Time Rewind
Blue Exorcist © Kazue Kato
Story by me
genre: Angst, Time Travel.
Yukio tidak melepaskan Rin sepanjang hari, kemanapun Rin berjalan Yukio akan mengikutinya. Jika dia mencoba lari dia akan menarik bajunya.
"Apa ini Yukio, dari tadi kau menarik-narik aku." Rin marah marah pada Yukio.
"Tidak Nii-san aku ingin ikut Nii-san kemanapun." Yukio menyengir dengan seringai aneh.
"Aku mau ke toilet kau mau ikut masuk juga hah." Rin mencoba melepaskan tangan Yukio di ujung bajunya.
"Ya aku tunggu diluar." Yukio menjawab dengan percaya diri.
"Kau ini sedang apa sih, sejak kapan kau sipir penjara, eh memang iya ya." Rin berkata dengan berpikir.
"Nii-san aku tahu kau akan bergosip aku ingin tahu apa yang kau gosipkan." Yukio sangat penasaran.
"Eh sejak kapan kau jadi tukang rumpi, lagian aku tidak pernah benar-benar ingin bergosip hanya saja, semua informasi itu kudapat secara tidak sengaja." Rin menyangkal.
"Rin adikmu sepertinya benar dia sedikit aneh tidakkah menyadarinya sejak awal." "Rin" Lain berbicara.
"Euh Yukio aku tahu kau punya banyak sekali rahasia tapi... Kau tidak ada masalah dengan semacam kepribadian kan atau kau punya suatu hal yang disukai tapi mungkin tidak biasa." Rin bertanya dengan menyernyitkan dahi.
Yukio mendengar itu benar-benar ingin meniup telinga kakak sekuat kuatnya.
"Nii-san jika ini masalah kepribadian tentu itu pasti ada padamu dan soal kesukaan aku selalu lebih normal darimu." Yukio menjadi kesal dengan pertanyaan konyol seperti itu.
"Iyalah Yukio kalau kau pasti pria tampan idol yang punya kerjaan jelas beda lah dengan ku yang berkulit preman isinya ibu ibu rumah tangga. Kalau tidak memasak ya tidur." Rin mengeluh dengan perbedaan mereka.
RIIIINNNN
Shiemi menginterupsi mereka berdua
"Ada apa Shiemi." Rin bertanya.
"Tidak aku hanya ingin bertanya katanya kau akan kerja kelompok nanti siang dengan teman sekelasmu." Shiemi berkata dengan terengah-engah.
"Ah iya benar, aku pergi dulu." Rin bersiap pergi dan Yukio menarik lagi ujung pakaiannya.
Tiba-tiba
Ah itu Yukio-kun,
beberapa gadis tiba tiba datang. Yukio di kerumuni.
"Aduuh otakku terkilir." Rin berakting lebay agar bisa menjauh.
"Eh Tunggu." Yukio ingin protes.
Rin menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
"Maaf Shiemi, Yukio aku harus ke ruang kesehatan dulu. Otakku baru saja terkilir." Rin pamit sambil berlari.
Yukio repot sekarang.
"Niisan tunggu mana mungkin otakmu terkilir itukan bawaan lahir." Yukio bicara asal.
"Bye bye Yukio see you next time." Rin berteriak.
****
Hari itu cukup menyenangkan, Rin untuk pertama kali memiliki waktu dengan teman baru, jadi desas desus mengenai dirinya saat SMP tidak terdengar nyata. Dia bisa mengenal beberapa teman baru dan memiliki nomer mereka dalam ponselnya jika dia punya. Ada banyak yang ingin dia bahas dengan orang-orang yang tidak dia kenal, diluar sepengetahuan Yukio. Itu adalah impiannya sejak kehidupan sebelumnya. Dia tidak pernah memiliki kesempatan dimana dia hidup tanpa di awasi. Ayahnya terlalu membiarkan dia sendiri saat kecil tapi tetap membuat buta dengan keadaan dunia sebenarnya, ke titik dimana dia pernah percaya iblis itu tidak ada.
****
Shiro mendapatkan banyak laporan aneh mengenai Rin. Dia mulai mengeluh takut akan sesuatu yang memicu Rin akan sesuatu hal yang mengerikan. Terlalu banyak hal yang terlalu mendadak terjadi pada Rin perubahan sikapnya terlalu cepat itu aneh seperti bukan dirinya. Rasanya baru kemarin dia melihat Rin tumbuh.
"Ayah lebih sering melihat Yukio selama delapan tahun itu, tidakkah ayah perhatikan bukan kah rasanya baru kemarin Yukio terlihat lebih kecil dariku. " Rin tiba tiba ada disana seperti telah tahu apa yang dia pikirkan.
