"Aku tanya lagi, siapa monster yang kau maksud cantik?"
Innara terdiam tak mau menjawab, jika laki-laki itu telah berada di sana sejak ia berbicara dengan Lena pastinya ia mengetahui siapa monster yang dimaksud.
"Kau ini benar-benar keras kepala, tidak cukupkah hukuman yang aku berikan?"
Marco duduk di hadapan Innara, memandang penampilan perempuan itu yang terlihat lebih baik daripada sewaktu tinggalkan tadi padi. Semerbak harum wangi mawar menguar dari tubuhnya, rambut yang ditata rapi dengan jepit pita menahan poni panjang di sebelah kiri.
"Baiklah aku tidak akan membahasnya lagi," ucap Marco pada akhirnya melihat tidak ada niatan Innara untuk menjawab pertanyaan dirinya. "Bagaimana keadaanmu?"
Perempuan itu sedari tadi membuang muka tepat setelah Marco pindah ke depannya, kini ia memalingkan wajah kembali untuk menatap tajam Marco.
"Apa kau bercanda bertanya seperti itu padaku? Orang gila mana yang masih bertanya kondisi korban yang ia perkosa!" balas Innara telak, disertai bentakan sebagai penguat dari rasa amarah yang kembali terpantik.
"Sialan, kau wanita yang sulit sekali patuh." Marco mengusap dagunya, ia kesal pada gadis di depannya, meskipun begitu entah mengapa ia semakin tertarik dengan Innara, ia ingin membuat perempuan itu tunduk pada dirinya. "Kau budakku, camkan itu."
"Cuih!" Innara meludah ke arah Marco. "Tak sudi aku, lebih baik aku mati daripada menjadi budakmu!"
Tindakan Innara membangunkan singa yang tertidur, harga diri Marco terasa diinjak-injak diperlakukan seperti itu oleh Innara.
Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah ditolak dengan cara serendah ini. Perempuan akan rela mengangkang di hadapannya ketika Marco meminta. Bahkan sebagian besar malah menawarkan diri secara cuma-cuma.
Ia bangkit berdiri di hadapan Innara, satu tangannya menjambak rambutnya. "Aku sudah membelimu pelacur sialan. Kau ingin dihukum lagi sepertinya."
"Lepaskan aku, brengsek!"
Lagi-lagi diteriaki dan mendengar umpatan dilemparkan padanya. Marco kesal, kali ini ia menampar gadis itu cukup keras, membuat wajahnya memerah.
"Perhatikan ucapanmu, pelacur!" Ia menarik kembali rambut Innara dan menampar sekali lagi perempuan itu, berkali-kali hingga ia puas setelah melihat bercak dara di sudut bibir Innara.
Jarinya mengusap darah itu, ia tersenyum melihat kini Innara tidak terlihat lemah. "Aku tak main-main dengan ucapanku. Sekali lagi kau berani melawan, mungkin kau akan mendapatkan yang lebih mengerikan."
Marco membawa kakinya pergi dari sana. Sayup-sayup sebelum benar-benar pergi, ia mendengarkan tangisan Innara yang menyedihkan.
Senyumnya merekah lebar, penderitaan gadis itu adalah kebahagiaan baginya. Di balik pintu kaca, ia melihat tiga maidnya yang ternyata mengintip mereka sedari tadi.
"Siapkan dia di kamar malam nanti, pastikan dia bersih, dan ajari dia untuk patuh jika ingin tetap hidup."
Madam Choo mengangguk, dan segera membungkuk, begitu juga dua maid muda itu. Marco kemudian benar-benar pergi dari sana.
Lena lebih dulu menghampiri Innara, ia memeluk gadis itu erat-erat. "Sabar, Nonaa. Sabar. Tenanglah."
***
Malam ini Innara tidak diberikan memakai pakaian, ia dipersiapkan dengn tubuh polos di atas tempat tidur. Sebelumnya Ia kembali dibersihkan tubuhnya oleh para maid.
Sebuah jemari lentik mengusap pipinya, menghapus aliran air mata yang di wajah Innara.
"Tolong jangan menangis Nona, itu akan membuat matamu sakit dan membengkak."
"Biarkan Lena, aku hanya ingin menangis karena hanya itu yang bisa aku lakukan."
Lena sangat kasihan dengan kondisi Innara, tetapi gadis itu jug tidak punya kuasa untuk membantunya. Yang bisa ia berikan hanya ucapan penyemangat.
"Entah apa dosa besar yang telah aku perbuat, Lena, hingga aku berakhir menyedihkan seperti ini."
Lena meraih telapak tangan Innara, menggenggamnya erat. "Nona pasti bisa melewati ini, aku percaya." Ia lalu mengusap rambut Innara. "Kalau saya bisa memberikan saran untuk nona. Tolong jangan melawan tuan Marco, atau nona akan dalam masalah yang semakin besar."
"Maksudmu aku harus patuh melayani birahi monster itu? Membiarkan tubuhku dijamah? Menjijikkan!"
Maid muda itu menghela napas, benar kata Marco. Innara adalah gadis keras kepala, pembangkang dan sulit diberi tahu.
"Nona. Mau melawan ataupun tidak, akhirnya tetap sama. Setidaknya ia tidak melakukan kekerasan pada nona."
"Aku masih punya harga diri, Lena."
"Harga diri yang membuat nona dalam masalah? Jika nona melawan terus, nona akan berakhir dengan menyedihkan. Tapi kalau nona menurunkan ego sedikit saja, mungkin saja suatu hari tuan Marco bosan dan melepaskan nona."
Innara ingin membalas, tetapi pernyataan itu sangatlah masuk akal. Ia jadi teringat adiknya yang ia tinggalkan di rimah, ia masih ingin bertemu dengan keluarga satu-satunya itu.
"Cobalah untuk bersabar Nona."
Karena petuah dari Lena, malam itu ketika Marco masuk ke dalam kamarnya. Menemui dirinya yang sudh telanjang bulat siap digarap, Innara tidak lagi melawan.
Ia pasrah membiarkan Marco naik ke atas tubuhnya, melakukan apapun yang pria itu ingin lakukan padanya. Sesekali menjerit karena Marco melakukannya dengan kasar.
Mengobrak-abrik miliknya dengan ganas. Lagi-lagi tidak membiarkan ia bisa tertidur malam ini, tubuhnya terhentak-hentak. Bersamaan dengan benda panjang keluar masuk dalam pangkal pahanya.
"Akhh!" Rintih Innara saat merasakan payudaranya sakit ketika Marco mengigit dengn keras.
"Aku memang menyuruhmu untuk patuh, tapi tidak diam saja. Ayo mendesah cantik. Aku tidak sedang bersetubuh dengan mayat."
Innara tidak mau, tetapi pria itu pinya banyak cara membuat ia menjerit. Dengan melesakkan penisnya dalam ke kemaluannya. Atau dengan pencapaian hebat yang ia dapatkan dari permainan jari Marco pada liangnya.
"Ahhh, ahhh. Aku tak kuattt."
"Lepaskan saja Cantik, biar dia keluar. Nikmat bukan?"
Sampai tengah malam akhirnya mereka sampai pada orgasme bersama-sama.
Penis tanpa pengaman itu menyemburkan sperma ke dalam rahimnya, Innara menangis lagi. Ia merasa sangat hina.
***
Vote dan komentar yaa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Only You Can Save Me
Romance#Matureconten #Dewasa #18+ #21+ Innara sama sekali tidak bisa berpikir jernih sejak mengetahui kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Hidup berkecukupan di sepanjang hidupnya, tak pernah menduga kini harus mencari uang sendiri. Tepat di tuj...