Walau setidaknya menurutku kami sudah berbaikan, hari-hariku besoknya tetap memilukan.
Zagi memutuskan dia perlu rehat dulu dari berhubungan denganku. Aku mengerti keadaannya, memang tak secepat itu dia bisa pulih dari rasa syoknya melihat—oke, aku tak akan menjelaskannya lagi.
Aku mengerti keadaannya, mengerti keadaannya, mengerti keadaannya, tapi tetap saja rasanya memilukan harus menjalani hari tanpa bertemu dan berinteraksi dengan kekasih hatiku. Tak apa berlebihan, Zagi tak tahu soal ini.
Aku menjadi lebih sering kesal, merengutkan muka, berkata memakai nada tinggi, hingga menyebabkan teman-temanku membiarkanku dengan keadaan begitu; Xiera dan Yuyu tahu apa penyebabnya. Sementara kubiarkan Teressa menganggapku tidak menyukai cowok mana pun.
Hari pertama terasa sangat sulit. Walau kemarin sore aku baru bertemu Zagi, aku justru semakin ingin bertemu dengannya lagi mengingat 12 jam sebelumnya aku melihat wajah lucunya memerah.
Aku ingin melihatnya seperti itu lagi!
Tetapi tidak bisa.
Aku harus menuruti dan menghargai keinginan Zagi. Aku tak boleh bertindak egois lagi.
Hari kedua aku menunjukkan kepribadian negatifku. Ya yang tadi kujelaskan. Aku merengutkan muka dari pelajaran pertama sampai pelajaran terakhir.
Hari ketiga, masih sengaja menghindari Zagi, aku kehilangan selera makan. Yuyu lalu memasukkan selembar roti cokelat kemasan ke mulutku begitu entah mengapa dia tahu sedari bangun tidur aku belum memakan apa pun.
Hari keempat aku mulai memikirkan hal yang curang. Aku bisa tak sengaja bertemu Zagi asalkan dia tidak melihatku. Aku bisa membuat skenarionya.
Maka dari itu di waktu istirahat, aku mengelilingi sekolah. Dari mulai sisi terujung gedung kelas tujuh, delapan, sembilan, laboratorium, perpustakaan, taman belakang yang menyeramkan, terakhir kantin. Tapi tak ada Zagi di mana pun!
Sepertinya dia tahu aku berbuat curang. Sengaja tidak keluar kelas. Huh!
Hari kelima aku memikirkan hal curang lain. Aku bisa diam-diam bertemu Zagi dalam wujud tembus pandangku. Dia tidak akan tahu.
Aku pun sudah berada di koridor depan kelasnya, menempelkan punggung ke dinding sebelah pintu 8K. Kenapa pula aku harus bersembunyi? Entahlah, ini terasa seperti tindakan pencurian. Pencurian pertemuan.
Ada kemungkinan hari ini Zagi berdiam di kelasnya lagi. Aku bisa bertemu dengannya hanya dengan berjalan beberapa langkah. Dia tidak akan tahu.
Dia tidak akan tahu.
Kemudian suatu kejadian pada hari aku berada di kamar gelap Zagi yang terkunci berduaan bersamanya menyelusup ke dalam kepalaku.
Ah. Hm.
Lagi pula Zagi tidak akan suka.
Selain pada dirinya, mestinya aku pun berjanji pada diriku sendiri.
Zagi tidak akan suka ini.
Aku berderap kembali ke kelasku.
Hari keenam aku murung seharian.
Hari ketujuh hari libur.
Satu minggu sama sekali tak berjumpa dengannya, tak melihat wajahnya, tak mendengar suaranya, tak berdekatan dengannya, kehilangan arti mengapa aku masih tinggal di sini, aku mulai berpikiran untuk kembali ke duniaku.
Mungkin... aku bisa ke sini lagi setelah empat tahun?
Rehatnya Zagi tuh berapa lama, sih? Dia tidak memberitahuku apa-apa dan kami tidak diizinkan untuk saling bicara.
