s: aku datang lagi untukmu

16 4 6
                                    

sorin

Zagi ketakutan.

Di saat seharusnya aku yang lebih merasa takut—takut dia akan membenciku setelah melihat foto-foto itu—serta merasa bersalah karena melakukan hal ekstrem di luar perkiraannya, Zagi kemudian malah menghiburku.

Aku tak pernah mengira akan mendapat balasan perlakuan seperti itu.

Semestinya dia membenciku saja.

Sehabis Zagi berkata dia ingin berkunjung ke rumahku, aku tidak ingin dia berasumsi buruk tentangku jika aku menolaknya. Aku kesulitan menyembunyikan kebohongan jika sudah berkaitan dengan Zagi, dan entah kenapa di sisi lain hatiku, aku ingin melihat bagaimana dia bereaksi akan hal ekstrem-ku itu.

Rasa takut dan penasaranku bercampur.

Dan kuketahui, rasa takut dan ibanya pun bercampur. Makanya dia menghampiriku dan malah menghiburku di saat seharusnya dia segera berlari meninggalkan unit apartemen menyeramkan tersebut.

Zagi berdiri setelah beberapa lama berjongkok menenangkanku. Pandangannya menyapu keseluruhan dinding yang menyimpan potret-potret dirinya dalam gaya candid.

Ya iyalah. Aku kan melakukannya dengan sihir. Tidak mungkin terang-terangan aku menjepretkan kamera itu ke hadapan mukanya.

Begitu kepalanya kembali menghadap sini, kutemukan matanya yang memerah. Hatiku teriris menyaksikannya.

"Maaf. Aku harus pergi."

Iya. Sebaiknya itu yang dia lakukan.

Pintu unit apartemen tertutup pelan beberapa jauh dariku, menghasilkan sunyi yang tak pernah kugemari.

Di istana, meski luasnya berkali-kali lipat dari salah satu kamar di gedung hunian tersebut, di sana selalu ramai oleh sahutan-sahutan menteri, petugas perpustakaan, para pelayan dan koki, ayah tahu aku membenci suasana hening istana makanya dia menyuruh mereka sering-sering berkeliaran di sepenjuru istana.

Tetapi mengapa aku malah berurusan dengan kebencianku demi bisa satu dunia dengan Zagi?

Sudah jelas, kan.

Aku terobsesi padanya.

Pangeran yang dijodohkan denganku orangnya memang agak nyentrik, alias narsis. Dia tampan luar biasa seperti kebanyakan pangeran lainnya. Namun aku tidak suka kehidupanku yang seperti itu; kehidupan klise seorang tuan putri yang sudah dijodohkan dengan pangeran dari negeri seberang.

Dan begitu aku menemukan mantra penembus dimensi di buku sihir kuno yang kutemukan setelah mengobrak-abrik ruang rahasia perpustakaan istana, aku tahu dari situ hidupku akan berubah.

Aku mempelajari sihir tersebut diam-diam tanpa sepengetahuan kedua guru sihirku. Setiap tengah malam di saat hanya para penjaga istana saja dan sebagian pelayan yang masih melek, aku menyingkirkan selimutku, mengambil buku sihir kuno dari bawah tempat tidur, kemudian membacanya di bawah lampu tidur.

Berbulan-bulan aku menggelutinya sampai berat badanku agak turun. Kuberi alasan selera makanku berkurang pada petugas kesehatan yang selalu mengecek kondisi tubuhku di setiap pengujung bulan.

Hingga akhirnya pada suatu Selasa pertengahan musim semi, portal menuju dimensi lain itu terbuka berkat mantra rumit yang berhasil kuucapkan lancar. Aku memekik girang di sudut hutan terpencil tersebut lalu lekas-lekas menutup mulut sebelum pelatih penunggang kuda yang ke sini bersamaku mendengarnya.

Tanpa sedikit pun keraguan, sehabis kupastikan telah meninggalkan 'surat izin pelarian diri' di meja cermin kamarku, kaki mungilku melangkah menuju portal tersebut dengan masih mengenakan pakaian latihan.

Tak apa, aku tahu sihir-sihirku akan berfungsi di dunia yang akan kupijaki nanti. Aku telah membaca kisah si orang pertama yang pergi ke dunia lain itu. Dari ceritanya saja sudah kelihatan terasa menyenangkannya. Dan walau itu sudah bertahun-tahun lalu, aku yakin sensasinya tidak akan jauh berbeda.

