09-Masak bareng

14.4K 496 2
                                        

Jika yang engkau senangi tidak Allah beri, maka belajarlah menyenangi apa yang Allah bagi

~Mendadak Ning~

~Mendadak Ning~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


••••

Sepasang pasutri itu kini berdiri siap di depan pantry dapur yang sudah tersaji beberapa bahan masakan. Ada daging, ayam, dan beberapa sayuran hijau lainnya.

"Pasangin," ujar Alif memberi titah sambil menyodorkan apron ke hadapan Arumi.

Arumi yang sedang memasang apronnya sendiri sontak berbalik badan. Ia menatap heran. "Mas kan punya tangan sendiri, di gunain aja itu tangannya." Arumi lanjut mengikat apronnya. "Punya tangan kok cuma dijadiin panjangan aja." Sambungannya.

Laki-laki itu mencebik pelan mendengar respon Arumi. "Yaudah." ucapnya singkat membuka lipatan apronnya dengan gerakan lambat. "Tapi mas cuma mau ngasih tahu aja ya, nolak perintah suami itu dosa lho..." Alit diam-diam menatap Arumi ingin melihat apakah ucapannya itu berhasil mempengaruhi sang istri.

Arumi terdiam sejenak lalu tak lama berdecak pelan. "Ck, yaudah siniiin!" Arumi meraih apron tersebut dengan kasar lalu segera memasangkannya di leher Alif, laki-laki tangan pajangan itu.

Alif berdecak pelan dengan kepala yang menggeleng. "Galak-galak sama suami juga gak baik lho kalo kamu gak tahu..."

Mendengar itu Arumi makin menekuk wajahnya.

Alif tertawa pelan melihatnya. Ia menarik pinggang Arumi mendekat.

"Eh-- eh?" kagetnya berusaha menahan dada Alif dengan tangan kecilnya.

"Ikatnya gini aja supaya kamu gak capek kelilingi tubuh mas lagi." ucapnya santai. Tak tahu saja jantung Arumi di dalam sudah disko-disko.

"Halah, modus!" ujarnya mendorong pelan kening Alif setelah memasangkan apron di pinggang laki-laki itu.

"Ya gak papa dong, modus sama istri sendiri itu bagus, bisa dapet pahala."

Arumi membuang mukanya ke samping. Lalu berpura-pura mual seolah jijik mendengar perkataan Alif.

"Bikin jantungan yang ada!"

Ketawa Alif pecah, ucapan Arumi benar-benar jujur. "Hahaha... jujur banget!"

"Yaudah ketawa aja terus, awas ah, lepasin!" Arumi dengan kesal berusaha melepaskan tangan Alif yang melilit pinggangnya. Namun bukannya melonggar, pelukan mereka makin mengerat. Bahkan Arumi bisa merasakan napas Alif yang menerpa pipinya. "Apaan sih, jangan kayak gini!" ucapnya gelisah berusaha memberontak di pelukan Alif.

Bibir Alif berkedut menahan senyum melihat ekspresi Arumi. Ia terpikirkan ide jahil.

Pelan-pelan wajahnya semakin ia dekatkan dan refleks membuat Arumi menutup mata.

Mendadak Ning (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang