ENJOY!!!
Ke mana aja? Kemarin-kemarin sibuk banget, terus berakhir sakit, jadi aku istirahat
*******
Des, kita baik-baik aja, 'kan?
Kalimat itu selalu berputar otakku selama perjalanan menuju ke rumah, rumah? Apakah selama ini aku punya rumah? Semua yang aku miliki rasanya tak mampu aku genggam.
"Unna, ya ampun kenapa hujan-hujanan? Kamu dari mana? Aku baru sampai tapi kamar kosong, aku panik kamu pergi nggak bilang-bilang."
Hujan-hujanan ya?
Aku bahkan tidak sadar jika derasnya hujan sudah mengguyur tubuhku. Tadi di pemberhentian halte terakhir aku menunggu cukup lama angkutan umum namun tidak ada yang lewat sementara hari semakin gelap jadi aku memilih berjalan kaki, tidak terlalu jauh tidak juga terlalu dekat, membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di depan ruko jika yang berjalan adalah manusia normal, bukan perempuan yang tengah mengandung anak kembar dengan kaki yang bengkak dan perasaan yang luluh lantak.
"Unna?" Panggilan Deskaran serta ayunan tangannya yang ingin menyentuhku langsung kutepis.
"Jangan mendekat..."
Bibirku bergetar saat kata itu terucap, tidak, aku tidak boleh menangis, kenapa aku harus menangis?
Karena kamu jatuh cinta, Unna...
"Kamu kenapa, Unna?"
"Kenapa, ya?" Tanyaku lirih, lirih sekali karena dadaku terasa sesak dan perih. Dinginnya hujan baru terasa menusuk kulitku membuat kepalaku pening.
"Harusnya, aku yang tanya kenapa sama kamu, Des, kamu dari mana?"
Mata Deskara membola ia terlihat sangat kaget dan langsung mengambil langkah mendekat padaku tapi aku terus mundur.
"Unna... "
"Jangan cuma panggil namaku, aku mau tau jawaban kamu," Ujarku sambil tersenggal, derai napasku mulai melemah, tolong bertahan sebentar lagi.
"Unna, aku... maaf... "
Air mataku lolos, aku tak dapat menahannya lagi. Dadaku terasa sangat sesak, jemariku bergetar hebat.
"Ahk..." Aku meringis sakit saat merasakan kram di perutku dan denyutan hebat di kedua telapak kakiku.
"Unna, kamu kesakitan." Deskara berjalan mendekat ke arahku, ingin meraihku tapi aku terus mundur tidak ingin disentuh olehnya, hingga punggungku menyentuh pinggiran meja.
"Jangan sentuh aku, Des."
Aku menatap mata Deskara yang memerah menahan tangis, jarak lelaki itu hanya dua langkah dariku tapi ia terlihat sangat jauh meski terlihat sangat dekat, aku mengigit bibirku yang semakin bergetar hebat saat menyadari sedekat apapun aku dan Deskara 'kita' nggak akan pernah bisa.
Aku menghapus air mataku dengan jemari yang bergetar, sebenarnya yang membuatku kecewa adalah karena aku berharap, berharap Deskara tidak akan tega menyakitiku, berharap Deskara berubah dan akan selalu memilihku, berharap Deskara akan selalu menepati janjinya.
"Unna, maaf akau nggak jujur... "
Ujaran lirih Deskara membuatku menatap laki-laki itu semakin dalam, kesepuluh jemariku mencengkram pinggiran meja karena pinggangku terasa kram, perutku mengencang membuat kepalaku berdentam hebat dan kupingku berdenging hebat.
Wajah Deskara mengabur di depanku, suara panik yang keluar dari mulutnya seperti kaset rusak yang menghilangkan titik keseimbanganku.
Aku pusing, aku lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tenggelam Dalam Dasar [END]
Romansa"Aku hamil." Serunna menatap Deskara yang tengah duduk di sofa. Laki-laki itu terdiam, merenungkan apa yang Serunna ucap. Serunna menghela napasnya, dari sekian banyak laki-laki di bumi, kenapa harus dia? Deskara Abigail, dia...Gay! Uke pula!
![Tenggelam Dalam Dasar [END]](https://img.wattpad.com/cover/292591872-64-k39894.jpg)