Namun aku salah besar!

Intinya, aku mendapatkan banyak benda yang manfaatnya hampir serupa sihir. Seperti benda persegi panjang yang tersedia berbagai fitur di dalamnya. Lalu benda persegi panjang lainnya yang berukuran lebih besar berisi banyak tontonan seru dan menarik. Harganya memang sangat mahal, tapi dengan kekuatan sihir pelengkapku yang sengaja kupelajari dulu sebelum ke sini, aku berhasil membuat diriku menjadi seperti mereka.

Bersekolah, mempunyai tempat tinggal, makanan sehari-hari yang bisa dipesan melalui aplikasi, meski umurku saat itu baru 10 tahun, aku merasa diriku jauh lebih mandiri dibanding anak-anak seusiaku di situ.

Mereka itu, ah, manja sekali.

Gampang menangis, mengadukan rahasia teman, minta dibelikan ini itu, belum saja disuruh memburu babi hutan. Orang-orang di duniaku ternyata lebih unggul dari sekumpulan manusia modern itu. Mereka terlalu terlena oleh alat-alat canggih yang bisa didapatkan hanya dengan uang alih-alih berlatih mengucapkan mantra membingungkan.

Aku membuat nama baru (bukan Sorin) dan akta kelahiran palsu termasuk nama orangtua beserta tanda tangannya yang kubuat asal. Mudah sekali membuat mereka percaya. Dan kalau pun tidak berhasil, tinggal kutunjukkan saja lembar-lembar uang yang mampu memikat mata duitan mereka.

Lalu dari mana aku mendapatkan uang? Ya dari sihirlah!

Selama aku berada di dunia yang sama dengan mereka, keorisinalan alat pembayaran sah tersebut tak perlu diragukan. Cuman itu semua akan menghilang saat aku kembali ke dunia asalku.

Bodo amat.

Kuduga hadirku di situ tanpa satu pun anggota keluarga (dan terlebih masih di bawah umur), pasti menimbulkan kecurigaan ke benak siapa pun. Tapi sungguh, tidak ada yang benar-benar peduli. Dan aku pun menyukurinya.

Hidup di dunia sana memang benar-benar menyenangkan.

Sampai aku bertemu Zagi di pentas drama kelas empat.

Aku satu tahun di atasnya, kelas lima. Aku menonton pentasnya tanpa ketertarikan apa pun. Namun begitu kulihat ada anak laki-laki yang mengacaukan drama dengan berlari-larian di atas panggung dan guru pembimbing memarahinya, aku tertawa kencang sekali sampai mengalahkan atensi penonton terhadap anak kecil tersebut.

Dari situ aku mulai sering memerhatikan Zagi. Dan tahu-tahu saja aku sudah jatuh cinta akan pesona biasa-biasa sajanya yang bahkan keberadaannya sering tidak disadari orang-orang di sekitarnya.

Dia seolah selalu menginginkan perhatian walau pribadinya tak banyak bicara maupun bertingkah. Dan sekalinya bertingkah, malah di acara yang sangat penting.

Aku geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.

Jika tak ada seorang pun di sekolah yang memerhatikannya, maka aku akan menjadi orang tersebut.

Aku akan memberi seluruh perhatianku untuknya.

Aku akan memberi seluruh waktuku untuknya.

Aku akan mengisi kesibukanku dengan selalu memikirkannya.

Lalu aku pun menyatakan suka padanya saat kenaikan kelas.

Dia menolakku.

Dia bilang, umur kami terlalu muda untuk menjalin hubungan rumit orang dewasa.

Tapi dia akan membalas cintaku empat tahun mendatang.

Maka aku pergi ke duniaku, dan kembali empat tahun kemudian.

Aku telah mempelajari sihir pembaca emosi sebagai bekal. Aku akan tahu apa perasaanku benar-benar terbalas atau tidak.

Lalu aku sedikit mengerjainya dengan sihir kutukan. Biar dia tidak menyukaiku, aku akan membuatnya selalu mengucapkan kalimat cinta itu jika bertemu denganku.

Dan penantianku akhirnya tiba.

Zagi menyukaiku di ucapan i love you kelima.

Namun kini, setelah kulepas sihir pembaca emosi itu darinya, sepertinya rasa suka itu telah berubah menjadi benci.

Tidak.

Zagi takut terhadapku.

fact.
sorin tidak sadar dia mengalami love at first sight kepada faris

i don't have a crush on you. [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang