Agrain menatap pantulan dirinya di
Cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Rapi. Tubuhnya sudah rapi dengan seragam Bina Utama yang melekat pada tubuhnya. Setelah menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya, Agrain beranjak membuka pintu untuk segera berangkat. Namun saat hendak menutup pintu, Agrain mencium Wangi masakan yang sangat menggugah selera.
Ia yakin, pasti saat ini Sierra sedang memasak Udang Saus padang. Yang sangat disayangkan, Bahwa Dirinya alergi terhadap seafood.
"Agra, Kamu sudah siap, Nak?" Tanya seorang pria bersetelan Jas Formal dan Rapi. Yang tak lain dan tak bukan adalah, Andrean.
"Udah Pa," balas Agrain seadanya.
Tangan kekar Andrean bergerak menepuk Pundak putranya. Lalu tersenyum tipis, "Papa tau ini berat, Detik ini, kamu Jalankan peran Lain dalam diri kamu, sampai peran itu masa nya habis, Gak ada salahnya mencoba menjalani. Dan... Papa yakin, ini semua gak akan bertahan lama."
Agrain menghela nafasnya, "apapun demi Mama. Agra gak masalah kalau harus berperan jadi orang lain, Walaupun ini sakit. Yang terpenting Agra masih bisa liat senyuman Mama."
"Kita hadapi sama-sama, Nak. Ada Papa,"
"Iya, sampai episode ini berakhir,"
******
"Papa, Ravin ayok sarapan. Mama udah buatin makanan kesukaan kalian loh," ujar Sierra tersenyum manis.
"Wangi sekali sayang, kamu masak apa?" Balas Andrean mencium surai rambut Sierra.
"Aku masak, Udang Saus padang, sama Sayur Pohon."
Agrain berusaha tersenyum di kala hatinya merasa sesak. Makanan yang dimasak oleh Sierra, adalah memakan favorit Kakak nya, bukan dirinya. Tapi apapun masakannya, Akan tetap ia makan. Tidak perduli jika nanti, ia merasakan sakit yang
Efek memakan makanan itu.
"Kalian kok, malah bengong. Cepetan sarapan nanti kalian telat, loh." Ucap Sierra, beranjak mengambil lauk pauk kedalam piring.
"Ravin, ayo sarap—"
"Asalamualaikum semuanya! Wih asik lagi pada sarapan ya?!" Teriak seseorang dari Arah ruang tamu orang itu berjalanmenuju Dapur.
"Waalaikumsalam, gak usah teriak ini Rumah bukan Kebon." Ketus Andrean menatap ponakannya.
Larva, terkekeh ringan lalu menyalami tangan Andrean dan Sierra. "Ya maaf om, lagian kalau suara nya dipelanin kalian mana denger,"
"Iyain biar cepet!"
"Kang ngegas dih, Si Om, bertolak belakang sama sifat Tante Erra. Kok, bisa sih Tan, Tante bisa suka sama Om Rean yang galaknya di atas rata-rata mending sama Bapake Arva—"
Pletak!
"Jaga mulut kamu yang bau jigong itu. Lama-lama saya bisa depresi hadapin kamu Lar. Saya pecat kamu jadi ponakan saya!"
"Ampun Om. Jangan baperan,"
"Va, diem. Jangan mulai." Titah Agrain.
"Hmmm, gue ganteng gue diem."
"Hahaha, lucu banget kalian sih, Larva kamu pasti mau cariin Agra ya? Agra udah berangkat kesekolah tadi. Telat kamu,"
Deg!
Larva menoleh kearah Agrain dan juga Andrean. Kemudian, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"A-ah nggak Tan. Larva kesini mau bareng Ravin, kok. Kita kan Bestfriend. Iya kan Bro?"
"Hm iya Ma,"
"Owalah, yaudh kalian sarapan dulu, yuk kamu juga sekalian Sarapan, ya Va,"
Larva menggangguk, dan berjalan kearah meja makan, lau terhenti saat, Melihat makanan yang tak asing dimatanya.
