capt 5: Masalah satu selasai

47 20 3
                                        

"Kalo suka lo, boleh?"

Ucapan itu membuat Agrain, tersipu. Biasanya, jika digombali cewek-cewek lain ia akan merasa biasa saja. Lalu, kenapa sekarang begini.

"Bercanda mulu, udah abisin." titah Agrain.

Aktivitas makan Falesha terhenti saat melihat wajah Agrain."Pipi lo merah kenapa?" tanya Falesha dengan mulut belepotan.

Agrain menyentuh pipi nya sendiri. Sungguh! Ia benar-benar malu!

"Sial."

"WOII!" Teriakan melengking itu sukses membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Dilihatnya, seorang cewek berpakaian cerah, rambut di gerai berwarna coklat terang.

"Ngagetin aja lo kak!" seru Falesha
Dengan wajah memerah menahan emosi. Bagaimana tidak, cream eskrimnya mengenai hidungnya. Membuat Agrain terkekeh di samping nya.

Cewek dengan tubuh jangkung nan putih itu yang tak lain dan tak
Bukan adalah Gania Putri Alano.

Agrain memperhatikan hidung Faleshs yang belepotan tanpa menunggu persetujuan, tangan Agrain bergerak menyeka cream yang menempel di hidung mancung Falesha.

"Eh," Falesha terkejut bukan main,
Hati terasa mencelos begitu saja. Jantungnya berpacu cepat, sebelumnya ia tidak merasakan perasaan ini.

Gania menutup mulutnya, "oh my god!"

"Sorry,"

"A-ah, iya makasih.." jawab Falesha dengan gugup.

Kemudian tatapan Falesha jatuh mengarah ke Gania. "Gara-gara lo sih kak! Lain kali gak usah teriak, kuping gue gak budek."

"Dih, terus tadi gue panggil dari tadi lo kemana? Ha? Yaudah gue teriak sekalian. Dan tau-taunya malah pacaran."

"Nggak! Siapa yang pacaran, gak jelas. Udah ah hayu balik." Falesha menarik tangan Gania, sebelum mulut beracun kakaknya semakin menjadi. "Gra, gue balik ya, sampai ketemu lagi, dadahh!"

Agrain tersenyum simpul, lalu ikut melambaikan tangannya. "Hati-hati,"

"IH JANGAN TARIK-TARIK, GUE KAN BELUM KENALAN!" Teriak Gania di sela-sela diseret nya.

"Gue laporin pacar lo, mampus!"

*****

Larva mondar-mandir di ambang
Pintu rumah Agrain. Sejak dua jam
Tadi lamanya, Larva memaksa pulang ke dokter, lagi pula sakit yang
Ia alami tidak begitu parah.

"Lo kemana, Gra?" monolog nya.

Sampai Larva memutuskan untuk duduk saja di kursi yang tersedia di depan rumah itu. Jari jemari nya mengetuk-ngetuk paha, perasaan nya terasa campur aduk. Ia benar-benar merasa bersalah tidak mendengarkan nasihat sepupunya itu. Andai saja semalam ia tidak tergiyur dengan tawaran Almero-untuk balapan, semua ini tidak akan terjadi, 'kan?

Suara decitan motor menyita perhatian Larva, ia yakin pasti itu sepupunya. Dengan langkah cepat ia berlari kearah sumber suara.

Dan benar saja, motor itu milik sepupunya. Terlihat Agrain yang sedang melepas helm fullface nya.

"Darimana aja?"

Baru saja menginjakan rumah, Agrain langsung dipaparkan pertanyaan seperti itu. Membuatnya sedikit kesal. "Gak penting, harusnya gue yang nanya lo ngapain disini?"

Larva mengatup mulutnya rapat, menatap Agrain dengan ekspresi datar. "Jelas mau lo temuin lo, nyet. Gue tungguin lo daritadi, lo nya gak balik-balik,"

"Intinya aja lo mau ngapain kesini? Kalau gak ada urusan yang penting, silahkan pulang. Gue capek."

Larva merundukan kepalanya, iris coklat terang itu mengintimidasi nya. "Gue.. Mau minta maaf,"

Agrain menautkan kedua alisnya. "Untuk?"

"Kemarin,"

Agrain tersenyum tipis, lalu mengangguk, "gue udah maafin."

Larva mengangkat wajahnya, lalu memeluk Agrain ala laki. "Thanks!"

"Maafin gua juga, udah marah sama lo." Larva mengangguk cepat.

"Gue udah maafin lo, Bang."

Agrain tertawa mendengar kata abang yang terlontar dari mulut sepupunya itu. "Sa ae lo." ucapnya lalu menonjok pelan dada Larva.

"Jangan diulangi lagi, cukup Abang gue kala itu."

"Gue usahain, itu." tegas Larva mantap.

*****

To be continued

Segini dulu ya guys, aku kehabisan ide hhe.

Maafin gess kalo capter ini ga jelas

Next part!

AGRAIN: Life After Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang