Next Chapter
Happy Reading
*****
Kini Vanya tengah berada di kamar Sheira, ia melihat ke sekeliling area kamar itu masih dengan nuansa yang sama saat ia dan Sheira main sewaktu SMP dulu.
"Kamar lo ga ada yang berubah raa" Ucap Vanya yang sekarang duduk di bangku meja rias Sheira.
Sheira pun melihat kamarnya ia pun tersenyum, "Haha masih inget aja lo sama kamar gue, gue males buat ngubah nih kamar terlalu banyak kenangan nya" Jawab Sheira.
Setelah percakapan itu Sheira maupun Vanya hanya fokus pada hpnya dan tidak ada obrolan apapun, sampai Vanya teringat sesuatu dan ia pun mulai membuka suara.
"Oiya raa, gue baru inget buat ngomong ini sama lo" Ucap Vanya kepada Sheira.
Sheira pun melihat ke arah Vanya, "Mau ngomong apa?" Jawab Sheira sedikit penasaran.
"Kating yang lo maksud mirip sama dia itu Daniel raa?" Ucap Vanya.
Sheira yang mendengar itu pun kaget karna awalnya ia ingin melupakan soal mantan crushnya yang mirip dengan Daniel, "Iya, itu Daniel" Jawab Sheira.
"Gue kira lo gabakal sadar soal ini, ternyata lo sadar yaa" Sambung Sheira yang sedikit lemas membicarakan tentang ini.
"Jelas gue sadar, gue waktu kenalan sama Daniel kemaren gue kaget kok Daniel bisa semirip itu sama dia, dan ditambah lagi pas gue tau ternyata Daniel sama Elang kating lo mangkanya gue ngomong sama lo sekarang" Ucap Vanya menjelaskan.
"Raa lo gapapa kan? Soalnya gue liat kalo lo kayak ga nyaman deket sama Daniel kayak lo ngehindar gitu, apa cuma perasaan gue aja yaa" Sambung Vanya memastikan bahwa temannya tidak apa apa.
Sheira yang awalnya sedang menyenderkan tubuhnya pada pinggiran kasur pun langsung membenarkan posisi duduknya menghadap Vanya yang duduk pada bangku meja rias dan menaruh hpnya.
"Gue gapapa dan juga bukan perasaan lo aja kok soal gw ngehindar dari Daniel, gue emang sedikit ngehindar dari Daniel" Ucap Sheira menggantung sebelum akhirnya ia membuka suara lagi.
"Gu-gue sama blom siap Van setelah gue udah berusaha ngelupain dia yang ada di saat gue SMA kenapa harus muncul dia yang lain saat gue kuliah dan yang ternyata orang yang mirip dia adalah Daniel teman bang Gibran sekaligus kating gue sendiri, yang bisa di bilang mau ga mau gue pasti bakal sering ketemu dia, dan gue juga gatau harus kayak gimana Van" lanjut Sheira mejelaskan dengan nada bicara sedikit lesuh.
Vanya yang mendengar jawaban dari Sheira pun ia langsung bangkit dari duduknya dan langsung duduk di samping Sheira untuk menenangkan nya agar dirinya tidak terlalu larut bersedih.
"It's okay raa, gue paham kok terkadang untuk melupakan seseorang yang udah ada di masa lalu kita emang susah itu, tapi gue yakin lo bisa walau orang yang mirip dia itu hadir dalam hidup lo, dan satu lagi gue liat Daniel kayaknya tulus untuk menyukai seseorang" Ucap Vanya kepada Sheira.
Sheira mendengar kan ucapan Vanya, ia tidak menyangkal bahwa Daniel memang kelihatan orang yang tulus dalam menyayangi seseorang, namun Sheira masih butuh waktu untuk menerima kehadiran Daniel yang mirip dengan seseorang di masa lalunya.
....
Singkat cerita pada malam harinya Vanya, Daniel, dan Elang pun tengah berpamitan kepada orang tua Sheira untuk segera pulang dan Sheira pun mengantar ketiganya ke depan rumah.
"Raa gue balik dulu yaa, thanks buat hari ini" Ucap Vanya.
Sheira pun mengangguk mengiyakan ucapan Vanya, setelah mereka bertiga telah keluar dari gerbang rumahnya, ia pun masuk ke dalam dan menuju meja makan keluarga yang dimana terdapat sang mama yang sedang telponan dengan seseorang.
Sheira pun duduk pada salah satu bangku yang terdapat di area meja makan tersebut, ia menunggu sang mama selesai telponan karna ia ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Hmm maa Sheira boleh nanya sesuatu sama mama?" Ucap Sheira setelah sang mama selesai telponan.
