chapter 11

33 10 3
                                        

"Bentar lagi Ujian tengah semester, gimana kalau kita belajar bareng-bareng?" Ucap Damian mengusulkan pendapat kepada sahabatnya.

beberapa minggu lagi sekolah mereka akan mengadakan Ujian Tengah semester yang artinya ada satu tahap lagi untuk mereka naik ke kelas XII. Damian mengajak mereka belajar juga ada alasannya, Dia tidak mau nilai nya dan para teman-temannya itu jelek. Biasanya jika belajar bareng itu akan lebih menyenangkan.

"Ngapain belajar?" sahut Raska dengan tampang tak perduli.

"Terus mau nyontek?" terka Gara. "Lo pikir di Universitas nanti nggak akan di seleksi?"

"Bokap gue kaya, semuanya bisa mudah pake uang." balas Raska lagi tertawa ringan.

"Songong amat lo, anjir. Gunain dikit kek, otak lo. Biar nggak bersarang," cibir Damian.

"Kalau perlu cuci pake Rinso!" sembur Larva tiba-tiba.

Raska yang melihat teman-temannya kesal, hanya bisa menatap mereka dengan pandangan datar. "Lagian gue bercanda, gue mh anak baik."

"Hidup lo terlalu banyak bercanda," ujar Damian.

"Belajarnya di Rumah gue aja, nanti." ucap Agrain, tanpa mengalihkan pandangannya ke ponsel.

"Orang Rumah nggak keberatan kan?" tanya Damian. Takutnya, keluarga Agrain risih. Tau sendiri bagaimana mereka kalau ngerusuh, seperti pasien ODGJ.

"Nggak. Lo kayak ke siapa aja, lagian di jam segini Papa gue kerja, Mama gue juga ada jadwal konsultasi."

Mendengar kalimat di akhir membuat mereka ikut merasakan apa yang dirasakan Agrain. Menjadi Agrain tentunya tidak mudah, banyak orang lain iri kepadanya, padahal hidup dia tidak sesempurna itu. Semuanya terasa kosong dan hambar.

Ntah apa yang membuat nya bertahan hingga saat ini. Atau mungkin karena, sahabat nya? Iya bisa dibilang seperti itu. Tanpa mereka Agrain tidak tahu bagaimana jadinya, baginya mereka adalah Rumah.

******

"Bunda udah peringatin kamu, tapi kamu masih ngeyel! Pokoknya, mulai besok kamu harus pindah sekolah! Ayah kamu yang akan mengurus semuanya," ucap Arindi tanpa gugat.

Tadinya, Arindi berbaik hati memberikan kesempatan dengan satu syarat harus bisa masuk Rangking tiga besar, tapi tadi, Falesha ketahuan membolos ke Sirkuit balapan liar dan ditangkap polisi, sampai Arindi yang turun tangan untuk menjemput gadis itu.

"Gak mau, aku gak mau! Bunda tau kan se cinta apa Aku sama sekolah yang sekarang?" bantah Falesha dengan merintikan air mata.

"Bunda gak perduli. Mulai besok Bunda akan urus surat perpindahan nya." Final Arindi lalu pergi meninggalkan Falesha sendiri di ruang tamu.

Falesha menjambak kasar rambutnya, penuh frustasi. "arghhh! Sialan!"

******

"Ini ditambah dulu baru di kali!" Kata Damian penuh frustasi. "Lo niat belajar kagak ha?!"

"Nah kan lo aja cape, mending mabar." dengan tampang tak berdosanya Raska merebahkan tubuhnya di hamparan karpet berbulu itu.

Ingat, bukan Raska namanya jika tidak mempengaruhi teman-temannya menjadi sesad. Damian saja menganggap cowok itu syaiton karena terus menggoda jika sedang melakukan kegiatan yang berbau hal positif seperti belajar saat ini contohnya.

"Yaudh sana lo pulang aja, Ras. Tapi jangan salahin siapa-siapa kalau nilai ujian lo anjlok nanti." Kata Damian mendelik malas.

Raska berdehem malas. Pandangannya menatap langit-langit atap berwarna putih itu. "Andai aja, gue pinter tanpa belajar. kadang, gue mikir gimana misalnya gue bisa dapetin nilai gede tanpa belajar jadi langsung sat-set. Buktinya kayak si Gara, Agra, sama lo Mian." Raksa menjeda ucapannya. "-tukeran otak yuk??"

Larva melempar buku catatannya ke wajah Raska membuat cowok itu kaget. "Anying!"

"Berhenti ngawur. Lagian mana mau mereka tukeran sama otak yang udah berlumut kayak lo!" Sentak Larva terselip nada meremehkan.

"Sembarangan lo ya Anj-"

"Udah!" Lerai Gara. Reflek membuat keduanya terdiam.

"Berisik. Inget tempat, ini waktunya belajar bukan main-main. Tadi kita udah sepakat kan buat perbaiki nilai ujian nanti biar bagus? Buktiin, sekarang. Gunain waktu yang baik." Cecar Gara-sungguh, Gara muak karena terlalu banyak bicara tapi kalau tidak begini, mereka tidak akan diam.

"Bener kata lo Gar. Buat lo berdua bercanda nya bisa ditunda kan? Sekarang kita fokus!" Timpal Agrain.

"Sori, kali ini gue serius!" Kata Raska mantap, membentuk tangannya peace.

"Gue juga!"

"Bagus, yaudah lah kita lanjut keburu larut."

*****

makasih udah mau mampir

See you next part 💙

AGRAIN: Life After Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang