Dua Pulun Sembilan

59.6K 6.9K 399
                                        

Wuiihh, maaf yaak kelupaan up di sini wkwkwk

Yuk yuk, kita baca lagi lanjutan Ayah sama Bunda

Happy reading yess

Romansa itu telah usai. Tak ada harapan tuk kembali memulai. Tatapnya enggan bertemu. Membiarkan rindu memupuk hingga ujung waktu. Bicara tentang itu, adalah sembilu yang melubangi sanubari. Membiarkan rintiknya membias tanpa arti. Serta merta, segala yang tertinggal hanyalah perih.

Nada ingat hari itu.

Salah satu hari di mana ia berpikir semesta terlalu kejam padanya.

Saat ia berpakaian lusuh, justru sosok yang tujuh tahun menjadi istri dari pria yang tadi menciumnya di dapur milik pria tersebut, mendatanginya.

"Saya, Anyelir Pratista Malik."

Wanita itu memperkenalkan diri tanpa basa-basi.

Bertamu di waktu pagi, seakan siang nanti tak ada waktu lagi.

Sementara Nada masih terlanjur repot dengan kedua anaknya. Tubuhnya masih dibalut daster sederhana yang kini setengah basah. Memandikan dua balita berusia empat tahun, tentu saja tak mudah. "Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Nada tak mengenali sosok itu. Penampilan sit amu yang paripurna, menandakan status sosial di atasnya. "Mbak mau cari orang?" gadis kecilnya belum selesai ia pakaikan baju karena buru-buru melihat tamunya. Dan kini, Nada merasa was-was meninggalkan kedua anaknya di dalam kamar.

"Saya mau cari kamu."

Nada mengernyit, mencoba mengenali tamunya pagi ini. Sungguh, ia tidak mengenalinya. "Mbak cari saya?" Nada sendiri tak yakin. Tak lama berselang, tangis salah satu balita kembarnya buat Nada tersentak. "Maaf, Mbak," ia berlari masuk ke dalam. Lalu mendapati Lova tengah memukul Oka dengan sisir. "Ya, ampun, Adek," ia buru-buru menjauhkan anak lelakinya dari hantaman sisir yang berkali-kali dilayangkan Lova. "Abangnya sakit kalau dipukul terus, Dek," menggendong Oka, Nada membungkuk meraih sisir itu dari genggaman anak perempuannya. "Bunda pinjem sisirnya, ya, Nak?"

Dan rumah itu makin ramai dengan tangis Lova yang ikut mengisi jam sembilan di pagi ini. Buat Nada hanya bisa menghela napas, berat. Ia berniat menurunkan Oka demi bergantian menggendong Lova. Namun lagi-lagi, tangis lain terdengar memekakkan telinga. Oka menolak turun. Tangisnya berpadu dengan pukulan ringan di bahu Nada.

"Iya, ya, Bunda nggak akan turunkan Abang, kok," mencoba membungkuk dengan balita empat tahun di gendongan kirinya, Nada membagi perhatian pada Lova. "Adek, sini lihat Bunda dulu," dengan satu tangan ia menghapus air mata Lova. "Adek peluk paha Bunda, ya, Nak? Abangnya nggak mau turun ini. Nanti, baru gantian gendongnya, ya, Sayang?"

Lova masih mengenakan singlet ketika ia membawa kedua anaknya itu ke depan untuk menemui tamunya.

"Maaf, ya, Mbak," sejujurnya ia tak mahir berbasa-basi begini. Ia sedang kerepotan. Dan yang ingin ia lakukan adalah mengusir wanita itu pulang. Lagipula, Naada tak mengenalnya. "Ehm, mau masuk, Mbak?" karena tamunya itu memang masih ia tinggalkan di teras.

"Anak-anak Aksa?"

Deg.

Jantung Nada berirama tak aman.

Ia mulai menilik wanita itu dengan curiga.

"Mbak kenal Aksa?"

Wanita itu tersenyum manis. Bibirnya yang terpoles lipstick melebar. "Saya istrinya," ucapnya ringan.

Untuk kedua kali, jantung Nada seperti tertikam. "A—apa, Mbak?" tangisan anaknya terasa menyumbat telinga. Hingga sepertinya Nada tak mampu mendengar dengan baik. "Ka—kami baru bercerai," suaranya bergetar tak yakin.

Aksara SenadaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang