar namanya disebut. Bagaimana pemuda itu bisa mengetahui namanya? “Itu hanya menurut sejarah.”
Pemuda itu menjentikkan jari. “Sejarah selalu mengatakan kebohongan. Manusia terlalu bodoh untuk semudah itu memercayainya. Arti dari bunga lycoris itu sendiri,” Seringai si pemuda semakin lebar. “kematian.”
*****
Oliver sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar Violetta dan tetap tidak ada jawaban. Violetta bersikap aneh sejak makan malam dan Oliver mengkhawatirkannya saat Violetta tampak pucat ketika pertunjukan sulap berlangsung. Reaksinya berlebihan dibanding para tamu lainnya seolah Violetta mengetahui sesuatu yang tidak diketahui siapa pun. Oliver pikir, apa karena kutukan yang dimilikinya? Namun, Oliver sendiri juga tidak tahu kutukan Violetta.
Tanpa jawaban membuat Oliver semakin khawatir sehingga dia nekat membuka pintu sambil mengucapkan maaf berkali-kali. Ternyata pintunya tidak terkunci dan lebih mengejutkannya, tidak ada Violetta di dalam. Rasa panik menjalar ke seluruh tubuh Oliver. Dia membayangkan sesuatu buruk terjadi pada Violetta. Jika benar, dugaannya akan mendekati kebenaran, yaitu Fonz Mansion adalah tempat berbahaya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Oliver pun memutuskan untuk mengelilingi lantai satu dahulu. Di koridor yang hening dan tenang, Oliver tak henti memanggil nama Violetta. Benar-benar kosong seolah tidak ada tanda kehidupan. Namun, sangat mustahil Violetta ada di lantai tiga ataupun lantai bawah tanah, apalagi di tengah malam. Meski begitu, tidak ada salahnya untuk memeriksa ke sana, kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bloody Banquet
WampiryVioletta McArthy, seorang perempuan yang sedang menempuh studi di sebuah perguruan tinggi khusus pemilik kutukan mendapatkan undangan ke Pulau Dartden sebagai bentuk apresiasi untuk mahasiswa berprestasi di seluruh penjuru Kekaisaran Northoriale. Ia...
