Bismillah semoga suka yapps
Oh ya di chapter kali ini mungkin lebih banyak cerita tentang Falesha.
****
Pagi-pagi seperti ini Falesha sudah
Dikejutkan dengan suara keras bagaikan Toa milik Ibunya. Padahal jam baru menunjukkan pukul empat lewat dua puluh menit, rasanya masih terlalu pagi bagi Falesha.
"ECHA! BANGUN!"
Arindi memukul-mukul meja yang berada di Samping tempat tidur.
"Bangun Cha! Shalat Shubuh dulu sana! Jangan lelet kamu jadi Anak perempuan! Sekarang, hari pertama kamu sekolah kesekolah baru loh! Buruan!"
Bukannya mendengar, Falesha malah menenggelamkan kepalanya ke boneka beruang besarnya.
"Males Bun bentar lagi," balas Falesha dengan khas suara orang bangun tidur.
Arindi melipat kedua tangannya di bawah dada. "Oke. Tapi, jangan heran ya kalau semisal kamu bangun nanti koleksi album-album kamu mama Bakar,"
"Hmmm,"
Arindi mengabaikan nya. Wanita itu pun berjalan keluar dari kamar Falesha.
Seketika mata Falesha membulat setelah menyadari perkataan Bundanya. Dia langsung lompat dari tempat tidurnya.
"JANGAN DIBAKAR BUNDA JANGAN!"
Teriaknya lari terbirit-birit.
******
"Pah, Mama masih tidur?"
Andrean mengangguk sesaat. Semalam setelah Sierra pulang dari pemeriksaan kejiwaan, Wanita itu langsung tertidur pulas tidak terdengar lagi suara tangisan yang ada hanya suara dengkuran halus, mungkin efek dari obat yang sudah diminum nya.
Agrain menghela nafas. Kemudian melanjutkan aktivitas sarapannya.
"Bentar lagi Ujian kan?" Tanya Andrean. Berusaha menghidupkan suara.
"Semoga di Ujian kali ini nilai kamu gak turun. Soalnya, kamu satu-satunya harapan Papa setelah Abang kamu pergi."
Agrain mengerti dengan arah pembicaraan Andrean. Dia baru sadar, dulu saat Algravin masih ada Andrean tidak pernah mempermasalahkan masalah Nilai, mau nilai nya kecil atau besar Andrean tetap terima. Tapi setelah Algravin pergi, Andrean menjadi berbeda. Contohnya pada saat beberapa hari yang lalu, Andrean membawa Agrain ke perusahaan Nya. Ayahnya itu memperkenalkan dunia pekerjaan.
"Agra berangkat dulu," Agrain meraih kunci motornya di atas meja makan dan menyampirkan tasnya di sebelah bahu kanan.
Setelah berpamitan, Agrain berjalan keluar Rumah untuk segera berangkat kesekolah.
******
Falesha turun dari mobil Ayah nya dengan bermalas-malasan. Hari ini adalah hari termalas bagi Falesha, yang dimana dia harus sekolah di sekolah ini. Dan di sekolah ini juga ada Abang sepupunya nya yang ada di kelas XII itu artinya dia tidak bebas sekolah disini.
"Belajar yang pinter ya, Ca. Jangan buat Papa kecewa lagi," kata Davies penuh penekanan.
"Iya, Eca usahain."
"Yaudah sana masuk, Abang kamu juga katanya udah nunggu di sana."
Setelah pamitan dengan Ayahnya, Falesha berjalan dengan langkah pelan menuju gerbang yang menjulang tinggi itu. Falesha sedikit kagum dengan bangunan Sekolah ini, yang terlihat luas dan jauh lebih bagus dari sekolah sebelumnya.
"Woi Falesha!" Teriak seorang siswa berseragam yang sama dengannya.
Falesha mengalihkan atensi matanya kearah sumber suara. Rupanya disana ada Abang sepupunya itu sebut saja Rezkan.
"Lemot amat gua panggil," ujar Rezkan berdecak lidah.
Falesha langsung membombastis Rezkan dengan tatapan malas. "Ya terus? Gue harus bilang wow gitu?"
"The point, gua males ngomong. Jadi, kelas lo ada di XI IPS 3 di lantai 2 lo naik aja ke tangga ujung sana, nanti kelas lo ada di pojok. Ngerti?"
Falesha mengangguk singkat. "Oke," Usai mengatakan itu Falesha pergi dari hadapan Rezkan.
Rezkan geleng-geleng kepala melihat tingkah kurang ajar Adik sepupunya itu. "Gitu doang?"
Falesha berjalan santai menyelusuri lantai koridor menuju tangga yang menghubungkan ke kelas nya. Namun Disaat lagi santai-santai nya berjalan tiba-tiba seseorang menabrak bahunya dari arah belokan tembok.
Dugh
"Aws..." Falesha meringis pelan. Kedua matanya terpejam menahan emosi.
"Lo—" Ucapan Falesha tertahan, saat melihat orang itu yang tak familiar dimatanya.
"..... Lo, lo yang waktu itu mau nabrak gue kan?!" Sentak Falesha.
"Gue?" Cowok itu menunjuk dirinya sendiri. "Gue nabrak lo? Gak usah ngarang dasar cewek aneh," setelah mengatakan nya, cowok itu bernist untuk pergi. Namun,
Falesha menarik ujung baju cowok itu. "Cewek aneh lo bilang?! Dan lo Jangan asal nyelonong gitu aja dong! Minta maaf kek, lo cowok apa bukan sih? Dasar jamet!"
Falesha melirik tage-name cowok itu. Kavello. "Nama aja bagus tapi ahklak gak ada."
Rahang Kavello mengeras. Baru kali ini ada orang yang berani memaki nya di depan banyak orang lagi. Falesha dapat melihat urat leher Kavello yang mengeras itu artinya menandakan jika cowok itu marah besar.
"Maaf aja sampe ngemis, ada masalah hidup apa lo? Sampe ngemis-ngemis maaf dari gue?" Ucap nya Dengan sorot mata dingin.
"Siapa yang ngemis maaf lo?! Emang dasarnya ya, lo itu gak punya ahklak."
Dengan penuh kekesalan dan emosi Falesha mengatakan nya. Lalu cewek dengan jaket denim itu melangkah pergi.
Kavello juga ikut melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang masih menonton dirinya.
******
Segitu dulu ya pren
See u next part.
Maaf ya gaje, lagi kehabisan ide lagii tapi di chapter selanjutnya diusahain bakal panjang, terus udah mau awal konflik juga, ikutin terus pokoknya
Oke
Jangan lupa tekan bintang sama komen nya kamsamida
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRAIN: Life After
Teen Fiction"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?" "Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
