Genre: Spiritual-Romance-Comedy
Start: 12 Mei 2023
Revisi: 29 Desember 2023
Ending: 10 Mei 2024
❥Mendadak Ning
Aku tidak pernah sekalipun menyesali takdir yang mempertemukan kita meskipun dengan cara yang salah bahkan mengikat kita dalam satu ikatan...
"Kamu manggil saya dengan sebutan mas! Paham istriku?"
~Alif Syauqi khalif~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
••••
Sesuai dengan keputusan, mereka benar-benar dinikahkan hari ini. Tak ada resepsi atau semacamnya, hanya ada prosesi akad nikah sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak beserta seorang penghulu.
Keringat Alif mengalir membasahi pelipisnya walaupun pendingin ruangan sudah dinyalakan, rasa gugup tak luput melingkupi perasaannya. Ia menarik napas dalam sebelum akad dilafadzkan.
Ankahtuka wazawwajtuka makhtubaka binti Arumi Hilya Nafisah alal mahril hallan,
Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan....
"Bagaimana para saksi, Sah?"
SAH
Alif berhasil. Kata-kata sakral itu berhasil terucap beberapa detik yang lalu, mereka berdua sekarang sudah saling terjalin hubungan suami istri atas izin Allah.
Suara high heels menggema di anak tangga bersamaan dengan turunnya Arumi, Ayana, dan Umah Zahra. Semua mata seolah terhipnotis dengan perempuan yang menjadi ratu untuk hari ini, bahkan Alif pun tak terkecuali.
Arumi didudukkan di sebelah Alif, demi apapun jantung Arumi berdetak cepat tak tahu kenapa. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Mempelai wanita, ayo salim sama suaminya, dan mempelai pria, silahkan dicium kening istrinya." titah penghulu.
Awalnya ragu-ragu, lalu kemudian Alif mulai memberanikan diri menatap Arumi. Ia berdehem canggung sambil mengulurkan tangannya.
Arumi menatap Alif dengan kening berkerut. Seolah bertanya 'Apa?'
"Salim!" ucapnya sambil memaksakan senyum. Apakah perempuan yang baru saja bergelar sebagai istrinya ini tidak mendengar titah penghulu? Pake nanya lagi! Rasanya Alif kesal setengah mati.
Alif langsung menerawang hidupnya ke depan, dia tidak akan mati muda kan?
"Oh iya-iya." Arumi langsung menyambut tangan Alif, menempelkan tangan berurat itu di pipinya.
Cup
Arumi membeku. Baru saja akan mengangkat kepalanya, benda kenyal itu sudah mendarat di kening mulusnya. Ia reflek memejamkan matanya.
Dua menit berlalu, namun bibir itu masih juga belum lepas dari keningnya.
"Masih ada orang kali di sini, lama amat tuh kening dicium."
Mendengar sindiran itu, Alif segera menarik tubuhnya menjauh. Alif menggaruk tenguknya sementara Arumi menunduk malu.
Alif berdehem singkat, ia mengangkat sebelah tangannya ke atas kepala Arumi, membacakan doa untuk istrinya.