PROLOG

281 16 1
                                        

── ★

Dalam sunyi kelas yang dihiasi cahaya temaram sore, dua gadis remaja duduk berdampingan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dalam sunyi kelas yang dihiasi cahaya temaram sore, dua gadis remaja duduk berdampingan. Salah satu dari mereka tampak mengguratkan coretan kecil di kertas tugas, sementara yang lain terhanyut dalam dunia fiksi yang tercetak rapi di lembaran novel tua.

"Shey, lo serius jatuh cinta... sama cowok misterius itu?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir sahabatnya, gadis dengan rambut dikuncir kuda, yang sejak tadi menari-narikan pulpen hitamnya di atas meja, seolah sedang menciptakan irama diam-diam untuk menemani kejenuhan mereka.

Sheya tak langsung menjawab. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap langit-langit kelas sejenak, seolah sedang mencari jawaban yang terselip di antara cahaya yang masuk dari jendela. Novel di tangannya dibiarkan terbuka, tak lagi menarik baginya.

Pikirannya mulai mengembara, jauh dari bangku kayu yang didudukinya. Banyak hal ingin ia tanyakan tentang cowok itu, tentang sorot matanya, tentang senyap suaranya, tentang jejak langkahnya yang selalu terasa asing.

Namun anehnya, setiap kali ia berdiri di hadapan cowok itu... semua kata menguap. Lenyap. Seperti daun gugur yang terbawa angin, ringan tapi menyisakan kekosongan.

Sheya masih mengingat jelas pertemuan pertama mereka. Sore hari yang biasa saja di parkiran, berubah menjadi momen yang tak biasa. Tatapan mereka bersirobok. Dan saat itulah waktu seperti berhenti berputar.

Tatapan cowok itu.. tajam, hitam, menusuk hingga ke dasar jiwa. Sekilas, ia mengingat elang. Bukan hanya karena ketajamannya, tapi karena caranya memandang dunia. Seolah ia tak terikat pada tanah, tapi juga tak benar-benar bebas di langit.

Tak ada senyum di wajah cowok itu. Hanya datar, dingin, nyaris tak berperasaan. Apakah hidupnya benar-benar sesuram itu? pikir Sheya.

Ia ingin menyapa. Bahkan hanya untuk sekadar berkata "Hai". Tapi setiap kali niat itu muncul, lidahnya membatu. Bibirnya terkunci. Dan dadanya berdegup terlalu cepat hingga menyakitkan.

"Mikirin apa sih, Shey?" sahabatnya kembali bersuara, menyentaknya dari lamunan yang dalam.

Sheya menoleh, gadis berkacamata itu terkekeh dengan senyum pelan di wajahnya. Senyum yang berusaha menyembunyikan gelisah yang tak mampu ia ucapkan.

Kalau kalian bertanya apakah Sheya tipe gadis yang mudah jatuh cinta, jawabannya pasti tidak.
Dulu, cinta adalah hal paling asing baginya. Saat teman-temannya sibuk mencari perhatian dan cinta-cinta remaja yang berbunga-bunga, Sheya sibuk mengejar prestasi dan berlari di lorong-lorong kegiatan akademik.

Tiga tahun SMP-nya diisi oleh seminar, lomba, dan pelatihan. Ia menjadikan kesibukan sebagai benteng, dan pengetahuan sebagai pelariannya dari hal-hal yang terlalu menguras perasaan.

Dan ia tak pernah menyesalinya.
Kini, namanya harum, prestasinya diakui, dan dirinya disegani. Tapi... bahkan orang paling tangguh pun menyimpan kerinduan akan sentuhan rasa.

Maka, salahkah jika kali ini... Sheya mulai mengizinkan hatinya membuka pintu?

Salahkah jika gadis itu mulai merindukan seseorang yang bisa membuatnya jatuh, bukan karena lemah, tapi karena akhirnya... ia ingin merasakan apa yang selama ini hanya ia temukan dalam halaman novel-novel romantis?


HAPPY READING Y'ALL
⭐⭐

Shey. .Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang