"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?"
"Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
Jalanan ibu kota cukup lenggang di sore hari Ini. Membuat si pengendara dengan motor sport hitam itu bisa leluasa mengendarai nya. Agrain, berniat untuk mengunjungi suatu tempat. Dimana tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi selama beberapa pekan ini.
Selang beberapa saat, Agrain sampai di sana. Angin kencang menyambut kedatangannya ketika memijakan kaki di tempat itu. Tempat yang sunyi, dan terdapat gundukan tanah di sekitarnya. Bisa tebak?
Perlahan kaki Agrain melangkah menuju Tempat yang akan dia kunjungi.
"Sorry Vin, gue baru balik lagi." Liriknya pelan.
Agrain berjongkok, menaruh bucket bunga di sandaran nisan. "Gue gak bisa tepatin janji gue buat terus kesini. Ada banyak hal yang harus gue selesain terutama nyari dalang di balik kepergian lo, tapi sejauh ini gue Belum berhasil nemuin jejak itu."
"—emang payah."
Selama ini Agrain tidak tinggal diam. Justru, setiap waktu dia selalu berusaha mencari tahu sendiri, tanpa mengaitkan sahabat-sahabatnya dalam hal ini. Namun, ternyata tanpa mereka dia tidak bisa apa-apa. Menemukan setitik jejak saja dia tidak bisa.
"Tapi gue gak akan nyerah gitu aja kok, Vin. Lo tenang aja, orang itu harus membayar mahal semua ini."
*****
Lampu-lampu di persimpangan jalan mulai menyala menyinari jalananan yang gelap, dan Angin malam berhembus kencang menerpa wajah Agrain yang sedang mengendarai motornya. Tak terasa, waktu sudah pukul tujuh lewat dua puluh menit padahal tadi masih jam empat. Pada dasarnya jika sedang bercerita waktu akan terasa sangat singkat.
Jalanan ibu kota akan kembali memadat, karena banyak orang yang pulang kerja, biasanya. Dan Agrain memutuskan untuk pulang melewati jalan tikus. Jalanan sepi yang jarang dilewati orang-orang.
"Aarrrghh! Ampun.... gua mohon Lepasin gua..."
"Hahaha, lo pikir semudah itu?"
Lamat-lamat Agrain mendengar suara rintihan seseorang yang didominasi dengan suara orang tertawa sekaligus. Karena penasaran, dia memutuskan untuk mencari suara itu berasal.
Agrain turun dari motor, kemudian mendorong motornya.
"Ini balasan buat lo karena udah berani lawan gua!" Bentak Elmero dengan emosi tersulut.
Elmero memandang Rezan, remeh. Tangannya bergerak menarik kerah seragam Rezan yang sudah tak berbentuk. Setengah seragam nya terdapat bercak darah, dan kusut. Berulang kali juga Rezan terbatuk darah.
"MAAF DOANG?! Maaf lo gak cukup buat semuanya! INI BALASAN BUAT LO YANG UDAH BERANI LAWAN GUA ANJING!"
Agrain yang berdiri tak jauh dari sana, masih mencerna perkataan mereka.
"Bangsat! Mau mati?" Tanpa basa-basi lagi, Elmero memukuli Rezan dengan membabi buta. Agrain yang melihat itu buru-buru melerai nya.
"Sadar! Lo bisa bunuh orang kalau gini!" Sentak Agrain, memisahkan Elmero namun, Elmero memberontak keras.
"Lepas! Lo gak usah ikut campur!"
"Lo udah berlebihan, sadar El! Lo harusnya bisa kendaliin emosi lo. Lo mau di cap buruk gara-gara udah ngabisin orang?"
Elmero bergeming sebentar. Dengan tangan mengepal. "Lo pikir gue perduli?"
Elmero mengeluarkan pisau berukuran kecil, kemudian tanpa berbicara lagi dia menusukkan nya ke perut Rezan.
"ELMERO!"
"Argh....." Rezan jatuh ke tanah, dengan bersimpah darah. Agrain menatap tak percaya, apa Elmero sudah gila?