chapter 17: mengenang [END]

24 2 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


untuk mu aku bertahan - Afgan♪

──────⊹⊱✫⊰⊹──────

"Memang nyatanya hidup harus tetap berjalan sekalipun orang yang kamu anggap peran penting itu tidak ada"
──────⊹⊱✫⊰⊹──────

Agrain menghembuskan kepalan asap rokok ke udara. Cowok dengan kaos Bloods Tshirt berwarna putih dan celana selutut itu duduk di atas Balkon seraya memandangi hamparan langit yang terlihat indah malam ini.

Suasana seperti ini yang membuat hati nya cukup tenang. Tepatnya pukul 00.00. Disaat semua orang sudah terlelap dan menjelahi alam mimpi maka sebaliknya, sedari dulu semenjak kepergian dia tidurnya tidak pernah terasa nyenyak.

Seorang laki-laki dengan almamater sekolah itu tersenyum semringah dengan membawa paper-bag yang berisi oleh-oleh dari studytour. Dia berlari kecil dan tidak sabar pulang ke rumah.

Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat banyaknya orang di Rumah. Dan ada Ambulance, siapa yang sakit?

"Ini kenapa rame-rame dirumah saya, Pak, Bu?" Agrain bertanya dengan intonasi tenang, berfikir positif thingking.

Seorang wanita yang memakai kerudung itu menyerngitkan kening. "Kamu gak tau emangnya?" Agrain menggeleng.

"Abang kamu meninggal,"

Mata Agrain tiba-tiba saja berair, dia menjatuhkan barang bawaannya. "A-apa? Ng-nggak mungkin, nggak."

"Yang sabar ya, Nak. sudah takdir."

Agrain menerobos kerumunan itu dan masuk kedalam Rumah, dia menangis deras lagi melihat manusia yang terbaring lemah dan pucat itu di sana.
cowok itu langsung menubruk dan memeluk tubuh dingin Ravin.

"Bangun....ayo bangun, gue udah pulang." Suara itu terdengar parau dan menyayat hati. Mereka yang mengaji puj ikut terhenti dan ikut merasakan sedih.

"BANGUN VIN! JANGAN TINGGALIN GUE! MANA JANJI LO YANG BAKAL BARENG TERUS SAMA-SAMA HAH? MANA!" Agrain berteriak dan memukul dada nya sendiri guna menyalurkan rasa sakit nya.

"Lo cuman tidur kan..... Ayo bangun Bang,"

Sierra yang sudah tak kuasa lagi ambruk pingsan, sementara Andrean berusaha menenangkan Agrain.
"Jangan gini, nanti Abang gak tenang. Kamu harus ikhlas,"

Dengan mata memerah Agrain menatap sang Ayah, marah. "Kenapa Papa nutupin semuanya dari aku hah?! Se-sekarang aku gak bisa liat Abang lagi,"

"Maafin Papa,"

Dunianya serasa berhenti di titik ini juga, dia kehilangan peran penting dalam hidupnya. Algravin, pergi tanpa pamit itu sakit.

Agrain mematikan putung Rokok nya dan bergegas masuk, dia berjalan kearah nakas dan mengambil beberapa foto dari album. Di foto itu ada dia bersama keluarganya, disana mereka tampak bahagia. Agrain dan Ravin saling merangkul dengan senyuman lebar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AGRAIN: Life After Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang