Author pov
Pukul 11 lewat dua puluh menit
"FALESHA!"
Falesha yang semula mengendap-endap, langsung tersentak kaget mendengar suara yang jelas ia kenali, memanggilnya dengan keras.
"Berapa kali Ayah sama Bunda nasihatin ke kamu? Jangan bolos terus. nilai kamu masih ada di bawah kakak kamu loh," tegur Arinda-ibu kandung dari Falesha.
Falesha yang semula masih menyender di tembok seperti cicak reflek menegakkan tubuhnya "Maaf, Bun."
"Semenjak kamu sekolah di SMA Pelita kamu makin membangkang. nilai hancur, main keluar lupa waktu. Pasti itu pengaruh dari sekolah itu kan? Bunda juga sering liat kamu pergi main sama anak-anak cowok, kamu itu perempuan loh, Sa. Mending kamu diem di rumah, bantuin Bunda kayak kakak kamu."
Papar Arinda.
Falesha membuang pandangannya kearah lain, ucapan itu sudah terlontar puluhan kali dari mulut Bunda nya. Ia juga tidak ingin menjadi Gadis nakal seperti ini, namun keadaan yang menyuruhnya. Diam di rumah main HP, salah. Tidur salah, pas bantu-bantu Bunda nya bertanya, 'tumben'. Gimana gak kesel?
"Kalau gini terus, Bunda gak segan buat pindahin kamu!"
"NGGAK! Gak mau Bun," Falesha menggelengkan kepala nya cepat.
Arinda melipat kedua tangannya di dada "Bunda kasih kamu satu syarat, kalau kamu bisa masuk tiga besar, Bunda bebasin tapi kalau nggak? Kamu tau kan konsekuensinya?"
"Bun, Gak bisa... Bunda tau kan, setiap kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Udah punya porsi masing-masing."
"Gak usah beralasan dan bersembunyi dengan kata-kata motivasi kamu itu. Bunda nggak perduli, pokoknya udah final, oke?" Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Arinda pergi meninggalkan Falesha.
"BUNDAA!"
"Bunda gak bisa maksa gitu dong Bun! Aku mana bisa dapet rangking satu, masuk lima besar aja nggak pernah!"
"Bukan urusan, Bunda!" Sembur Arinda berteriak.
*****
Angin malam berhembus kencang menyapu permukaan pori-pori. Langit malam pun terlihat sangat indah dibiasi oleh ribuan bintang dan gumpalan awan hitam yang menyelimuti langit.
Di bawah langit sana, seorang cewek dengan celana jeans hitam serta balutan jaket dan kaus polos didalamnya, berjalan seorang diri di hamparan jalanan yang lumayan sepi.
"Bandingin aja gue terus! Emang ya, gue itu selalu salah dimata Bunda!" Monolog nya seraya berteriak.
Falesha, gadis itu benar-benar kabur dari rumah. Dan enggan kembali kerumah. Ia benar-benar muak dengan semua drama di rumah, tiada hari tanpa dibandingkan dengan saudari nya.
"Sebernarnya gue anak Bunda apa bukan sih! Kenapa selalu gue yang dibandingin."
Batas kesabaran Falesha sudah di ambang batas. Selama ini dia sudah cukup diam dan menerima semua lontaran pedas yang diberikan oleh Bundanya. Tetapi bukan kah batas kesabaran seseorang akan habis jika terlalu lama seperti ini, yah, Falesha juga merasakan nya sekarang.
Falesha bertepi di sebuah bangku yang terletak di pinggir jalan, bangku itu menghadap langsung menuju jalanan langsung.
"Aaarghhh! Cape! Harus dengan apa lagi gue nyadarin Bunda, kalau kemampuan seseorang itu gak sama! Gue emang gak sepinter Gania, gak ada yang bisa dibanggain dari gue."
Falesha menyeka kasar air mata nya, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, penampilan nya juga sungguh berantakan apalagi dengan rambut nya yang sudah kusut.
KAMU SEDANG MEMBACA
AGRAIN: Life After
Teen Fiction"Apa Mama lo perduliin lo?" Ucap Larva bertanya dengan emosi tertahan. "-Apa Mama lo anggap lo ada?" "Sadar! Jangan bego! Lo cuman dijadiin bayang-bayang sama nyokap lo! Sampe kapan lo gini? Dari kecil Gra, Dari kecil! Berapa tahun lo harapin kasih...
