Jangan lupa follow
krtkatika16
Seorang cowok dengan seragam yang tak tertata rapi lagi, berlari tergesa di lorong utama rumah sakit, nafasnya terasa tak teratur dan keringat bercucuran tiada henti. Kakinya yang gemetar tak mampu lagi untuk melanjutkan langkahnya, tulang dan syaraf ditubuhnya seolah tak lagi berfungsi, Cowok itu meremat kuat dadanya seraya memukul nya berharap rasa sakit itu hilang. Sial, ia tak mampu lagi menopang tubuhnya, sehingga limbung ke lantai.
Disaat kondisi genting seperti ini, penyakit panic attack nya kambuh, Agrain menghirup nafas dan menghembuskan nya berulang kali, lalu bangkit dari posisi nya, ia tidak boleh lemah bukan kah laki-laki harus kuat?
Dengan sisa tenaga yang ada, Agrain berjalan pelan, seraya menepuk-nepuk dada-nya.
"AGRA" teriakan seseorang dari belakang, membuat langkahnya terhenti, lalu menoleh kearah sumber suara.
"Dugaan gue bener, lo kesini." ucap Larva-sepupu sekaligus sahabat.
Larva Menyerngitkan kening nya bingung, sedari tadi cowok itu terus terdiam dengan raut tak biasa, biasanya Agrain selalu pecicilan. "Lo gapapa?" yang Larva lihat, Agrain kini sangat pucat, bak seperti mayat hidup, jangan lupakan dengan tangannya yang bergetar.
Agrain menggeleng singkat, "nggak...gue gapapa," jawab Agrain sedikit terbata.
Reflek Larva menjitak pelan kepala Agrain, "lo pucet Gra. Bisa-bisanya masih santai. Jangan-jangan panic attack lo kambuh?!" tanya Larva tak santai.
Agrain merasakan sesak kembali sehingga membuat nya sulit untuk bernafas.
Larva sangat bingung ia harus melakukan apa, otaknya terus berfikir keras mencari solusi. "Tarik nafas buang, oke? . Bentar," Larva mengambil ponsel nya di saku dengan cepat membuka layar HP tersebut, mencari aplikasi google.
Larva Men-searching, sesuatu disana, tak perduli jika banyak typo karna ikutan panik melihat Kondisi Agrain,
Langkah pertama
1.bawa ketempat yang aman dan terbuka
2. Beri mereka minum
"Gue gak bawa air breh, yakali gue kasih air comberan?" teriak Larva frustasi.
Lalu Larva men-scroll kebawah dan menemukan penanganan yang cukup masuk kedalam otak "Oke, bawa ke tempat yang aman."
Larva berjongkok dihadapan Agrain, lalu menepuk punggungnya. "Cepet naik,"
"A-apa?!"
"Cepetan Gra kita gak butuh waktu banyak, emang lo mau mati mendadak disini?!" teriak Larva tambah frustasi.
Agrain akhir nya mau menuruti permintaan Larva, naik ke punggung Sepupunya.
"Astagfirullah... Be-rat banget, Lo makan apaan, Astagfirullah.." ujar Larva misuh-misuh.
"Lo.. Aja yang... Letoy.." celetuk Agrain dengan nada pelan.
"Untung sepupu kalau nggak, gue lempar lo." Agrain terkekeh ringan, mendengar nya.
Larva membawa Agrain keluar dari rumah sakit, yakni membawa nya ke taman, disana udaranya cukup sejuk, dan tidak bising.
Larva menurunkan Agrain di bangku sana, "lo udah gapapa kan?"
Agrain memejamkan mata seraya menghirup oksigen "Nggak, udah mendingan. Thanks,"
Larva meregangkan otot-otot nya, lalu ikut duduk disamping Agrain "Untung aja ada gue tadi, kalau nggak gue gak tau kondisi lo sekarang."
"Gue juga gak mau gini, Penyakitnya tiba-tiba kambuh." Agrain menundukan kepada nya dalam, lalu secepat kilat menoleh kearah Larva membuat cowok itu kaget.
"Ngagetin aja lo, malih!" Larva mengusap dadanya sesekali mengucap istighfar.
"Ma-ma.. Mama gue gimana?! Gue harus kesana." Agrain hendak berdiri namun Larva menarik ujung bajunya.
"Diem disini! Lo mau kambuh lagi?! Mama lo udah baik-baik aja." ujar Larva meyakinkan.
"Tau darimana lo?"
"Percaya sama gue. Gue juga gak akan larang kalau kondisi lo memungkinkan, tapi tadi lo baru aja kambuh, tunggu beberapa menit lagi."
"Huft... ," Agrain menatap langit-langit berwarna kelabu diatas sana, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.
"Mending sekarang kita pulang, lo butuh istirahat. Gue liat akhir-akhir ini lo kurang sehat, jangan-jangan lo juga sering begadang ya?"
"Nggak."
"Mata lo gak bisa boong, Gra. "
Yang dikatakan Larva menang benar adanya, belakangan ini tidurnya mulai terganggu, setiap malam ia merasakan kesulitan tidur, kepalanya berisik.
"Gue. Gapapa." tekan Agrain disetiap Kalimat.
Larva membuang muka ke arah lain, seraya berdecak, "gapapa, gapapa, gapapa, TAI KAMBING! Gue udah muak sama semua orang, setiap ditanya pasti jawabnya, iya gue gapapa kok," cibir Larva menirukan kata-kata.
"Jangan suka pendem masalah sendiri, Guna nya sebagai saudara apa Gra? Dengan lo gini, gue ngerasa gak ada gunanya jadi saudara lo." Lanjutnya.
"Thanks, selagi bisa gue selesain sendiri gak masalah. Lagian ini bukan masalah besar, lo gak perlu repot mikirin orang kayak gue," balas Agrain menepuk pundak Larva.
"Karna... Hidup itu emang harus terluka gak semuanya bisa sesuai apa yang lo mau,"
TO BE CONTINUED
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRAIN: Life After
Teen Fiction"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?" "Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