"Bahaya nih,"
"Eh iya Gra—maksud gue, eh maksud Larva, Ravin, hari ini ada latihan Kita harus cepet-cepet kesekolah!"
Agrain menautkan alisnya, Larva mengkode Agrain dengan melaui mimik wajahnya.
"Makan dulu pasti keburu, Kalian gak kasian liat, Mama udah susah payah buah makanan ini," ucap Sierra merunduk.
"Yaudh kita mak—"
"Nggak bisa! Kita harus tetep kesekolah! Nanti telat," sarkas Larva memotong ucapan Agrain.
"Jangan ribut, lebih baik makanannya di bekal saja, yah, Papa mau ambil kotak bekal nya dulu." Final Andrean.
"Gapapa kan, Sayang?" Tanya Andrean kepada Sierra.
"Iya, mau gimana lagi,"
"Oke."
*****
"Lo apa-apain Sih Va, gue gak tega tadi liat Mama udah capek masak, malah nggak ke makan." Celetuk Agrain duduk di bangku kantin yang masih sepi.
"Gue lakuin ini demi kebaikan lo juga! Jangan terlalu gak enakan, pikirin diri lo sendiri juga." Kata Larva, lagi. Ntah dengan cara apa lagi untuk menyadarkan cowok itu.
"Gue gak masalah kalau harus gue yang terluka. Gak perduli, yang terpenting Mama."
Larva membuang mukanya ke objek lain, lalu tertawa. Ada ya, seseorang mengorbankan dirinya sendiri demi melihat orang itu tidak terluka. Walaupun itu Ibu kandung nya sendiri, tetapi tetap saja, Jika terjadi apa-apa nanti, Ibu nya itu tidak akan mau bertanggungjawab.
"Apa Mama lo perduliin lo?" Tanya Larva berbalik. "Apa Mama lo anggap lo ada?"
"Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih sayang dari nyokap lo? Bahkan sampe Ravin mati, lo belum bisa kan nempatin posisi pertama?"
Lanjut Larva dengan notasi nada tinggi. Urat di leher nya terlihat menonjol tercetak jelas bahwa laki-laki itu marah besar.
"Apa yang lo harepin?" Kini Larva menurunkan nada bicaranya.
"Lo bener, Va. Sampe kapan pun. Gue gak akan bisa nempatin posisi Ravin yang ada di tahta tinggi. Gue cuman figuran di dunia Mama." Balas Agrain seraya tersenyum.
Larva merangkul Agrain, seraya menepuk pundak nya. "Gue cuman minta satu sama lo. Sesayang apapun lo sama nyokap, jangan sampe rela lukain diri sendiri,"
"Dan ini...." Larva mengambil totebag yang berada di atas meja. Kemudian mengambil kotak bekal berwarna Biru itu , tak lepas dari situ, Larva mengambil Kotak bekal milik nya "bekal lo buat gue, lo makan punya gue aja, kebetulan itu gue yang masak,"
"Gue gak akan berakhir kan, abis makan bekal lo?"
Plak! Dengan tampang tak berdosa, Larva menampar lengan Agrain.
"Anjir lo ye, gak gue pakein racun kali!"
"Baperan lo Sumanto!"
"Sape Somanto?!"
"Bapak lo!"
"Anying!"
Detik berikutnya mereka tertawa bersamaan, meruntuki sifat bodoh nya.
******
Segini dulu ygy, gimana ceritanya? Seru ga? Wkwk, semoga aja bisa menghibur kalian deh.
Agrain sama Larva baru aja serius udah gelut ae, maapkeun aja gess jangan aneh😭
Udah ye, next chapter!
Share cerita ini ke temen kalian, okeyy babayyy
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRAIN: Life After
Teen Fiction"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?" "Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
