5. Seruuna: Bertemu Ayah

25K 2.2K 59
                                        

Enjoy!

**********

Pagi-pagi buta sekali aku telah bangun, mungkin karna tidur di suasana baru aku jadi susah tidur. Saat keluar kamar sofa yang sebelumnya dijadikan tempat tidur oleh Deskara telah kosong. Apa dia tidur di kamar adiknya? Deskara bilang alasan dia tidur di sofa karna adiknya yang sedang kuliah akan pulang. Mungkin adiknya itu tidak jadi pulang? Karna sampai pukul empat pun aku tidak mendengar tanda-tanda kehadiran orang lain.

"Dor!"

Aku tersentak lalu melirik sebal pada Deskara yang tiba-tiba datang dari arah dapur dengan rambutnya yang basah.

"Abis ngapain? Kok udah mandi?"

Aku meliriknya aneh pagi-pagi buta sudah mandi emangnya mau ke mana?

"Dulu, Ibu selalu bangunin aku jam tiga."

"Ngapain?" Tanyaku heran.

"Solatlah! Solat sunah. Terus Ibu pasti bakal ngomel-ngomel nyuruh aku mandi sebelum solat subuh."

Hm, aku mengangguk paham. Aku sebagai orang yang islam KTP tentu tidak pernah melakukan hal itu. Solat aja kalau ingat, lalu aku termenung sebentar lagi aku mau jadi Ibu dan tentunya aku nggak mau anakku jadi sepertiku.

"Terus sekarang Ibu kamu nyuruh kamu mandi?"

Deskara terdiam sebentar lalu menggeleng. "Enggak, kata Ibu aku udah gede udah nggak pantes disuruh-suruh. Dan ya, aku kangen aja ngelakuin ini."

Mata Deskara terlihat menerawang, entah apa yang dia ingat.

"Oh ya, nanti siang kita berangkat."

Aku mengernyit heran, "ke mana?"

"Ke rumah orang tua kamu."

Jantungku berdetak, bukannya lusa ya?! Kenapa jadi hari ini...

"Kok hari ini? Bukannya lusa?"

"Disuruh Ibu, tadi malem tiba-tiba Ibu bilang sama aku untuk jangan lama-lama malu sama tetangga."

Aku terdiam, itu artinya aku direstuin ya? Tapi Ibunya Deskara suka sama aku nggak ya? Takut banget dapet mertua jahat.

"Yauda, aku pergi dulu ya," Lanjut Deskara.

"Ke mana?"

"Siap-siap ke Masjid disuruh Ibu," Jawab Deskara sambil menyengir kuda.

Dia benar-benar anak Ibu.

Aku masih mengamati punggung Deskara yang hilang di balik pintu kamar lalu saat hendak kembali masuk ke kamar aku merasakan ada sebuah tangan hangat yang menyentuh pundakku. Aku meliriknya dan ternyata sebuah tangan tua dan renta bertengger, itu tangan Ibu.

Aku menatapnya lalu tersenyum canggung, aku belum pernah bicara banyak dengan Ibu.

"Keadaan kamu gimana? Sehat, 'kan?"

Aku pun mengangguk dengan canggung. Duh, nggak enak banget suasananya. Aku kaya mau disidang.

Tangan Ibu menelusuri rambut sebahuku yang terurai, "Nama kamu panjang apa?"

"Serunya Lestiara, Bu."

"Namanya cantik seperti kamu, kamu cantik sekali Ibu pangling kenapa kamu mau sama Deska." Ibu terkekeh di ujung kalimatnya.

Ya, Bu siapa juga yang mau sama anak Ibu?

"Nak, Deska itu sudah jadi tulang punggung keluarga sejak sekolah karna Ibu sebagai orang tua satu-satunya di keluarga ini sering sekali masuk rumah sakit karna ada saja penyakit yang datang itu. Ibu kadang sedih kalau melihat perjuangan Deskara bisa sampai di titik ini, walaupun sampai sekarang Ibu nggak tau kerja dia kota kaya apa walau sudah dijelaskan berkali-kali Ibu masih nggak paham. Yang Ibu paham Deska bilang kalau apa yang dia kirim ke sini itu halal dan Ibu percaya."

Tenggelam Dalam Dasar [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang