Ezar, anak kedua dari 3 bersaudara yang berasal dari keluarga kaya. Ayahnya seorang pengusaha, Bundanya seorang ibu rumah tangga yang selalu dimanjakan oleh sang suami. Ezar menuruni sifat mandiri dan tidak suka menganggur dari Ayahnya.
Diam-diam, E...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ezar datang pagi-pagi sesuai pesan Shara semalam. Dia sendiri belum tau alasan Shara yang sepertinya buru-buru banget buat nyariin anaknya sopir. Sekarang, cowok berambut agak gondrong itu berasa akan diinterogasi.
Gimana tidak, dia berdiri dengan tangan saling bertautan, di depannya sudah duduk sepasang suami istri yang menatapnya secara intens.
"Nama kamu siapa? Umur berapa?" tanya Kenan, suami Shara.
"Ezar, Pak. Umur 23 tahun."
"Masih muda ya..."
"Iya, Pak. Tapi saya sudah mulai menyetir sejak SMA kelas 3. Sekarang saya semester 8."
"Katanya kamu satu kampus dengan anak saya? Jurusan apa?" Masih Kenan yang menanyai.
"Benar, Pak. Saya jurusan hukum. Kalo nggak salah denger kemarin, anak Bapak jurusan ekonomi bisnis, berarti masih satu gedung sama saya, Pak."
Kenan manggut-manggut, sementara Shara tersenyum puas merasa pilihannya tepat.
"Kamu hari ini kuliah jam berapa?" tanya Shara.
"Kebetulan hari ini kosong, Bu." jawab Ezar.
"Good." balas Shara lalu menyentuh pundak suaminya. "Gimana, Pa?"
"Oke, nggak masalah." jawab Kenan dengan anggukan setuju.
"Kalo gitu, kamu bisa kerja mulai hari ini. Sekarang masih jam 7, Adara masuk jam 8. Sebentar, aku ambilin salinan jadwalnya Adara." kata Shara.
Kenan juga ikut berdiri setelahnya. "Duduk, nggak usah tegang. Kalo belum makan, ke belakang saja. Ada Mbok Darmi di dapur." Cara bicara Kenan lebih santai dari sebelumnya.
Ezar mau duduk juga agak nggak enak, tapi nggak mungkin berdiri terus selama sejam. Padahal kalau Ezar perhatikan rumah itu juga 11 12 sama rumahnya. Mungkin karena dia sekarang berstatus sebagai sopir pribadi, jadinya ada rasa nggak enak kalau dia masih memposisikan diri sebagai anak dari keluarga yang status sosialnya sama.
"Ezar..." panggil Shara yang datang membawa secarik kertas. "Ini jadwalnya Adara. Kamu bawa, biar kamu bisa nyesuain sama jadwal kamu."
"Iya, Bu. Terima kasih."
"Oh ya, nanti sore kalo udah balikin Adara, gaji pertama kamu aku transfer."
Mata Ezar membulat. Kayak, apa-apaan ini ibu-ibu? Main transfer saja ke orang baru. Iya kalau orangnya amanah, kalau tidak? Bisa saja uangnya dibawa kabur tapi besoknya sudah nggak balik kerja lagi.
"Akhir bulan saja, Bu. Atau pertengahan. Saya kan masih orang baru, nggak enak kalo langsung dibayar dimuka." tolak Ezar dengan sopan.
Shara malah tersenyum. "Dari kamu nolak gini aja udah keliatan kalo kamu anak yang jujur. Udah pokoknya habis ini kirim nomer rekening kamu." Sangat positive thinking.