"Boleh sayang, kamu mau nanya apa?" Jawab sang mama.
"Maaf maa kalau ini kesannya Sheira ikut campur, tadi Sheira ga sengaja denger waktu mama ngobrol sama Elang dan Daniel di ruangan kerja mama, Sheira denger tentang orang tuanya Elang, hmm emang nya orang tuanya kenapa maa?" Ucap Sheira sedikit penasaran.
Vanda yang mendengar anaknya berbicara tentang itu pun kaget, tapi ia pikir mungkin tidak masalah kalau ia memberi tahu Sheira, mama Vanda pun mulai menceritakan semuanya.
"Dulu mama punya teman, yaitu mamanya Daniel dan juga ayahnya Elang, mereka berdua teman mama kita mencapai tujuan kita masing masing yang dimana mama menjadi pengacara sesuai tujuan mama, Eva (bundanya Daniel) menjadi seorang psikiater, dan Dimas (ayahnya Elang) menjadi seorang pengusaha. Dimas punya dua orang anak yaitu Elang dan Lania (adik perempuan elang), Dimas sayang sama keluarga nya sampai dimana ketika mereka sedang liburan mengunakan mobil, mereka kecelakaan dan menewaskan Dimas serta istrinya, Elang dan Lania di larikan kerumah sakit, mama pikir Lania akan selamat namun ketika sampai dirumah sakit justru Lania mengembuskan napas terakhir nya. Mama dan tante Eva yang mendengar kabar itu pun langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Elang karna bisa di bilang hanya Elang yang selamat dari kecelakaan itu, saat kecelakaan usia Elang masih sangat lah terbilang muda dan mama pun merasa ada hal janggal dalam kecelakaan keluarga Elang, dan benar saja kecelakaan yang menimpa keluarga Elang sudah direncanakan karna ketika polisi memeriksa mobil Elang mereka mendapati bahwa rem mobil tersebut sudah di sabotase oleh seseorang. Mama pun menuntut kasus kecelakaan ini untuk di tindak lanjuti dan yang menjadi tersangka adalah rekan bisnis ayahnya Elang sendiri, saat sidang berlangsung Elang pun sadar dari komanya ia yang mendengar bahwa dirinya sekarang sebatang kara pun menjadi down dan mengenai mental Elang, ia tidak ingin bertemu dengan siapapun sampai akhirnya tante Eva pun memeriksa keadaan Elang. Mama yang berjuang untuk mendapatkan keadilan atas keluarga Elang dan tante Eva yang berusaha menyembuhkan Elang, sampai semua itu bisa kita lewati tapi Elang masih trauma akan masa lalunya" Ucap mama Vanda yang menceritakan semuanya kepada Sheira.
"Semenjak kejadian itu mama sudah menganggap Elang anak mama sendiri, begitupun dengan Daniel, dan pada akhirnya Gibran menjadi dekat dengan mereka berdua" Lanjut mana Vanda.
Sheira yang mendengar cerita tentang keluarga Elang pun sedikit kasian, dan ia pun berpikir bahwa Elang pasti sangat sakit kala itu dan ia pun menjadi paham kenapa sang mama sangat dekat dan juga sayang dengan Elang dan juga Daniel.
"Ohh jadi gitu maa, Sheira paham sekarang kenapa mama sayang sama Elang kayak anak sendiri karna ini alasannya, mama emang pengacara sekaligus orang tua yang keren mangkanya Sheira mau ikutin jejak mama buat jadi pengacara" Ucap Sheira dan langsung memeluk mamanya, karna ia bersyukur masih mempunyai orang tua dan kakak yang sangat menyayangi dirinya.
.....
Setelah obrolan dirinya dengan sang mama tadi, Sheira pun kembali ke kamarnya untuk segera tidur, namun ketika ia ingin mematikan lampu kamarnya ia mendapat telpon dari temannya yang tidak lain adalah Vanya.
"Halo kenapa Van?" Tanya Sheira kepada Vanya.
"Raa besok ikut gue dinner yaa" Ucap Vanya mengajak Sheira agar dirinya ikut dinner bersama.
"Hah? Dinner?!" Jawab Sheira kebingungan.
Akankah Sheira menerima ajakan Vanya untuk dinner pada esok hari? Nantikan kelanjutan ceritanya.
To be continue
Jangan lupa VOTE untuk kelanjutan ceritanya!!
See u next chapter 🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Sheira's story
Teen FictionSheira Salsabila Putri Setiawan, biasa akrab di panggil Sheira itu adalah seorang maba di salah satu universitas ternama yg sangat sulit untuk siapa pun bisa masuk dan lolos kedalam universitas tersebut. "Bang Daniel emang ganteng yaa, ampe di liat...