Senyum Rin bukan seperti senyum biasanya, dia seperti bukan Rin yang dia besarkan.
"Sejak kapan kau." Shiro berkata dengan terkejut.
"Aku selalu ada dimanapun ayah, jadi terlalu sulit untukku untuk tidak peduli akan segala hal dimulai pada hari itu." Perkataan yang membuat Shiro bingung, dengan memandang senyum manis Rin seperti dia melihat ada tanda tidak baik.
"Apa maksudmu." Shiro gemetar.
Tidak ada jawaban dari Rin.
"Aku datang kesini membawa apel pemberian temanku ayah." Rin memberinya sebuah kantong plastik berisi apel merah matang.
"........ "
"Dia punya banyak apel sehingga ibunya membaginya pada teman-teman putrinya." Rin juga mengambil satu apelnya dan menggigitnya.
"Hmm rasanya manis, keluarganya dari dari luar kota memiliki kebun apel katanya apel dari sana adalah apel kwalitas terbaik di jepang, ayah harus coba." Rin menyerahkan kantong plastik itu.
"Tapi kenapa." Shiro agak terkejut.
"Tentu karena aku tidak suka makan ini hanya dengan Yukio, kadang dia terlalu banyak mengoceh." Rin menimpali.
"Rin kau, baik baik saja." Shiro bertanya.
"Seperti yang ayah lihat aku bahkan lebih dari kata baik-baik saja." Rin tersenyum senang.
"....... "
"Kenapa ayah malah menjadi kaku padaku, bukankah biasanya ayah akan berkata omong kosong padaku. Kenapa mendadak berubah." Rin terus bertanya.
"Eh Rin." Shiro ingin bertanya balik.
"Ah sudah sore. Aku harus kembali ke True Cross, aku hanya kesini untuk mengantar apel. Aku harus memasak untuk Yukio. Apakah ayah tahu Yukio bisa jadi mengerikan kalau dia lapar, sepertinya benar orang lapar lebih berbahaya dari pada orang marah." Rin melihat jam dinding dan pergi meninggalkan Shiro dalam kebingungan.
Setelah dia berbalik dia menoleh lagi pada Shiro.
"Ayah sepertinya kita harus mulai hubungan kita dari awal, sejak kecil ayah hanya memberiku kebohongan, maka dari sekarang mari kita berkenalan satu sama lain dan memahami perasaan ayah anak, jujur aku juga sedang berusaha memahami perasaan Yukio walaupun agak tidak suka padanya." Rin kemudian beranjak pergi.
Senyum dari wajah Rin benar-benar berbeda dari biasanya, karena sejak tadi orang yang bicara dengan Shiro adalah Rin yang lain. "Rin" selalu melihat seperti apa pengasuhan Shiro padanya dan Yukio tapi dia hanya selalu menyaksikan, dia ingin mengenal Shiro secara langsung mulai sekarang, walapun "Rin" yang lain selalu menganggap Yukio dan Shiro itu menjijikan. Tapi dia harus tahu apa yang Rin rasakan soal perasaan sayangnya pada mereka, dia harus tahu. Dia telah bersepakat dengan Rin untuk mengambil waktu tertentu untuk mengambil alih penuh tubuhnya. Untuk mendekat dan merasakan secara langsung interaksi adik dan ayah angkatnya itu. Rin telah mengatakan pada Rin yang lain, bahwa jika dia bisa memahami dan merasakannya, dia akan tahu arti ikatan keluarga mereka. Sebenarnya "Rin" Yang lain tahu tapi dia ingin lebih dari tahu.
****
Di atap asrama Rin menatap bintang bintang, Yukio mendatanginya.
"Dari mana saja sejak siang, kudengar kau pulang mengunjungi ayah." Yukio sedikit protes.
"Apa salahnya kau bilang padaku kalau dia ayah kita." Rin berargumen.
"Bukan masalah jika 'kami' mengunjunginya." Rin bicara dalam pikiran dua orang.
Author Note
Halo mina maaf ada satu tahun lebih saya fakum. Alasannya saya kerja sibuk, sebenarnya saya merencakan projek Audio ASMR untuk fanfic fanfic saya namun di ubah nama orang dan settingnya (untuk hal ini aku takut tidak terpenuhi karena kurangnya VA memadai). Ini baru sekedar rencana.
Terima kasih telah menunggu saya. Hari hari berikutnya part 2 bab ini
KAMU SEDANG MEMBACA
Time Rewind
FantasyRin berengkarnasi kembali ke usianya yang ke lima belas tahun dia memutuskan mengubah masa depannya dengan menyembunyikan apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Tapi karena suatu hal Rin tak mau menatap mata adiknya.
